Showing posts with label informasi. Show all posts
Showing posts with label informasi. Show all posts

February 21, 2018

Pengertian puasa sunah dan macam-macamnya beserta dalilnya

Puasa Sunnah adalah puasa puasa yang dalam pelaksanaanya tidak diwajibkan, akan tetapi sangat dianjurkan dan waktu pelaksanaanya juga pada waktu-waktu tertentu. Namun ada juga puasa sunnah yang dapat dilaksanakan pada waktu-waktu kapan saja.

Prinsip  puasa sunnah, yaitu tidak boleh berpuasa secara berturut-turut tanpa berbuka sama sekali. Selain itu, pahala puasa juga hanya Allah SWT yang mengetahuinya.Adapun puasa sunnah adalah amalan yang dapat melengkapi kekurangan amalan wajib. Selain itu pula puasa sunnah dapat meningkatkan derajat seseorang menjadi wali Allah yang terdepan (as saabiqun al muqorrobun) dan lewat amalan sunnah inilah seseorang akan mudah mendapatkan cinta Allah.

Akan tetapi dalam praktiknya puasa sunah sendiri lebih sulit dilakukan dari pada puasa wajib, sebab kalau puasa wajib kita merasa terpaksa dalam menjalankanya. Namun apapun bentuk puasa baik itu sunah maupun wajib jika sudah di niati sebaik mungkin pasti akan terlaksana, karena semua itu kembali dari niat masing-masing orang.

Adapun macam-macam puasa sunah adalah sebagai berikut :

1. Puasa 6 hari dalam bulan syawwal

 Puasa sunnah yaitu puasa yang dilaksanakan setalah hari raya idul fitri atau pada tanggal 2 syawwal, yang dilakukan secara berurutan atau secara acak selama masih didalam bulan syawwal.Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ.
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian dikuti dengan berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun.”

Namun Imam Maliki dalam hal ini berbeda pendapat,menurutnya puasa syawal termasuk hal yang makruh.hal ini di khawatirkan masyarakat berkeyakinan bahwa puasa itu dianggap atau termasuk puasa ramadhan,sehingga mereka mewajibkan diri mereka sendiri dan menyalahkan orang yang tidak mengerjakanya.Jadi anggapan makruh ini adalah syadz ad-dzara`i(tindakan pencegahan).Namun bagaimanapun hadis shahih tentang puasa syawal ini lebih kuat dibanding pendapat imam maliki.
2. Puasa Arafah

Diriwayatkan dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, ia berkata :

,سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ j عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ. وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَضِيَةَ
.
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa hari ‘Arafah, beliau menjawab, ‘Ia menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan yang akan datang.’ Beliau juga ditanya tentang puasa hari ‘Asyura, beliau menjawab, ‘Ia menghapus dosa-dosa tahun lalu.”

Yang diamaksud puasa arafah adalah puasa pada tanggal 9 dzulhijjah.puasa ini terbilang sebagai puasa paling afdhal karena pada hari itu jamaah haji sedan meakukan wukuf di padang arafah dengan mengenakan pakaian ihram,menghususkan dirinya untuk beribadah kepada Allah.
Menurut jumhur ulama puasa arafah hanya di sunnahkan kepada orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji.Sedangkan orang yang sedang melakukan badah haji justru di makruhkan,karena dikhawatirkan akan mengurangi semangat mereka pada saat wukuf.

3. Puasa hari ‘Asyura (tanggal 10 Muharram)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيْضَةِ صَلاَةُ اللَيْلِ
.
“Sebaik-baik puasa setelah puasa bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, bulan Muharram dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam.”
Zaman dahulu puasa ini dikerjakan oleh orang-orang yahudi.Ketika rasulullah datang ke madinah beliau juga menggikuti orang-orang yahudi berpuasa,bahkan menyuruh sahabat untuk melakukan juga.Namun utuk membedakan dengan orang yahudi Rasulullah menyuruh untuk melakukan puasa di hari sebelumnya juga yaitu tanggal 9 dzulhijjah.

4. Puasa bulan Sya’ban

   Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan :

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari no. 1970 dan Muslim no. 1156)
Rahasia di balik puasa ini sebagaimana di jelaskan oleh riwayat yang bersumber dari usamah bin zaid yang mengatakan:”Wahai Rasulullah aku belum pernah melihat engkau berpuasa satu bulan sebagai mana engkau berpuasa di bulan sya`ban.Nabi menjawab:”bulan ini adah bulan yang di apit oleh bulan rajab dan ramadhan yang dilalaikan banyak orang .Ia adalah bulan yang padanya di angkat segala amalku,karenanya aku berpuasa”.

5. Puasa hari Senin dan Kamis

Puasa hari Senin dan Kamis adalah puasa sunnah yang dilakukan setiap hari senin dan kamis. Afdhalnya puasa senin kamis ini yaitu berpuasa pada hari senin dan dikuti dengan puasa pada hari kamisnya.Nabi sangat bersungguh sungguh dalam melakukan puasa senin dan kamis.Hal ini memang karena hari tersebut adalah saat amal manusia diserahkan kepada Allah.
Menurut riwayat lain pada hari sein dan kamispintu pintu surga dibuka.Allah mengampuni setiap dosa hamba yang tidak mengandug syirik dan ada unsur permusuhan anara dua muslim.
Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berpuasa pada hari Senin dan Kamis, manakala beliau ditanya tentang hal tersebut, beliau menjawab:
إِنَّ أَعْمَالَ اْلعِبَادِ تُعْرَضُ يَوْمَ الإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ.
“Sesungguhnya amal-amal hamba dihadapkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis.”

6. Puasa Tiga Hari di Setiap Bulan

Diantara sekian banyak puasa ada puasa tiga hari tiap-tiap bulan yang disebut Ayam al-biydh .Allah memberikan balasan satu kebaikan denga sepuluh keabaikan.jadi tiga hari puasa sama halnya puasa tigapuluh hari.
Berdasarkan riwayat dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا أَبَا ذَرٍّ, إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَةَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ.
“Wahai Abu Dzarr, jika engkau ingin puasa tiga hari dari suatu bulan, maka puasalah pada hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas.”
Anjuran puasa tiga hari tiap-tiap bulan ini dalam masing masing riwayat berbeda beda.Hal ini menegaskan bahwa adanya puasa ini tidak kaku,sehingga setiap muslim boleh berpuasa di setiap bulan baik awal bulan,pertengahan maupun akhir bulan.

Sebenarnya masih banyak lagi macam-macam puasa sunah, dan insya Allah akan dijelaskan pada artikel berikutnya, demikian pembahasan mengenai macam-macam puasa sunah dan semoga bermanfaat bagi khalayak umum. Amien..

February 20, 2018

7 macam darah istihadoh yang wajib diketahui wanita

Sebelum membahas mengenai macam-macam darah istihadaoh alangkah baiknya sedikit mengulas tentang pengertian istihadoh itu sendiri. Istihadoh secara bahasa berarti mengalir, sedangkan menurut istilah istihadoh adalah darah yang keluar dari Rahim perempuan selama masih dalam waktunya haid dan nifas. Sedangkan perempuan yang mengeluarkan darah istihadoh disebut mustahadoh.
Darah kuat (dihukumi haid)
Darah lemah (dihukumi istihadoh)
Adapun macam-macam darah  istihadoh yaitu ada 7 macam :


1. Mubtadiah mumayizah
Yang disebut mubtadiah mumayizah yaitu seorang perempuan yang pertama kali haid dan bisa membedakan apa itu warna-warna darah yang keluar.

2. Mubtadiah ghoiru mumayizah
Yaitu seorang perempuan  yang pertama kali haid dan tidak bisa membedakan macam-macam warna darah.

3. Mu’tadah mumayizah
Yaitu seorang perempuan yang sudah pernah haid dan suci, dan perempuan tersebut  bisa membedakan warna-warna darah.

4. Mu’tadah ghoiru mumayizah dzakiroh liadatiha qodron wawaktan
Yaitu seorang perempuan yang sudah pernah haid dan suci akan tetapi tidak bisa membedakan warna-warna darah namun ingat lama serta awal keluarnya darah haid.

5. Mu’tadah ghoiru mumayizah nasiyan liadatiha qodron wawaktan
Yaitu seorang perempuan yang sudah pernah haid dan suci akan tetapi tidak bisa membedakan warna-warna darah dan dia tidak ingat lama serta awal keluarnya darah haid (lupa semua antara lamanya haid dan keluarnya kapan)

6. Mu’tadah ghoiru mumayizah dzakirot lil qodri dunal wakti
Yaitu seorang perempuan yang sudah pernah haid dan suci akan tetapi hanya ingat lamanya haid dan tidak ingat kapan mulainya darah haid tersebut.

7. Mu’tadah ghoiru mumayizah dzakiroh lil wakti dunal qodri
Yaitu seorang perempuan yang sudah pernah haid dan suci akan tetapi hanya ingat mulainya haid dan tidak ingat lamanya darah haid yang keluar.

Semua macam istihadoh yang ada 7macam tersebut mempunyai hukum sendiri-sendiri yang sangat perlu kita pelajari bahkan wajib bagi seorang perempuan untuk mempelajarinya, agar bisa membedakan antara darah haid dan istihadoh. Mengenai hukum-hukum istihadoh antara 1-7 insya allah akan di bahas pada artikel yang selanjutnya. Semoga bermanfaat. Amienn…

February 18, 2018

Cara Benar Mencuci Benda yang Terkena Najis

Najis adalah suatu benda yang harus dibersihkan ketika akan melakukan suatu ibadah. Karena kalau pakaian atau badan kita terkena najis maka ibadah kita tidak akan diterima oleh Allah SWT.

Najis sendiri ada macam-macamnya, dan tata cara mensucikanya pun berbeda-beda. Banyak diantara kita yang masih awam mengenai tata cara mencuci benda yang terkena najis yang baik dan benar.

Untuk melakukan kaifiat mencuci benda yang terkena najis, maka baiklah diterangkan bahwa najis terbagi atas tiga bagian :


1. Najis mughallazhah (tebal), yaitu anjing. Kaifiat mencuci benda yang kena najis ini, hendaklah dibasuh tujuh kali, satu kali dari padanya hendaklah airnya dicampur dengan tanah. Sabda Rasulullah SAW.
 
طَهُوْرُاِنَاءِاَحَدِكُمْ اِذَاوَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ اَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ اُوْلَاهُنَّ بِالتُّرَابِ. (رواه مسلم)

“Cara mencuci bejana seseorang dari kamu, apabila dijilat anjing hendaklah dibasuh tujuh kali, salah satunya hendaklah dicampur dengan tanah”. (HR. Muslim)

2. Najis mutawassithah (pertengahan), yaitu najis yang lain dari pada kedua macam yang tersebut diatas. Najis pertengahan ini terbagi atas dua bagian :

a. Najis hukmiah, yaitu yang kita yakini adanya tetapi tidak nyata zat, bau, rasa, dan warna, seperti kencing yang sudah lama kering, sehingga sifat-sifatnya telah hilang. Cara mencuci najis ini cukup dengan mengalirkan air diatas benda yang terkena itu.

b. Najis ‘ainiyah, yaitu najis yang masih ada zat, warna, rasa, dan baunya, terkecuali warna atau bau yang sangat sukar menghilangkannya, sifat ini dimaafkan. Cara mencuci najis ini hendaklah dengan menghilangkan zat, rasa, warna, dan baunya.


3. Najis mukhaffafah (ringan), seperti kencing anak laki-laki ynag belum makan makanan selain air sus ibu. Kaifiat mencuci benda yang terkena najis ini memadai dengan memercikan air atas benda itu meskipun tidak mengalir. Adap pun kencing anak perempuan yang belum makan selain air susu ibu, kaifiat mencucinya hendaklah dibasuh sampai air mengalir diatas benda yang kena najis itu, dan hilang zat najis dan sifat-sifatnya, mencuci air kencing orang dewasa.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
 ُغْسَلُ مِنْ بِوْلِ الْجَارِيَّةِ وَيُرَشُ مِنْ بَوْلِ الْغُلَامِ

“Kencing kanak-kanak perempuan dibasuh dan kencing kanak-kanak laki-laki diperciki”. (HR Tirmidzi)

Hadist lain

اِنَّ اُمَّ قَيْسٍ جَاءَتْ بِاِبْنِ لَهَاصَغِيْرٍلَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ فَاَجْلَسَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِىْ حِجْرهِ فَبَالَ عَلَيْهِ فَدَعَـابِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ- (رواه الشيخان)
 Artinya :
"Sesunggunya ummu Qais telah datang kepada Rasulullah SAW beserta bayi laki-lakinya yang belum makan selain ASI. Sesampainya di depan Rasulullah, neliau dudukan anak itu si pangkuan beliau, kemudian beliau dikencingninya, kemudian beliau meminta air, lantas beliau percikkan air itu pada anak tadi, tetapi beliau tidak membasuh kencing itu" (HR Bukhari Muslim)


Itulah beberapa cara mengenai cara mencuci benda yang terkena najis, mulai dari najis yang berat sampai najis yang ringan. Semoga bermanfaat

February 17, 2018

6 Manfaat Tahlil Yang Jarang di Ketahui

Pengertian tahlil- Tahlil adalah mashdar dari hallala yuhallilu yang secara harfiah mempunyai makna: istadda artinya menjadi sangat, farikha artinya gembira, sabakha artinya mensucikan dan lailahaillallah yang artinya mengucapkan laailaahaillallah.

Menurut istilah adalah rangkaian bacaan yang meliputi bacaan beberapa ayat al-Quran, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, shalawat dan bacaan-bacaan lain yang sudah tidak asing lagi bagi kebanyakan penduduk indonesia. Jadi dalam prespektif ilmu balaghoh, istilah tahlil dengan serangkaian bacaan-bacaan seperti di atas adalah termasuk majaz mursal yang ‘alaqohnya min ithlaqi juz wa urida bihi kul (menyebutkan sebagiannya saja tetapi yang dimaksudkan adalah seluruh rangkaian bacaan-bacaan tersebut).

Dari sekian makna harfiah di atas maka terlahirlah makna yang dimaksudkan dalam pengertian tahlil dalam kajian ini. Dengan demikian tahlil adalah bacaan laailahaillallah dengan disertai  bacaan-bacaan tertentu yang mengandung fadhilah dan pahala bacaannya disampaikan kepada mayit muslim.
Dalam bacaan tahlil yang ada, maka terdapat serangkaian ayat al-Quran dan kalimat thoyyibah sebagai berikut:

1. Surat al-Ikhlas
2. Surat al-Alaq
3. Surat an-Nas
4. Surat al-Fatikhah
5. Permulaan QS. a-Baqarah
6. Ayat kursi
7. Istighfar
8. Tahlil (laailaahaillallah)
9. Tasbih
10. Sholawat nabi
11. Doa yang diakhiri juga dengan surat al-Fatikhah

Asal-usul tahlil

Sebelum Islam masuk ke Indonesia, telah ada berbagai kepercayaan yang dianut oleh sebagian besar penduduk tanah air ini, diantara keyakinan-keyakinan yang mendominasi saat itu adalah animisme dan dinamisme. Diantara mereka meyakini nahwa arwah yang telah dicabut dari jazadnya akan gentayangan di sekitar rumah selama tujuh hari, kemudian setelahnya akan meninggalkan tempat tersebut dan akan kembali pada hari ke empatpuluh, hari ke seratus, hari ke seribu atau mereka-meraka meyakini bahwa arwah akan datang setiap tanggal dan bulan dimana dia meninggal ia akan kembali ke tempat tersebut, dan keyakinan seperti ini masih melekat kuat di hati kalangan awam di tanah air ini sampai hari ini.

Sehingga masyarakat pada saat itu ketakutan akan ganggguan arwah tersebut dan membacakan mantra-mantra sesuai keyakinan mereka. Setelah islam masuk di bawa oleh para ulama yang berdagang ke tanah air ini, mereka memandang bahwa ini adalah suatu kebiasaan yang menyelisih syari’at Islam, lalu mereka berusaha menghapusnya dengan perlahan, dengan cara memasukkan bacaan-bacaan berupa kalimat-kalimat thoyyibah sebagai pengganti mantra-mantra yang tidak dibenarkan menurut ajaran Islam dengan harapan supaya mereka bisa berubah sedikit demi sedikit dan meninggalkan acara tersebut menuju ajaran Islam yang murni dan benar.

Akan tetapi sebelum tujuan akhir ini terwujud, dan acara pembacaan kalimat-kalimat thoyyibah ini sudah menggantikan bacaan mantra-mantra yang tidak sesuai dengan ajaran islam, para ulama yang bertujuan baik ini meninggal dunia, sehingga datanglah generasi selanjutnya yang mereka ini tidak mengetahui tujuan generasi awal yang telah mengadakan acara tersebut dengan maksud untuk meninggalkannya secara perlahan. Perkembangan selanjutnya datanglah generasi setelah mereka dan demikian selanjutnya, kemudian pembacaan kalimat-kalimat thoyyibah ini mengalami banyak perubahan baik penambahan atau pengurangan dari generasi ke generasi, sehingga kita jumpai acara tahlilan di suatu daerah berbeda dengan prosesi tahlilan di tempat lain sampai hari ini.

Hadits diperbolehkannya tahlil

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ اْلخٌدْرِيِّ قَالَ رَسُوْلُ اللِه : لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ اْلمَللَا ئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الَّرحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ 
 الَّسكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم, ٤٨٦٨)

“Dari Abi Sa’id al-Khudri, ia berkata, Rasullah SAW bersabda, “ Tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berdzikir kepada Allah SWT kecuali mereka akan dikelilingi malaikat, dan Allah SAW akan memberikan rahmat-Nya kepada mereka, memberikan ketenangan hati dan memujinya di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya”. (HR.al-Muslim [4868]).

Manfaat Tahlil

Ritual tahlilan dan sejenisnya terbukti memberikan banyak manfaat, K.H. Muhyiddin Abdusshomed, pengasuh pondok pesantren Nurul Islam Jember, mengemukakan setidaknya ada enam manfaat dari ritual tahliltersebut.

1. Sebagai usaha bertaubat kepada Allah SWT untuk diri sendiri dan saudara yang telah meninggal dunia.

2. Mempererat tali persaudaraan antara sesama, baik yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Sebab sejatinya ukhuwah islamiyah itu tidak terputus karena kematian.

3. Untuk mengingat bahwa akhir dari kehidupan dunia ini adalah kematian, yang setiap jiwa tidak akan terlewati.

4. Di tengah hiruk pikuk dunia, manusia yang selalu bergelut dengan materi tentu memerlukan dzikir. Tahlil adalah sebuah ritual yang bisa dikatakan sebagai majelis dzikir karena di dalamnya dibaca berbagai ayat al Quran.

5. Tahlilan sebagai salah satu media dakwah yang efektif di dalam penyebaran agama Islam. Di dalam tahlilan seseorang pasti membaca kalimat laailaahaillallah.

6. Sebagai manifestasi dari rasa cinta sekaligus penenang yang sedang dirundung duka cita.

Itulah beberapa manfaat tahlil yang perlu kita ketahui, ternyata besar juga manfaatnya baik itu bagi sendiri maupun orang yang sudah meninggal.

Amar ma'ruf nahi munkar dan bagaimana hukumnya

Pengertian Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Secara harfiah Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar berarti menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.

Secara etimologi ma’ruf berarti yang dikenal sedangkan munkar adalah suatu yang tidak dikenal. Sementara itu pendapat dari beberapa tokoh mengenai Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar adalah:

1. Muhammad Abduh; Ma’ruf berarti apa yang di kenal (baik) oleh akal sehat dan hati nurani. Sedangkan Munkar adalah sesuatu yang tidak di kenal baik oleh akal maupun hati nurani.

2. Ali As-Shabuni mendevinisikan ma’ruf dengan apa yang diperintahkan syara’ dan dinilai baik oleh akal sehat, sedangkan munkar adalah apa yang dilarang oleh syara’ dan dinilai buruk oleh akal sehat.

3. Al-Ishfahani berpendapat, ma’ruf adalah sebuah nama untuk semua perbuatan yang dikenal baiknya melalui akal dan syara’, dan munkar adalah apa yang ditolak oleh keduanya.

Dari pendapat beberapa tokoh tersebut dapat disimpulkan bahawa Ma’ruf adalah setiap pekerjaan atau urusan yang diketahui dan dimaklumi berasal dari agama Allah dan syariat’-Nya dan dinilai baik oleh akal sehat dan hati nurani.

Sedang Munkar adalah setiap pekerjaan yang tidak bersumber dari agama Allah dan syariat’-Nya dan dinilai buruk oleh akal dan hati nurani atau Setiap pekerjaan yang dipandang buruk oleh syara’.

Hukum Amar Ma’ruf Nahi Munkar

عن أبى سعيد الخدري رضى الله عنه قال: سمعت رسول الله ص.م. يقول: من رأى منكم منكرا فليغير بيده فان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الايمان
Artinya: "Dari Abu Sa’id Al Khudri r.a berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Riwayat Muslim)

Asbabul Wurud :
Rasulullah bersabda “ siapa yang menyaksikan”, yang di maksud oleh nabi adalah siapa saja yang mengetahuinya, meskipun belum melihat dengan mata kepalanya. Jadi mencakup orang yang melihat dengan matanya langsung atau mendengar dengan telinganya, atau mendapat kabar yang meyakinkan dari orang lain. Maksud menyaksikan disini bukan dengan mata kepala saja,. Meskipun zhahir hadist menunjukkan hal itu hanya penglihatan dengan mata kepala saja, namun selama lafazhnya mencakup makna yang lebih umum maka bisa di maknai dengan umum.

Nabi Muhammad saw telah memberikan perintah kepada segenap ummat untuk mengubah kemungkaran apabila ia menyaksikannya, dan perlu di katakan: setiap orang memiliki tugas untuk melakukannya, yang paling utama adalah jika kita mengubahnya dengan menggunakan kekuaasaan yang kita miliki, kita harus menggunakan kekuasaan tersebut untuk menegakkan kebenaran apabila kita tidak mau melakukan yang demikian maka usahakanlah untuk mengubahnya dengan menggunakan nasihat-nasihat berupa ucapan atau lisan.

Tapi jika ternyata tidak mampu mengubahnya dengan nasehat maka kita harus membentengi diri kita untuk tidak terlibat dalam kemungkaran tersebut. Artinya, hati kita harus senantiasa berharap untuk dapat mengubah kemungkaran itu menjadi kebajikan dan jangan sampain membenarkan kemungkaran tersebut. Meskipun demikian, nabi  mengisyaratkan bahwa berusaha mengubah kemungkaran hanya dengan hatinya menandakan tingkat iman seseorang masih lemah sekali.Semua ulama sepakat bahwa memberantas kemungkaran hukumnya wajib, karena setiap muslim wajib memberantas kemungkaran yang ada sesuai dengan kemampuan masing-masing, baik dengan tangan, lisan atau hatinya.

a. Memberantas kemungkaran dengan hati.
Mampu mengetahui hal-hal yang ma’ruf dan mengingkari kemungkaran melalui hati merupakan fardlu ‘ain bagi setiap individu muslim, dalam kondisi apapun. Barangsiapa yang tidak dapat membedakan antara kebaikan dan kemunkaran, maka ia akan celaka. Dan barangsiapa mengetahui kemunkaran tetapi tidak mengingkarinya, maka ini pertanda pertama hilangnya iman dari hati.

b. Memberantas kemungkaran dengan tangan dan lisan
Dalam masalah ini terdapat dua hukum:

– Fardlu kifayah, jika kemunkaran diketahui oleh lebih dari satu orang dari masyarakat muslim, maka hukum memberantas kemunkaran tersebut adalah fardlu kifayah. Artinya jika sebagian mereka, meskipun hanya satu orang telah menunaikan kewajiban tersebut, maka kewajiban itu telah gugur bagi lainnya. Namun jika seorang pun tidak ada yang melaksanakan kewajiban itu, maka semua orang yang sebenarnya mampu melaksanakannya mendapat dosa.

– Fardlu ‘ain, hukum ini berlaku bagi seseorang [sendirian] yang mengetahui kemunkaran, dan ia mampu untuk memberantas kemunkaran tersebut. Atau jika yang mengetahui kemunkaran tadi masyarakat banyak. Namun hanya satu orang yang mampu memberantasnya. Dan dua kondisi ini, hukum pemberantasan kemunkaran bagi orang tersebut adalah fardlu ‘ain.

Hukum Catur Dalam Pandangan Islam

Para Ulama berbeda pendapat dalam masalah dadu dan catur, sebahagian mereka menyamakan hukum dadu dan catur, sebahagiannya lagi membedakan antara dadu dan catur, perbedaan ini disebabkan apakah Catur dapat diqiyaskan dengan dadu atau tidak, permasalahan ini akan kami jelaskan dengan hadis yang telah di riwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah, sebagai berikut.
A.Permainan Dadu

Telah datang riwayat yang shahih dari Rasulullah s.a.w yang telah melarang permainan dadu:
Sebagaimana kami riwayatkan dengan sanad Kami kepada Imam Muslim dari sahabat Nabi Buraidah r.a :
من لعب بالنردشير فكأنما صبغ يده في لحم خنزير ودمه
Artinya : ” Barangsiapa yang bermain Dadu seolah-olah telah mencelup tangannya kepada daging babi dan darahnya . ( H.R Muslim, Abu Daud , Ibnu Majah )

Dari hadits ini Jumhur ( kebanyakkan ) ulama yang terdiri dari Imam Imam Malik, Imam Syafi`i , Imam Ahmad dan yang lainnya berpendapat bahwa bermain dadu hukumnya haram, dengan alasan bahwa meletakkan tangan kepada daging dan darah babi merupakan permisalan untuk memakannya, sementara memakannya adalah perbuatan haram, Rasulullah s.a..w telah menyamakan orang yang bermain dadu dengan orang yang meletakkan tangannya kedalam daging dan darah babi.
Berkata Imam Nawawi didalam syarah Shahih Muslim : Hadis ini merupakan hujah bagi Imam Syafi`i dan Jamhur ulama dalam pengharaman bermain dadu.

Sementara sebagaian ulama ada yang berpendapat bahwa bermain dadu bukan merupakan hal yang haram, tetapi makruh, diantara ulama yang berpendapat bahwa dadu bukan permainan yang haram adalah Abu Ishaq Marwazi .

Pendapat yang kuat dan rajih :

Pendapat yang kuat dan rajih adalah haramnya bermain dadu sebab jelasnya hadis Rasul yang melarang bermain dadu dan sohinya hadis tersebut.

B . Permainan catur

Sedangkan dalam masalah permainan catur para ulama berbeda pendapat.

1. Jamhur ulama yang terdiri dari Imam Malik, Imam Ahmad dan yang lainnya berpendapat bahwa bermain catur haram sebagai qiasan dari permainan dadu yang telah dilarang oleh Rasulullah s.a.w.
Qiasan ini diperkuat dengan hadits mursal yang telah dikeluarkan oleh Abdan, Abu Musa, dan Ibnu Hazm yang telah di riwayatkan oleh Habbah bin Muslim :
ملعون من لعب بالشطرنج والناظرإليها كالآكل لحم الخنزير
Artinya : Terkutuklah orang yang bermain catur , dan orang yang melihat catur seperti orang yang memakan daging babi.

Andaikan hadits ini shahih niscaya akan menjadi pemutu dari ikhtilafnya ulama tentang hukum catur, tetapi hadits ini ini derajatnya dho`if.

2 . Sementara Imam Syafi`i berpendapat bahwa bermain catur tidaklah seperti bermain dadu, sebab itu beliau berpendapat bahwa bermain catur merupakan perkara yang makruh, hal ini telah diriwayatkan oleh sekumpulan ulama tabi`in.

Berkata Imam Syafi`i : Di Makruhkan ( bermain catur ) tidak diharamkan , hal ini jika tidak (bermain) dengan menjadikannya judi, tidak selalu bermain catur. tidak meninggalkan kewajiban,  jika dijadikan permain catur dengan judi, selalu bermain catur dan meninggalkan kewajiban maka hukumnya haram  secara ijmak ulama.
 
Pendapat yang rajih

Penulis lebih condong dengan pendapat bahwa bermain catur merupakan hal yang haram sebagaimana pendapat jamhur ulama, dengan beberapa sebab :

1. Qiasan catur dengan dadu, kedua-duanya merupakan permainan yang selalu membuang waktu dan selalu dijadikan bahagian dari perjudian.

2. Islam mengajarkan kepada kita agar senantiasa menghormati waktu dan mempergunakannya dengan sebaik-baiknya, sementara bermain catur merupakan wujud dari tidak menghormati waktu dengan sebaiknya.

3. Banyaknya orang-orang yang bermain catur lupa dengan segala kewajiban.

4. Imam Syafi`i telah meletakkan syarat agar main catur tidak haram, tetapi ketiga-tiga syarat itu telah ditentang oleh pemain catur dengan menjadikannya perjudian, permainan yang selalu dimainkan sehingga melupakan segala kewajiban.

Demikianlah pembahasan mnegnai hukum catur dalam pandangan islam,  dan semoga bisa bermanfaat.