Showing posts with label muslim. Show all posts
Showing posts with label muslim. Show all posts

July 28, 2018

Apa sih Arti Islam sebenarnya itu??

Terkadang diantara kita atau yang masih awam tentang agama Islam masih bingung apa sih sebenarnya arti Islam yang sebenarnya itu?? Dan masih banyak orang yang hanya berkata bahwa dirinya adalah Islam akan tetapi tidak mematuhi peraturan-peraturan yang sudah dijelaskan dalam Islam. Dan dengan ketidaktahuannya tersebut banyak orang yang mudah di adu domba oleh pihak-pihak yang ingin merusak agama Islam atau kaum liberal, dan diantara omongan-omongan kaum liberal tersebut bahwasanya semua agama Islam itu benar, artinya setiap orang yang berpasrah kepada tuhanya berate ia termasuk muslim.

Bahkan ada yang menjelaskan bahwa Islam sendiri adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan sebagai Nabi dan Rasul terakhir untuk menjadi pedoman manusia hingga akhir zaman. Lalu pertanyaanya bagaimana dengan agama yang dibawa oleh nabi-nabi terdahulu seperti nabi Ibrahim, Isa, Musa, Nuh dan lain-lain? Ini semua adalah suatu pemahaman yang salah, karena pada dasarnya seorang Nabi atau Rasul yang di utus oleh Allah tak terkecuali dengan membawa agama Islam.


Dari pada itu untuk meluruskan pemahaman dan pengertian tentang Islam, ada dua hal yang harus diketahui dengan mengembalikanya pada Al-quran dan Hadis. Pertama yaitu pengertian tentang Islam dan yang ke dua bahwa semua Nabi dan Rasul diutus oleh Allah SWT hanya dengan membawa agama Islam.

1.    Pengertia Islam

Selama ini yang berkembang di masyarakat bahwasanya Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan sebagai Nabi dan Rasul terakhir untuk menjadi pedoman manusia hingga akhir zaman. Namun pengertian ini kurang menyeluruh karena tidak membawa agama-agama yang dibawa oleh nabi yang lain yang juga merupakan agama Islam.
Adapaun pengertian Islam yang sederhana dan cukup enak adalah “mengikutu rasul” Islam itu ya mengikuti Rasul. Sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang artinya:

"Islam adalah mengikuti Rasul dalam apa-apa telah Allah utuskan kepada mereka denganya pada setiap manusia (dimana rasul diutus) dan pada sampai akhirnya Allah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai nabi yang terakhir (dimana syariat yang dibawanya adalah syaruat penutup dan menghapus syariar-syariat yang terdahulu atau telah lalu)."

Hal tersebut juga dijelaskan dalam surat Al-Imran ayat 32 :

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

“Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; maka jika mereka berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”
dengan kata lain bahwa barang siapa yang mengikuti rasul berati dia muslim, dan barang siapa yang tidak mengikuti rasul berati ia kafir.

2. setiap Rasul hanya diutus dengan membawa agama Islam


Akibat dari pengertia yang saalah dan yang sudah disebutkan diatas timbulah pemahaman yang salah bahwa agama kristen dan yahudi pada mulanya adalah agama yang benar, dengan asumsi/pendapat bahwasanya nabi Isa itu diutus dengan membawa agama kristen dan Nabi Musa membawa agama yahudi, dengan adanya pemahaman seperti itu jelas sangat berbahaya, karena dengan demikian kita telah menisbatkan kebohongan Nabi Isa dan Nabi Musa. dana Allah telah menegaskan bahwa agama yang diridhoi adalah agama Islam. jadi tidak mungkin Allah mengutus kepada Nabi dan Rasulnya dengan membawa selain agama Islam.

Dan hendaklah ini menjadi perhatian bagi umat Islam hendaknya kita selalu berpegang kepada agama Islam yaitu Al-quran dan sunah rasul agar kelak meninggal dalam keadaan Islam.

Demikianlah apa sih arti Islam sebenarnya itu, dan semoga bisa menambah wawasan bagi umat Islam agar tidak mudah diprovokasi lagi oleh kaum-kaum liberal yang tidak bertanggung jawab. semoga bermanfaat wallahu alam

March 14, 2018

Salah persepsi mengertikan mahrom yang tidak dapat membatalkan wudhu

Kesalahan :
Banyak sekali orang yang mengartikan mahram (atau saudara) yang tidak membatalkan wudhu, sebagian orang memahami ketika masih ada hubungan saudara, meskipun jauh tidak membatalkan wudhu, sebagaimana sepupu, istrunya saudara dan lain sebagainya. Padahal mereka semua bukan mahram yang dimaksud dalam bab nawaqidul wudhu.

Hukum yang benar :
Yang dimaksud mahram dalam bab wudhu adalah, seseorang yang haram untuk dinikahi dikarenakan ada hubungan nasab, susuan, atau mahram karena ikatan kekeluargaan melalui hal pernikahan. Sedangkan bagi mereka yang masih halal untuk dinikahi, yang artinya tetap membatalkan wudhu.
Keterangan lain dalam kitab fiqih islamijuz 1 halaman 388 (maktabah syamilah)
Yang dimaksud mahram dalam wudhu adalah, seseorang yang haram dinikahi dikarenakan adanya hubungan nasab, susuan, atau mahram karena ikatan kekeluargaan melalui hubungan pernikahan. Sedangkan anak laki-laki dan wanita yang masih kecil dan belum mensyahwati secara umumnya menurut pandangan orang yang memiliki watakatau tabiat yang sehat maka tidak membatalkan wudhu.

Dalam hal ini tidak dibatasi dengan anak yang masih berusia tujuh tahun atau bahkan lebih, dikarenakan bedanya anak dengan sebab perbedaan besar kecilnya anak itu sendiri, dan sebab tidak diduga kuat bisa mensyahwati. Dan orang yang masih dalm satu mahram, baik mahram dikarenakan nasab, tunggal susuan atau bahkan karena adanya ikatan kekeluargaan melalui perkawinan, seperti ibu seorang istri itu tidak membatalkan wudhu, karena tidak ada dugaan kuat bisa mensyahwati.

Demikianlah pembahasan mengenai masih banyaknya orang awam yang salah persepsi mengenai mengartikan mahram yang tidak membatalkan wudhu. Dan semoga bermanfaat.. amien

March 12, 2018

20 sifat wajib Allah SWT beserta dalilnya

Sebagai seorang muslim kita wajib mengetahui sifat wajib  yang dimiliki oleh Allah, agar keimanan seseorang tersebuat semakin kuat. Adapun sifat wajib yang dimiliki oleh Allah SWT ada 20. Sifat wajib Allah merupakan sifat yang sempurna dan hanya dimiliki oleh Allah Swt saja.
Berikut ini 20 sifat wajib Allah beserta dalilnya yang harus kita ketahui :
 1.      Wujud (Ada) lawannya ‘Adam (Tidak ada)
 Dalil ‘Aqli : Karena ada ciptaan-Nya, Dalil Naqli : Surat Ar-Ro’du ayat 16:
{قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ … قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (16)} [الرعد: 16]
16. Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. …..” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.
2.      Qidam (Terdahulu/Tak berawal) lawannya Hudust (Baru/Ada awalnya)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah hudust (ada awalnya) pasti Allah membutuhkan yang menciptakan, dan itu mustahil bagi Allah.
    Dalil Naqli    :   Surat Al-Hadid  ayat 3:
{هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ} [الحديد: 3]           Dialah yang Awal dan yang akhir.
3.      Baqo (Kekal/Tiada akhirnya) lawannya Fana (Rusak/Musnah)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah fana (rusak atau tidak kekal) pasti AllahHudust, dan itu mustahil.bagi Allah
    Dalil Naqli :  Surat Ar-Rahman  ayat 27:
{وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27) } [الرحمن: 28]
  Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
4.      Mukholafatu Lilhawadist (Berbeda dengan makhluknya) lawannyaMumatsalatu Lilhawadist (Menyerupai makhluknya)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah Mumatsalah (menyerupai makhluk) maka Allah tidak ada bedanya dengan makhluk, dan itu mustahil.
    Dalil Naqli :   Surat Asy-Syuro ayat 11:
{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } [الشورى: 11]
tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia,
 5.      Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri dengan Dzatnya sendiri) lawannyaIhtiyaj (Membutuhkan)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah Ihtiyaj (membutuhkan tempat atau pencipta) maka Allah “sifat”.Seperti warna putih(sifat), membutuhkan benda(untuk tempat), apa bila benda itu hilang maka warna putihpun akan ikut hilang. Dan itu mustahil bagi Allah.
    Dalil Naqli : Surat Al-Ankabut  ayat 6:
إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ  العنكبوت: 6
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

7.      Wahdaniyyat (Esa/Tunggal) lawannya Ta’addud (Lebih dari satu)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah Ta’addud (tidak tunggal) maka tidak akan ada ciptaanNya, karena apabila Allah ada dua tentu mereka akan berbagi pendapat, dan itu mustahil. Maka  tidak mungkin Allah Ta’addud.
    Dalil Naqli : Surat Al Ikhlas
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
1.  Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2.  Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3.  Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4.  Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
7.      Qudrat (Berkuasa atas segala sesuatu) lawannya ‘Ajzu (Lemah/Tidak bisa berbuat apa – apa)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah ‘Ajzu (tidak bisa apa-apa) pasti tidak akan pernah ada ciptaanNya, dan itu mustahil bagi Allah.
    Dalil Naqli : Surat Al Baqoroh  ayat 20:
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  [البقرة: 20]
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.
8.      Irodat  (Berkehendak) lawannya Karohah (Terpaksa)
    Dalil ‘Aqli :   Seandainya Allah Karohah (terpaksa) pasti Allah‘Ajzu(lemah). Dan itu mustahil.
    Dalil Naqli : Surat Hud  ayat 107:
إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ  هود: 107
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki.
 9.       ‘Ilmu (Maha Mengetahui) lawannya Jahl (Bodoh)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah jahal (Bodoh) pasti Allah tidak Irodat(tidak berkehendak karena bodoh), dan itu mustahil.
    Dalil Naqli : Surat Al Baqoroh ayat 231:
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
 10.  Hayat (Hidup) lawannya Maut (Mati)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah Maut (Mati) pasti Allah tidak Qudrat, Iradatdan tidak ‘Ilmu, dan itu mustahil.
    Dalil naqli :  Surat Al Baqoroh   ayat 255:
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ  البقرة: 255
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)
11.  Sama’ (Maha Mendengar) lawannya Shomam (Tuli)
    Dalil ‘Aqli :    Tidak masuk akal apabila Allah tidak mendengar.
    Dalil Naqli :    Surat Asy Syuro  ayat 11:
وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  الشورى: 11
dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.
12.  Bashor (Maha Melihat) lawannya ‘Amaa (Buta)
    Dalil ‘Aqli :   Tidak masuk akal apabila Allah tidak melihat
    Dalil Naqli :    Surat Asy Syuro ayat 11:
وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  الشورى: 11
dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.
13.  Kalam (Berfirman) lawannya Bukmu (Tidak berfirman/tidak bisa berbicara)
    Dalilnya dalam surat An-Nisa ayat 164:
 وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا  النساء: 164
dan Allah Telah berbicara kepada Musa dengan langsung
14.  Qodiron lawannya ‘Ajizan
    Dalilnya sama dengan dalil sifat Qudrot.
15.  Muridan lawannya Karihan
    Dalilnya sama dengan dali sifat Irodat
16.  ‘Aliman lawannya Jahilan
    Dalilnya sama dengan dalil sifat ‘Ilmu.
17.  Hayyan lawannya mayyitan
    Dalilnya sama dengan dalil sifat hayat
18.  Sami’an lawannya Ashomma.
    Dalilnya sama dengan sifat Sama’
19.  Bashiron lawannya A’maa.
    Dalilnya sama dengan dalil sifat Bashor
20.  Mutakaliman lawannya Abkama
    Dalilnya sama dengan dalil sifat Kalam.

demikianlah penjelasan mengenai 20 sifat wajib Allah yang harus kita ketahui, dan setelah mengetahui sifat wajib Allah akan menambah keimanan kita semua. Amien..

March 5, 2018

Pendapat Para Ulama tentang Rujuk

Rujuk adalah salah satu hak bagi laki-laki dalam masa idah. Oleh karena itu ia tidak berhak membatalkannya, sekalipun suami missal berkata: “Tidak ada Rujuk bagiku” namun sebenarnya ia tetap mempunyai rujuk. Sebab allah berfirman:
Artinya: Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa penantian itu”. (al-Baqarah:228)
Karena rujuk merupakan hak suami, maka untuk merujuknya suami tidak perlu adanya saksi, dan kerelaan mantan istri dan wali. Namun menghadirkan saksi dalam rujuk hukumnya sunnah, karena di khawatirkan apabila kelak istri akan    menyangkal    rujuknya    suami.
Rujuk boleh diucapkan, seperti: “saya rujuk kamu”, dan dengan perbuatan misalnya: “menyetubuhinya, merangsangnya, seperti menciummnya dan sentuhan-sentuhanbirahi".
Imam Syafi;I berpendapat bahwa rujuk hanya diperbolehkan dengan ucapan terang dan jelas dimengerti. Tidak boleh rujuk dengan persetubuhan, ciuman, dan rangsangan-rangsangan nafsu birahi. Menurut Imam Syafi’I bahwa talak itu memutuskan hubungan perkawinan.
Ibn Hazm berkata: Dengan menyetubuhinya bukan berarti merujuknya, sebelum kata rujuk itu di ucapkandan menghadirkan saksi, serta mantan istri diberi tahu terlebih dahulu sebelum masa iddahnya habis. Menurut Ibn Hazm jika ia merujuk tampa saksi bukan disebut rujuk sebab allah berfirman:
Artinya: “Apabila mereka telah mendekati akhir masa iddahnya, maka rujuklah mereka dengan baik dan lepaskanlah meereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu.” (Q.S. At-Thalaq: 2)



February 26, 2018

Salah kaprah tentang pemahaman memanggil pak haji kepada orang yang belum haji

Haji dalam agama Islam merupakan rukun Islam yang ke lima. Namun ketika orang yang mau menunaikan ibadah haji mereka harus memnuhi syarat yang diantaranya yaitu mampu dalam hartanya dan juga mampu dalam kesehatanya.  Dikatakan sempurna iman seseorang jika mereka sudah melaksankan ibadah haji.

Kesalahan :
Sering terdengar di telinga kita atau bahkan sudah banyak yang melakukan dengan kerap memanggil terhadap seseorang yang belum menunaikan ibadah haji dengan sebutan “pak haji”. Padahal memanggil orang yang belum haji dengan sebutan “pak haji” hukumnya tidak boleh.

Hukum yang benar
Haram, karena panggilan tersebut adalah bohong, sebab makana yang terkandung dalam kata “ya hujaj” adalah “hai orang yang telah beribadah haji atas jalan yang telah ditentukan”. Akan tetapi jika yang dikehendaki dengan panggilan “hai pak haji”, itu diperuntukaan pada maknalughowi (bahasa), dan bertujuan makna yang benar, semisal memanggil “hai pak haji” dengan maksud memanggil orang yang akan berhaji ke-Makkah, maka hukumnya boleh atau tidak haram.

Semoga bisa menambah wawasan bagi kita semua dan semoga bermanfaat

February 25, 2018

9 syarat menjadi seorang mujtahid yang handal

Seseorang yang menggeluti bidang fiqh tidak bisa sampai ke tingkat mujtahid kecuali dengan memenuhi beberapa syarat, sebagian persyaratan itu ada yang telah disepakati, dan sebagian yang lain masih diperdebatkan. Adapun syarat-syarat yang telah disepakati adalah:

a. Mengetahui al-Quran
Al-Qur’an adalh sumber hukum Islam primer di mana sebagai fondasi dasar hukum Islam. Oleh karena itu, seorang mujtahid harus mengetahui al-Qur’an secara mendalam. Barangsiapa yang tidak mengerti al-Qur’an sudah tentu ia tidak mengerti syariat Islam secara utuh. Mengerti al-Qur’an tidak cukup dengan piawai membaca, tetapi juga bisa melihat bagaimana al-Qur’an memberi cakupan terhadap ayat-ayat hukum. Misalnya al-Ghazali memberi syarat seorang mujtahid harus tahu ayat-ayat ahkam berjumlah sekitar 500 ayat.
- Mengetahui Asbab al-nuzul
Mengetahui sebab turunnya ayat termasuk dalam salah satu syarat mengatahui al-Qur’an secara komprehensif, bukan hanya pada tataran teks tetapi juga akan mengetahui secara sosial-psikologis. Sebab dengan mengetahui sebab-sebab turunnya ayat akan memberi analisis yang komprehensif untuk memahami maksud diturunkannya teks Quran tersebut kepada manusia.
Imam as-Syatibi dalam bukunya al-Muwafaqaat mengatakan bahwa mengetahui sebab turunnya ayat adalah suatu keharusan bagi orang yang hendak memahami al-Qur’an. Pertama, suatu pembicaraan akan berbeda pengertiannya menurut perbedaan keadaan. Kedua, tidak mengetahui sebab turunnya ayat bisa menyeret dalam keraguan dan kesulitan dan juga bisa membawa pada pemahaman global terhadap nash yang bersifat lahir sehingga sering menimbulkan perselisihan.
- Mengetahui nasikh dan mansukh
Pada dasarnya hal ini bertujuan untuk menghindari agar jangan sampai berdalih menguatkan suatu hukum dengan ayat yang sebenarnya telah dinasikhkan dan tidak bisa dipergunakan untuk dalil.

b. Mengetahui as-sunnah

Syarat mujtahid selanjutnya adalah ia harus mengetahui as-Sunnah. Yang dimaksudkan as-Sunnah adalah ucapan, perbuatan atau ketentuan yang diriwayatkan dari Nabi SAW.

- Mengetahui ilmu diroyah hadits
Ilmu diroyah menurut al-Ghazali adalah mengetahui riwayat dan memisahkan hadis yang shahih dari yang rusak dan hadis yang bisa diterima dari hadis yang ditolak. Seorang mujtahid harus mengetahui pokok-pokok hadis dan ilmunya, mengenai ilmu tentang para perawi hadis, syarat-syarat diterima atau sebab-sebab ditolaknya suatu hadis, tingkatan kata dalam menetapkan adil dan cacatnya seorang perawi hadis, dan lain hal-hal yang tercakup dalam ilmu hadis, kemudian mengaplikasikan pengetahuan tadi dalam menggunakan hadis sebagai dasar hukum.

- Mengetahui hadis yang nasikh dan mansukh

Mengetahui hadis yang nasikh dan mansukh ini dimaksudkan agar seorang mujtahid jangan sampai berpegang pada suatu hadis yang sudah jelas dihapus hukumnya dan tidak boleh dipergunakan. Seperti hadis yang membolehkan nikah mut’ah di mana hadis tersebut sudah dinasakh secara pasti oleh hadis-hadis lain.

- Mengetahui asbab al-wurud hadis
Syarat ini sama dengan seorang mujtahid yang seharusnya menguasai asbab al-nuzul, yakni mengetahui setiap kondisi, situasi, lokus, serta tempus hadis tersebut ada.

c. Mengetahui bahasa Arab

Seorang mujtahid wajib mengetahui bahasa Arab dalam rangka agar penguasaannya pada objek kajian lebih mendalam, teks otoritatif Islam menggunakan bahasa Arab. Hal ini tidak lepas dari bahwa teks otoritatif Islam itu diturunkan menggunakan bahasa Arab.

d. Mengetahui tempat-tempat ijma’

Bagi seorang mujtahid, harus mengetahui hukum-hukum yang telah disepakati oleh para ulama, sehingga tidak terjerumus memberi fatwa yang bertentangan dengan hasil ijma’. Sebagaimana ia harus mengetahui nash-nash dalil guna menghindari fatwa yang berseberangan dengan nash tersebut. Namun menurut hemat penulis, seorang mujtahid bisa bertentangan dengan ijma’ para ulama selama hasil ijtihadnya maslahat bagi manusia.

e. Mengetahui ushul fiqh

Di antara ilmu yang harus dikuasai oleh mujtahid adalah ilmu ushul fiqh, yaitu suatu ilmu yang telah diciptakan oleh para fuqaha utuk meletakkan kaidah-kaidah dan cara untuk mengambil istimbat hukum dari nash dan mencocokkan cara pengambilan hukum yang tidak ada nash hukumnya. Dalam ushul fiqh, mujtahid juga dituntut untuk memahami qiyas sebagai modal pengambilan ketetapan hukum.

f. Mengetahui maksud dan tujuan syariah

Sesungguhnya syariat Islam diturunkan untuk melindungi dan memelihara kepentingan manusia. Pemeliharaan ini dikategorikan dalam tiga tingkatan maslahat, yakni dlaruriyyat (apabila dilanggar akan mengancam jiwa, agama, harta, akal, dan keturunan), hajiyyat (kelapangan hidup, missal memberi rukshah dalam kesulitan), dan tahsiniat (pelengkap yang terdiri dari kebiasaan dan akhlak yang baik).

g. Mengenal manusia dan kehidupan sekitarnya

Seorang mujtahid harus mengetahui tentang keadaan zamannya, masyarakat, problemnya, aliran ideologinya, politiknya, agamanya dan mengenal hubungan masyarakatnya dengan masyarakat lain serta sejauh mana interaksi saling mempengaruhi antara masyarakat tersebut.

h. Bersifat adil dan taqwa

Hal ini bertujuan agar produk hukum yang telah diformulasikan oleh mujtahid benar-benar proporsional karena memiliki sifat adil, jauh dari kepentingan politik dalam istinmbat hukumnya.

i. Adapun ketentuan-ketentuan yang masih dipersilihkan adalah mengetahui ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, dan mengetahui cabang-cabang fiqh.

February 17, 2018

Amar ma'ruf nahi munkar dan bagaimana hukumnya

Pengertian Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Secara harfiah Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar berarti menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.

Secara etimologi ma’ruf berarti yang dikenal sedangkan munkar adalah suatu yang tidak dikenal. Sementara itu pendapat dari beberapa tokoh mengenai Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar adalah:

1. Muhammad Abduh; Ma’ruf berarti apa yang di kenal (baik) oleh akal sehat dan hati nurani. Sedangkan Munkar adalah sesuatu yang tidak di kenal baik oleh akal maupun hati nurani.

2. Ali As-Shabuni mendevinisikan ma’ruf dengan apa yang diperintahkan syara’ dan dinilai baik oleh akal sehat, sedangkan munkar adalah apa yang dilarang oleh syara’ dan dinilai buruk oleh akal sehat.

3. Al-Ishfahani berpendapat, ma’ruf adalah sebuah nama untuk semua perbuatan yang dikenal baiknya melalui akal dan syara’, dan munkar adalah apa yang ditolak oleh keduanya.

Dari pendapat beberapa tokoh tersebut dapat disimpulkan bahawa Ma’ruf adalah setiap pekerjaan atau urusan yang diketahui dan dimaklumi berasal dari agama Allah dan syariat’-Nya dan dinilai baik oleh akal sehat dan hati nurani.

Sedang Munkar adalah setiap pekerjaan yang tidak bersumber dari agama Allah dan syariat’-Nya dan dinilai buruk oleh akal dan hati nurani atau Setiap pekerjaan yang dipandang buruk oleh syara’.

Hukum Amar Ma’ruf Nahi Munkar

عن أبى سعيد الخدري رضى الله عنه قال: سمعت رسول الله ص.م. يقول: من رأى منكم منكرا فليغير بيده فان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطع فبقلبه وذلك أضعف الايمان
Artinya: "Dari Abu Sa’id Al Khudri r.a berkata : “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Riwayat Muslim)

Asbabul Wurud :
Rasulullah bersabda “ siapa yang menyaksikan”, yang di maksud oleh nabi adalah siapa saja yang mengetahuinya, meskipun belum melihat dengan mata kepalanya. Jadi mencakup orang yang melihat dengan matanya langsung atau mendengar dengan telinganya, atau mendapat kabar yang meyakinkan dari orang lain. Maksud menyaksikan disini bukan dengan mata kepala saja,. Meskipun zhahir hadist menunjukkan hal itu hanya penglihatan dengan mata kepala saja, namun selama lafazhnya mencakup makna yang lebih umum maka bisa di maknai dengan umum.

Nabi Muhammad saw telah memberikan perintah kepada segenap ummat untuk mengubah kemungkaran apabila ia menyaksikannya, dan perlu di katakan: setiap orang memiliki tugas untuk melakukannya, yang paling utama adalah jika kita mengubahnya dengan menggunakan kekuaasaan yang kita miliki, kita harus menggunakan kekuasaan tersebut untuk menegakkan kebenaran apabila kita tidak mau melakukan yang demikian maka usahakanlah untuk mengubahnya dengan menggunakan nasihat-nasihat berupa ucapan atau lisan.

Tapi jika ternyata tidak mampu mengubahnya dengan nasehat maka kita harus membentengi diri kita untuk tidak terlibat dalam kemungkaran tersebut. Artinya, hati kita harus senantiasa berharap untuk dapat mengubah kemungkaran itu menjadi kebajikan dan jangan sampain membenarkan kemungkaran tersebut. Meskipun demikian, nabi  mengisyaratkan bahwa berusaha mengubah kemungkaran hanya dengan hatinya menandakan tingkat iman seseorang masih lemah sekali.Semua ulama sepakat bahwa memberantas kemungkaran hukumnya wajib, karena setiap muslim wajib memberantas kemungkaran yang ada sesuai dengan kemampuan masing-masing, baik dengan tangan, lisan atau hatinya.

a. Memberantas kemungkaran dengan hati.
Mampu mengetahui hal-hal yang ma’ruf dan mengingkari kemungkaran melalui hati merupakan fardlu ‘ain bagi setiap individu muslim, dalam kondisi apapun. Barangsiapa yang tidak dapat membedakan antara kebaikan dan kemunkaran, maka ia akan celaka. Dan barangsiapa mengetahui kemunkaran tetapi tidak mengingkarinya, maka ini pertanda pertama hilangnya iman dari hati.

b. Memberantas kemungkaran dengan tangan dan lisan
Dalam masalah ini terdapat dua hukum:

– Fardlu kifayah, jika kemunkaran diketahui oleh lebih dari satu orang dari masyarakat muslim, maka hukum memberantas kemunkaran tersebut adalah fardlu kifayah. Artinya jika sebagian mereka, meskipun hanya satu orang telah menunaikan kewajiban tersebut, maka kewajiban itu telah gugur bagi lainnya. Namun jika seorang pun tidak ada yang melaksanakan kewajiban itu, maka semua orang yang sebenarnya mampu melaksanakannya mendapat dosa.

– Fardlu ‘ain, hukum ini berlaku bagi seseorang [sendirian] yang mengetahui kemunkaran, dan ia mampu untuk memberantas kemunkaran tersebut. Atau jika yang mengetahui kemunkaran tadi masyarakat banyak. Namun hanya satu orang yang mampu memberantasnya. Dan dua kondisi ini, hukum pemberantasan kemunkaran bagi orang tersebut adalah fardlu ‘ain.