Hukum Onani Dalam Syariat Islam, Boleh Atau Tidak?

Hukum Onani Dalam Syariat Islam, Boleh Atau Tidak?

Kata Onani dalam bahsa Arab yaitu Istimna yang artinya dalah usaha untuk mengeluarkan sperma atau mani untuk mendapatkan kepuasan tersendiri. Onani sendiri merupakan salah satu aktivitas yang banyak dilakukan oleh kalangan anak muda untuk memenuhi hasyrat mereka yang telah terpendam dan tidak mampu disalurkan secara jalur yang sah sehingga mengambil jalan alternatif yaitu dengan onani. Onani sendiri tidak hanya dilakukan oleh laki-laki saja namun juga dilakukan oleh kaum wanita, namun hal ini jarang dilakukan oleh wanita, kebanyakan onani dilakukan oleh laki-laki. Bahkan menurut penelitian 99% seorang laki-laki pernah melakukan hal ini.

Onani/Masturbasi hukumnya haram dikarenakan merupakan istimta’ (meraih kesenangan/ kenikmatan) dengan cara yang tidak Allah Subhanahu wa Ta’ala halalkan. Allah tidak membolehkan istimta’ dan penyaluran kenikmatan seksual kecuali pada istri atau budak wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6)

Artinya : “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, [6] kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [QS Al Mu’minuun: 5 – 6]

Jadi, istimta’ apapun yang dilakukan bukan pada istri atau budak perempuan, maka tergolong bentuk kezaliman yang haram. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi petunjuk kepada para pemuda agar menikah untuk menghilangkan keliaran dan pengaruh negative syahwat.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu menikah, maka hendaklah dia menikah karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Sedang barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa itu akan menjadi tameng baginya”. [Hadits Riwayat Bukhari 4/106 dan Muslim no. 1400 dari Ibnu Mas’ud]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kita petunjuk mematahkan (godaan) syahwat dan menjauhkan diri dari bahayanya dengan dua cara : berpuasa untuk yang tidak mampu menikah, dan menikah untuk yang mampu.

Petunjuk beliau ini menunjukkan bahwa tidak ada cara ketiga yang para pemuda diperbolehkan menggunakannya untuk menghilangkan (godaan) syahwat. Dengan begitu, maka onani/masturbasi haram hukumnya sehingga tidak boleh dilakukan dalam kondisi apapun menurut jumhur ulama.

Itulah penjelasan mengenai hukum onani menurut syariat islam, Semoga kita terhindar dari pernuatan onani. Dan bila sudah terlanjur melakukan maka segeralah untuk bertaubat kepada Allah SWT. Dan semoga bermanfaat
Advertisement
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments