4 sumber islam yang harus diketahui oleh muslim

4 sumber islam yang harus diketahui oleh muslim

Makna sumber hukum adalah persoalan polemik antara ahli ilmu tashawuf dan ahli fiqh. Ahli tashawuf  berpendapat bahwa sumber hukum, secara hakiki adalah Allah, sementara ahli fiqh berpendapat bahwa sumber hukum itu adalah Al-Qur’an sebagai dalil hukum. Senada dengan pikiran tersebut, Jaih Mubarok menegaskan bahwa: “... Sumber hukum Islam yang hakiki adalah Allah. Al-Qur’an bukan sumber hukum, tetapi dalil hukum. Pendapat ini saya ungkapkan karena saya khawatir kalau Al-Qur’an dijadikan sumber hukum akan melahirkan kecenderungan adanya pengabaian terhadap eksistensi Allah. Pandangan ini sebenarnya lebih bersifat teologis. Dengan demikian, terdapat tiga tema yang berhubungan dengan Al-Qur’an sebagai sumber hukum, Allah berfirman tanpa suara dan huruf (bi shaut wa harf) sebagai madlul, dan mushaf Al-Qur’an yang beredar di masyarakat yang ditulis dengan suara dan huruf (bi shaut wa harf) adalah dalil hukum. Apabila kita terpaksa kita mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah sumber hukum, yang dimaksud sumber disana dalam artian majazi.”
Sumber hukum yang bersifat wahyu adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, sedangkan hukum bersifat ijtihadi diantaranya adalah ijma’, qiyas, istihsan, maslalah mursalah, dan lainnya. Wahyu adalah sumber utama dan utama. Menurut Al-Ghazali, maksud wahyu sebagai sumber utama disini adalah Al-Qur’an, sementara As-Sunnah, sekalipun sifatnya wahyu, hanya berfungsi sebagai hukum penjelas atau pemberita (mukhbir) tentang hukum Allah. Adapun kehadiran ijma’ berfungsi sebagai petunjuk atau argumen (dalil) tentang eksistensi dan fungsi As-Sunnah. Disamping itu, kehadiran akal menjadi penting pula sebagai penegas mengenai tidak adanya hukum apabila tidak terdapat keterangan dari ketiga sumber hukum itu. Walaupun hukum Islam dari segi sumbernya dapat dibedakan beberapa macam, semuanya berfungsi sebagai petunjuk (dalil), tentang ada atau tidak adanya suatu hukum. Oleh karena itu, semuanya disebut sebagai dalil-dalil utama hukum (adillah al-ahkam).
a. Sumber Hukum Islam yang Muttafaq (Disepakati)
1. Al Qur’an
Secara bahasa kata اْلقُرْآنُ terambil dari kata قَرَاَ . bentuknya sepola dengan kata فُعْلَان  seperti kata اْلغُفْرَانُ. Penambahan huruf alif dan nun berfungsi untuk menunjukkan kesempurnaan. maka secara bahasa kata اْلقُرْآنُ bukan sekedar bacaan (قِرَاءةٌ), tetapi bacaan yang sempurna.
Secara istilah, Al-Qur’an ialah Kalam Allah yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat jibril dengan lafadz berbahasa Arab dengan makna yang benar sebagai hujah bagi Rasul, sebagai pedoman hidup, dianggap ibadah membacanya dan urutannya dimulai dari surat al-Fatihah dan di akhiri oleh surat an-Nas serta dijamin keasliannya.
Al-Qur’an diturunkan pertama kali di Kota Mekkah tepatnya di Gua Hira pada tahun 611 M dan berakhir di Madinah pada tahun 633 M dalam rentang waktu 22 tahun beberapa bulan. Berdasarkan terjemah Departemen Agama RI. Al-Qur’an terdiri dari 30 juz, 114 surat, 6.326 ayat, dan 324.345 huruf. Berdasarkan turunnya Al-Qur’an terbagi menjadi dua yaitu ayat Makiyah dan ayat Madaniyah. Al-Qur’an juga disebut sebagai mu’jizat. Al-Qur’an juga memiliki keotentikan dan keorisinalan yang terjamin dari mulai diturunkannya sampai sekarang, hal ini berarti bahwa tidak ada perubahan baik berupa pengurangan maupun penambahan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an. Maka tidak ada keraguan terhadap kebenaran dan keaslian Al-Qur’an.
 Al-Qur’an merupakan hujjah dan hukum-hukumnya dijadikan sebagai undang-undang yang harus diikuti dan ditaati oleh manusia karena Al-Qur’an diturunkan dari Allah SWT, disampaikan kepada manusia dengan jalan yang pasti dan tidak terdapat keraguan tentang kebenarannya tanpa ada campur tangan manusia. Hal ini mengandung arti bahwa Al-Qur’an merupakan mu’jizat yang membuat manusia tidak mampu untuk mendatangkan semisalnya.
2. As-Sunnah
Sunnah merupakan sumber hukum kedua yang muttafak (disepakati) setelah Al-Qur’an. Kata sunnah (سُنَّةُ) berasal dari bahasa Arab yang terbentuk dari kata سَنَّ, يَسُنُّ. yang artinya jalan atau cara. Adapun menurut Abu Zahra Sunnah berarti “perkataan, perbuatan dan pengakuan Nabi”.
a. Sunnah Qauliyah
Sunnah qauliyah dilihat dari jumlahnya paling banyak dibanding sunah fi’liyah dan taqririyah. Sunah qauliyah artinya ucapan Nabi dalam berbagai kondisi yang didengar oleh sahabat dan disanpaikan kepada orang lain.
Dalam sunah qauliyah terdapat permasalahan yang tampaknya perlu dipertegas karena ada dua bentuk yang dapat keluar dari lisan Nabi. Pertama bisa berupa perkataan Nabi (sunah qauliyah) bisa juga berupa ayat al-Qur’an untuk membedakan apakah itu qauliyah atau al-Qur’an maka dapat diteliti, jika benar yang keluar dari lisan Nabi itu al-Qur’an, maka biasanya Nabi menyuruh sahabatnya untuk menghafal, menulis, dan mengurutkannya sesuai denganpetunjuk Allah. Jika keluar lisan Nabi ini berupa sunah qauliyah, maka nabi melarang untuk menuliskannya karena khawatir akan bercampur dengan al-Qur’an.
b. Sunnah Fi’liyyah
Semua perbuatan dan tingkah laku Nabi yang dilihat dan diperhatikan  oleh sahabat Nabi semuanya disebut sunah fi’liyah. Perbuatan Nabi bisa beraneka ragam bentuknya. Hal ini, dapat dilihat dari kedudukan Nabi sebagai manusia biasa dan sebagai utusan Allah.

Pertama, perbuatan Nabi yang merupakan kebiasaan yang lumrah dikerjakan oleh manusia pada umumnya seperti cara makan dan minum, berdiri, duduk, cara berpakaian, memelihara jenggot dan mencukur kumis. Kesemuanya merupakan tabiat Nabi sebagai manusia biasa. Menurut sebagian ulama bahwa kebiasaan kemanusiaan Nabi seperti itu dapat berdampak hukum, yaitu sebagai sunah untuk diikuti. Tetapi sebagian ulama yang lain, mengatakan bahwa kebiasaan-kebiasaan Nabi seperti itu tidak berdampak hukum dengan demikian tidak harus diikuti.

Kedua, perbuatan Nabi yang hanya wajib dilakukan oleh Nabi tetapi tidak wajib bagi umatnya seperti Nabi wajib shalat Dhuha, tahajud, dan berqurban. Bagi umatnya perbuatan-perbuatan tersebut tidaklah wajib. Nabi boleh kawin lebih dari empat, namun bagi umatnya boleh lebih dari empat.
Ketiga, perbuatan Nabi yang merupakan penjelasan hukum yang terkandung dalam al-Qur’an seperti tentang cara shalat, puasa, haji, jual-beli, dan utang piutang. Maka semua perbuatan itu berdampak kepada pembentukan hukum bukan hanya bagi Nabi tetapi juga bagi umatnya.
c. Sunnah Taqririyyah
Maksudnya adalah sikap Nabi terhadap suatu kejadian yang dilihatnya berupa perbuatan dan ucapan sahabat. Sikap Nabi itu adakalnya dengan cara mendiamkannya, tidak menunjukkan tanda-tanda mengingkari atau menyetujuinya atau melahirkan anggapan baik terhadap perbuatan itu dianggap sebagai perbuatan Nabi yang hukumannya boleh dilakukan. Contoh, ketika ketika Nabi mendiamkan orang yang memakan binatang dhab (sebangsa biawak). Dengan sikap diam Nabi itu berarti boleh hukumnya makan daging tersebut. Karena seandainya haram niscaya Nabi tidak diam, pasti beliau melarangnya. Contoh lain, ketika Nabi menepuk dada Muadz bin Jabal setelah diutus oleh Nabi ke negeri Yaman yang menandakan bahwa Nabi membenarkan semua yang dikatakan oleh Muadz bin Jabal seraya berkata “segala puji hanya milik Allah yang telah meberikan pertolongan kepada utusan Rasul-Nya”.
3. Ijma’
Secara bahasa kata ijma’ berasal dari bahasa Arab, yaitu bentuk masdar dari kata اَجْمَعَ، يُجْمِعُ، اِجْمَاعُ , yang memiliki banyak arti diantaranya: ketetapan hati atau keputusan untuk melakukan sesuatu dan sepakat. Adapun secara istilah, Ijma’ adalah “kesepakatan semua imam mujtahid pada suatu masa setelah wafatnya Rasul terhadap hukum syara’ mengenai suatu kasus”. Dari definisi tersebut ada beberapa kata kunci yang harus diperjelas :
a. Semua Mujtahid, artinya bahwa ijma’itu harus disepakati semua mujtahid. Tidak ada diantara mereka yang menolaknya.
b. Sesudah nabi wafat, artinya bahwa pada masa Nabi masih hidup tidak ada ijma’.Karena segala permasalahan hukum dapat dijawab langsung oleh Nabi.
c. Hukum Syara’, artinya kesepakatan itu hanya terbatas pada masalah hukum amaliah (syara’) dan tidak masuk kepada masalah akidah.
Para ulama sepakat bahwa ijma’ merupakan salah satu sumber hukum dalam islam. Ia menempati urutan ketiga setelah al-Qur’an dan sunah. Tak ada ulama yang menolak keberadaan ijma sebagai sumber hukum. posisi ijma’ sebagai sumber hukum didasari oleh nas al-Qur’an surat an-Nisa ayat 59:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ .... (٥٩)
  lafal ulil amri mengandung dua pengertian sebagaimana tafsir Ibnu Abbas:
1. penguasa dunia sperti raja, presiden, atau umara.
2. penguasa agama yaitu para ulama mujtahid dan ahli fatwa agama.
4. Qiyas
Dilihat dari segi bahasa, kata اْلقِيَاسُ berasal dari bahasa Arab, bentuk masdar dariقَاسُ, تَقِيْسُ، قِيَاسًا  artinya mengukur dan membandingkan sesuatu dengan semisalnya.
Adapun menurut istilah syara’, adalah “Menghubungkan suatu perkara yang tidak ada hukumnya dalam nas dengan perkara lain yang ada nas hukumnya karena ada persamaan illat”. Dari definisi diatas dapat ditarik beberapa poin penting :
a. Ada dua kasus yang mempunyai illat yang sama.
b. Kasus yang lama sudah ada hukumnya berdasarkan nas. Adapun hukum yang baru (cabang) belum ada nasnya.
c. Antara hukum yang lama dan hukum yang baru masing-masing memiliki sebab yang yang sama. 
Dalam hal penerimaan ulama terhadap qiyas sebagai dalil hukum syara’, Muhammad Abu Zahrah membagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Jumhur Ulama menjadikan qiyas sebagai dalil hukum syara’. mereka menggunakan qiyas dalam hal-hal tidak terdapat hukumnya dalam nash al-Quran, sunnah, dan ijma’ ulama. mereka menggunakan qiyas secara tidak berlebihan dan tidak melampaui batas kewajaran.
2. Kelompok ulama Zhahiriah dan Syi’ah Imamiyah yang menolak penggunaan qiyas secara mutlak. zahiriah juga menolak penemuan ‘illat atas suatu hukum dan menganggap tidak perlu mengetahui tujuan ditetapkannya suatu hukum syara’.
3. Kelompok yang meggunakan qiyas secara luas dan mudah. mereka pun berusaha mengabungkan dua hal yang tidak terlihat kesamaan illat diantara keduanya, kadang-kadang memberi kekuatan yang lebih tingi terhadap qiyas, sehingga qiyas itu dapat membatasi keumuman sebagian ayat al-Qur’an atau sunnah.

Advertisement

Baca juga:

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments