Hukum ziarah kubur dan dalilnya

Hukum ziarah kubur dan dalilnya

Pada masa awal Islam, Rasullah SAW memang melarang umat Islam untuk melakukan ziarah kubur, karena khawatir umat Islam akan menyembah kuburan. Setelah akidah umat Islam kuat, dan tidak ada kekhawatiran untuk berbuat syirik, Rasullah SAW membolehkan para sahabatnya untuk melakukan ziarah kubur. Rasullah SAW bersabda :
عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَتِ اْلقُبُوْرِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِى زِيَارَةِ قَبْرِ أُمّهِ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُذَ كِّرُ اْلَاخِرَةَ ( رواه الترمذى , . ٩٧ )
“Dari Buraidah, ia bekata, Rasullah SAW bersabda, “Saya pernah melarang kamu berziarah kubur. Tapi sekarang, Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang, berziarahlah! Karena perbuatan itu dapat mengingatkan kamu pada akhirat”. (HR. Al-Tirmidzi[970]).

Kemudian kaitannya dengan hadits Nabi yang secara tegas menyatakan larangan perempuan berziarah kubur :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ : لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ ( رواه احمد, ٨۰٩٥)
“Dari Abu Hurairah RA bahwa sesungguhnya Rasullah SAW melaknat wanita yang berziarah kubur”. (HR. Ahmad [8095]).

Menyikapi hadits ini ulama menyatakan bahwa larangan iu telah dicabut menjadi sebuah kebolehan berziarah baik bagi laki-laki dan perempuan. Imam al-Tarmidzi menyebutkan dalam kitab al-Sunan :
“Sebagian Ahli ilmu mengatakan bahwa hadits itu diucapkan sebelum Nabi SAW membolehkan untuk melakukan ziarah kubur. Setelah Rasullah SAW membolehkannya, laki-laki dan perempuan tercakup dalam kebolehan itu”. (Sunan al-Tirmidzi, [976]).

Ketika berziarah, seseorang dianjurkan untuk membaca al-Qur’an atau lainnya. Sebagaimana sabda Rasullah SAW :
عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَاَلَ . قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : اِقْرَؤْوْا عَلَى مَوْتِا كُمْ يَسٍ (رواه أبو داود, ٢٧١٤)
“Dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata, Rasullah SAW bersabda, “Bacalah surat Yasin pada orang-orang mati di antara kamu”. (HR. Abu Dawud [2714]).

Dalil-dalil ini membuktikan bahwa ziarah kubur itu memang dianjurkan. Terlebih jika yang diziarahi itu adalah makam para wali dan orang shaleh. Ibnu Hajar al-Haitami pernah ditanya tentang berziarah ke makam para wali pada waktu tertentu dengan melakukan perjalanan khusus ke makam mereka. Beliau menjawab : berziarah ke makam wali adalah ibadah yang disunnahkan. Demikan pula dengan perjalanan ke makam mereka”. (Al –Fatwa al-Kubra, Juz II, Hal 24).
Berziarah ke makam wali dan orang-orang shaleh telah menjadi tradisi para ulama salaf. Di antaranya adalah Imam al-Syafi’i mencontohkan berziarah ke makam Laits bin Sa’ad dan membaca al-Qur’an sampai khatam di sana (al-Dzakhirah al-Tsaminah, hal. 64). Bahkan diceritakan bahwa Imam Syafi’i jika ada hajat, setiap hari beliau berziarah ke makam Imam Abu Hanifah. Seperti pengakuan beliau dalam riwayat yang shahih :
“Dari Ali bin Maimun, berkata : “Aku mendengar Imam al-Syafi’i berkata, “Aku selalu bertabarruk dengan Abu Hanifah dan berziarah mendatangi makamnya setiap hari. Apabila aku memiliki hajat, maka aku shalat dua raka’at, lalu mendatangi makam beliau, dan aku mohon hajat itu kepada Allah SWT di sisi makamnya, sehingga tidak lama kemudian hajatku terkabul”. (Tarikh Baghdad, Juz 1, hal. 123).








Advertisement

Baca juga:

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments