Amar ma'ruf nahi munkar dan bagaimana hukumnya

Amar ma'ruf nahi munkar dan bagaimana hukumnya

Pengertian Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Secara harfiah Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar berarti menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.

Secara etimologi ma’ruf berarti yang dikenal sedangkan munkar adalah suatu yang tidak dikenal. Sementara itu pendapat dari beberapa tokoh mengenai Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar adalah:

1. Muhammad Abduh; Ma’ruf berarti apa yang di kenal (baik) oleh akal sehat dan hati nurani. Sedangkan Munkar adalah sesuatu yang tidak di kenal baik oleh akal maupun hati nurani.

2. Ali As-Shabuni mendevinisikan ma’ruf dengan apa yang diperintahkan syara’ dan dinilai baik oleh akal sehat, sedangkan munkar adalah apa yang dilarang oleh syara’ dan dinilai buruk oleh akal sehat.

3. Al-Ishfahani berpendapat, ma’ruf adalah sebuah nama untuk semua perbuatan yang dikenal baiknya melalui akal dan syara’, dan munkar adalah apa yang ditolak oleh keduanya.

Dari pendapat beberapa tokoh tersebut dapat disimpulkan bahawa Ma’ruf adalah setiap pekerjaan atau urusan yang diketahui dan dimaklumi berasal dari agama Allah dan syariat’-Nya dan dinilai baik oleh akal sehat dan hati nurani.

Sedang Munkar adalah setiap pekerjaan yang tidak bersumber dari agama Allah dan syariat’-Nya dan dinilai buruk oleh akal dan hati nurani atau Setiap pekerjaan yang dipandang buruk oleh syara’.

Hukum Amar Ma’ruf Nahi Munkar

عن أبى سعيد الخدري رضى الله عنه قال: سمعت رسول الله ص.م. يقول: من رأى منكم منكرا فليغير بيده فان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الايمان
Artinya: "Dari Abu Sa’id Al Khudri r.a berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Riwayat Muslim)

Asbabul Wurud :
Rasulullah bersabda “ siapa yang menyaksikan”, yang di maksud oleh nabi adalah siapa saja yang mengetahuinya, meskipun belum melihat dengan mata kepalanya. Jadi mencakup orang yang melihat dengan matanya langsung atau mendengar dengan telinganya, atau mendapat kabar yang meyakinkan dari orang lain. Maksud menyaksikan disini bukan dengan mata kepala saja,. Meskipun zhahir hadist menunjukkan hal itu hanya penglihatan dengan mata kepala saja, namun selama lafazhnya mencakup makna yang lebih umum maka bisa di maknai dengan umum.

Nabi Muhammad saw telah memberikan perintah kepada segenap ummat untuk mengubah kemungkaran apabila ia menyaksikannya, dan perlu di katakan: setiap orang memiliki tugas untuk melakukannya, yang paling utama adalah jika kita mengubahnya dengan menggunakan kekuaasaan yang kita miliki, kita harus menggunakan kekuasaan tersebut untuk menegakkan kebenaran apabila kita tidak mau melakukan yang demikian maka usahakanlah untuk mengubahnya dengan menggunakan nasihat-nasihat berupa ucapan atau lisan.

Tapi jika ternyata tidak mampu mengubahnya dengan nasehat maka kita harus membentengi diri kita untuk tidak terlibat dalam kemungkaran tersebut. Artinya, hati kita harus senantiasa berharap untuk dapat mengubah kemungkaran itu menjadi kebajikan dan jangan sampain membenarkan kemungkaran tersebut. Meskipun demikian, nabi  mengisyaratkan bahwa berusaha mengubah kemungkaran hanya dengan hatinya menandakan tingkat iman seseorang masih lemah sekali.Semua ulama sepakat bahwa memberantas kemungkaran hukumnya wajib, karena setiap muslim wajib memberantas kemungkaran yang ada sesuai dengan kemampuan masing-masing, baik dengan tangan, lisan atau hatinya.

a. Memberantas kemungkaran dengan hati.
Mampu mengetahui hal-hal yang ma’ruf dan mengingkari kemungkaran melalui hati merupakan fardlu ‘ain bagi setiap individu muslim, dalam kondisi apapun. Barangsiapa yang tidak dapat membedakan antara kebaikan dan kemunkaran, maka ia akan celaka. Dan barangsiapa mengetahui kemunkaran tetapi tidak mengingkarinya, maka ini pertanda pertama hilangnya iman dari hati.

b. Memberantas kemungkaran dengan tangan dan lisan
Dalam masalah ini terdapat dua hukum:

– Fardlu kifayah, jika kemunkaran diketahui oleh lebih dari satu orang dari masyarakat muslim, maka hukum memberantas kemunkaran tersebut adalah fardlu kifayah. Artinya jika sebagian mereka, meskipun hanya satu orang telah menunaikan kewajiban tersebut, maka kewajiban itu telah gugur bagi lainnya. Namun jika seorang pun tidak ada yang melaksanakan kewajiban itu, maka semua orang yang sebenarnya mampu melaksanakannya mendapat dosa.

– Fardlu ‘ain, hukum ini berlaku bagi seseorang [sendirian] yang mengetahui kemunkaran, dan ia mampu untuk memberantas kemunkaran tersebut. Atau jika yang mengetahui kemunkaran tadi masyarakat banyak. Namun hanya satu orang yang mampu memberantasnya. Dan dua kondisi ini, hukum pemberantasan kemunkaran bagi orang tersebut adalah fardlu ‘ain.

Advertisement

Baca juga:

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments