Showing posts with label muslimah. Show all posts
Showing posts with label muslimah. Show all posts

May 12, 2019

Hukum Puasa Akan Tetapi Tidak Menjalankan Sholat

Sholat meruapkan rukun islam yang kedua. Sholat merupakan ibadah pokok bagi umat Islam dan hukumnya wajib dikerjakan bagi mereka yang sudah memenuhi syarat. Dijelaskan dalam sebuah hadist bahwasanya amal yang paling pertama dihisab oleh Allah kelak di akhirat nanti adalah amalan sholat. Ketika sholatnya baik maka amal yang lainnya pun baik, sebaliknya jika sholatnya tidak baik maka amal yang lainnya pun tidak baik.
Kemudian yang menjadi banyak pertanyaan adalah bagaimana hukum puasa akan tetapi tidak menjalankan sholat? Apakah puasanya masih dihukumi sah mengingat sholat adalah amalan yang paling utama dan pokok?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita mestinya tanyakan terlebih dahulu kepada orang yang tidak sholat akan tetapi menajalankan puasa. Kira-kira alasan apa yang menjadikannya tidak menajalankan sholat. Apakah karena mengingkari kewajiban atau karena malas. Sebab kedua alasan tersebut memiliki hukum yang berbeda-beda. Hasan bin Muhammad Al Kaf dalam staqiratus sadidah fi masail mufidah mejelasakan :

له حالتان: فتارة يتركها جحودا وتارة يتركها كسلا: إذا تركها جحودا، أي: معتقدا أنها غير واجبة هو كالمرتد........،  إذا تركها كسلا: وذلك بأن أخرجها عن وقت الضرورة فهو مسلم
Artinya :
"Ada dua kondisi orang yang meninggalakan sholat. Meninggalakan sholat karena mengingkari kewajibannya dan meninggalkan sholat karena alasan malas. Orang yang masuk dalam kategori pertama, maka ia dihukumi murtad. Sementara jika lasanya karena malas, hingga waktunya habis, maka ia masih dikatakan muslim."

Berdasarkan keterangan diatas, orang yang tidak menjalankan sholat karena mengingkari keawajibannya, maka puasanya otomatis batal. Sebab dia sudah dianggap murtad dan keluar dari Islam merupakan salah satu hal yang bisa membatalkan puasa. Sementara jika alasanya karena malsa atau sibuk, maka statusnya masih muslim dan puasanya tidak batal secara esensial. 

Namun kendati puasanya tidak batal secara esensial atau dalam ilmu fiqih tidak dianggap batal dan orang tersebut tidak wajib qadha, namun puasanya hanya menahan rasa haus dan lapar saja dan tidak akan mendapat apa-apa dan pahalanya pun akan berkurang.

Keterangan lain yaitu menurut Syekh Ibnu Ustaimin rahimahullah  dalam fatwa shiyam, hal 87, diatanya menegnai hukum puasa akan tetapi tidak menjalankan sholat?

Beliau menjawab : "Orang yang meninggalakan sholat, puasanya tidak sah dan tidak diterima. Karena orang yang meninggalkan sholat itu kafir dan dianggap murtad (keluar dari islam).
 
Kesimpulanya bahwa orang yang puasa akan tetapi tidak menjalankan sholat itu dapat dikategorikan sebagai muhbitat al-shaum. Dia tidak merusak keabsahan puasa, akan tetapi dia merusak pahal puasa. Sehingga ibadah yang mereka jalankan tidak ada nilainya dihadapan Allah. Wallahu a'ala, bissowab

Demikianlah mengenai hukum puasa akan tetapi tidak menjalankan sholat. Intinya puasanya tetap sah akan tetapi tidak akan mendapat apa-apa uaitu bagaikan orang yang memakai tali pinggang akan tetapi tidak memakai celana. Semoga bermanfaat



May 7, 2019

Amalan Agar Selama Puasa Dihindarkan Dari Kehausan

Pada saat kita menjalankan ibadah puasa pasti mengalami rasa kehausan dan kelaparan, lebih-lebih lagi ketika masuk waktu siang hari maka rasa haus akan semakin melanda dan itu adalah hal yang wajar bagi orang yang berpuasa. Hal ini disebabkan karena kurangnya asupan nutrisi dan air yang biasanya kita lakukan pada waktu sarapan pagi. Sedangkan ketika berpuasa kita melewatkan yang namanya sarapan pagi, namun kita melakukan sarapan atau yang biasa disebut dengan sahur lebih awal lagi yaitu sekitar jam 3-4 pagi. Agar terhindar dari rasa kehausan berikut ini ada amalan yang bisa anda lakukan pada saat menjalankan puasa.

Amalan ini didapatkan dari Abah Guru Sekumpul, yaitu salah satu wali Allah yang berasal dari kalimantan tepatnya yaitu martapura. Beliau pernah mengamalkan kepada jamaahnya mengani amalan agar terhindar dari kehausan saat berpuasa.

Abah Guru Zaini Sekumpul Berkata:
"Kalau kamu ingin pada bulan puasa tidak merasa kehausan, setelah sahur ambil secangkir air putih lalu baca surah al-kautsar 7x, kemudian tiupkan ke air tersebut. minum air tersebut dan bagikan kepada keluarga (anak, istri)"
Fadilahnya insya Allah tidak merasa haus mulai sahur sampai hendak berbuka karena minum air tersebut sama dengan minum telaga kautsar.


Selain itu juga ada aktifitas lain yang bisa anda lakukan setiap harinya agar tidak mersakan kehausan saat berpuasa, antara lain adalah :


1. Melakukan kegiatan yang bermanfaat

2. Perbanyak makan buah dan sayur ketika malam hari atau ketika sahur

3. Tidak terlalu makan yang asin dan manis saat berbuka

4. Jangan perbanyak tidur

Amalan ini didapatkan dari Guru Bangil, dan Beliau pun mengamalkannya.


Demikianlah mengenai amalan agar terhindar dari kehausan saat berpuasa yang bisa anda lakukan dan amalkan. Semoga puasa kita lancar dan berkesempatan untuk mengamalkannya dengan harapan barakah dari para Auliya Allah dan syafaat Rasulullah SAW. Amin

May 6, 2019

33 Masalah Seputar Puasa Lengkap Beserta Jawabanya

Puasa meruapakan salah satu rukun islam yang ke empat setelah zakat. Puasa sendiri merupakan suatu ibadah yang wajib dilakukan oleh setiap orang Islam yang sudah baligh dan mampu melaksanakannya sesuai dengan syarat-syarat yang sudah berlaku.

Adapun dalail diperintahkanya untuk berpuasa sendiri yaitu ada pada Qs Al-Baqarah 183

يأَيُّهَا الَّذِينَءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya :
" Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa". (A Baqarah : 183)
Setiap ibadah sendiri pasti didalamnya ada suatu masalah-masalah yang pasti terjadi, dan itu terkadang bisa membuat kita bertanya-tanya tentang masalah tersebut. Untuk itu pada kali ini akan dibahas mengenai seputar masalah-masalah yang sering terjadi dalam puasa beserta penjelasan lengkapanya. Untuk lebih jelasnya mari simak ulasan dibawah ini.


1. PERGI SESUDAH FAJAR MEMBATALKAN PUASA

Bolehkan orang yang bepergian setelah Fajar membatalkan puasa ?

Jawab : Tidak boleh, karena bolehnya membatalkan puasa bagi musâfir, jika berangkatnya sebelum fajar. Namun menurut Imam Muzâni tetap diperbolehkan membatalkan puasa. Referensi :

سلم التوفيق صحـ : 43 مكتبة الحرمين

فَلَوْ اَصْبَحَ مُقِيْمًا ثُمَّ سَافَرَ فَلاَ يُفْطِرُ ِلأَنَّهُ عِبَادَةٌ اِجْتَمَعَ فِيْهَا السَفَرُ وَالْحَضَرُ فَغَلَبْنَا الْحَضَرَ وَقَالَ الْمُزَنِّىُ يَجُوْزُ لَهُ الْفِطْرُ ِلأَنَّ السَبَبَ الْمُرَخِّصَ مَوْجُوْدٌ اهـ

2. AROMA YANG TERSISA SETELAH MENCICIPI MASAKAN

Bolehkah bagi orang yang puasa mencicipi makanan, mengingat aroma makanan masih terasa di lidah?

Jawab : Boleh, asalkan tidak menelan apa yang dicicipi tersebut. Referensi:

تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 3 صحـ : 425 مكتبة دار إحياء التراث العربي

وَ عَنْ ذَوْقِ الطَّعَامِ وَغَيْرِهِ بَلْ يُكْرَهُ خَوْفًا مِنْ وُصُولِهِ إلَى حَلْقِهِ ( قَوْلُهُ إلَى حَلْقِهِ ) قَضِيَّتُهُ أَنَّ وُصُولَهُ قَهْرًا عَلَيْهِ مُفْطِرٌ وَلاَ يَبْعُدُ فِيمَا إذَا احْتِيجَ لِلذَّوْقِ أَنْ لاَ يَضُرَّ سَبْقُهُ إلَى الْجَوْفِ كَمَا يُؤْخَذُ مِمَّا تَقَدَّمَ فِي الْحَاشِيَةِ عَنِ اْلأَنْوَارِ ( قَوْلُهُ بَلْ يُكْرَهُ إلَخْ ) نَعَمْ إنِ احْتَاجَ إلَى مَضْغِ نَحْوِ خُبْزٍ لِطِفْلٍ لَمْ يُكْرَهْ نِهَايَةٌ وَإِيعَابٌ قَالَ ع ش قَوْلُهُ نَعَمْ إنِ احْتَاجَ إلَخْ قَضِيَّةُ اقْتِصَارِهِ عَلَى ذَلِكَ كَرَاهَةُ ذَوْقِ الطَّعَامِ لِغَرَضِ إِصْلاَحِهِ لِمُتَعَاطِيهِ وَيَنْبَغِي عَدَمُ كَرَاهَتِهِ لِلْحَاجَةِ وَإِنْ كَانَ عِنْدَهُ مُفْطِرٌ غَيْرُهُ ِلأَنَّهُ قَدْ لاَ يُعْرَفُ إصْلاَحُهُ مِثْلَ الصَّائِمِ اهـ ( قَوْلُهُ فِي الْمَتْنِ وَذَوْقِ الطَّعَامِ وَالْعِلْكِ ) وَمَحَلُّهُ فِي غَيْرِ مَا يَتَفَتَّتُ أَمَّا هُوَ فَإِنْ تَيَقَّنَ وُصُولَ بَعْضِ جِرْمِهِ عَمْدًا إلَى جَوْفِهِ أَفْطَرَ وَحِينَئِذٍ يَحْرُمُ مَضْغُهُ بِخِلاَفِ مَا إذَا شَكَّ أَوْ وَصَلَ طَعْمُهُ أَوْ رِيحُهُ ِلأَنَّهُ مُجَاوِرٌ اهـ

3. MENGUNYAH MAKANAN UNTUK SANG BAYI

Kasih sayang seorang ibu begitu besar pada anak tercintanya. Ia rela melakukan apapun demi pertumbuhan dan kesehatan anaknya. Termasuk ketika menyuapin si kecil, sang ibu terlebih dulu mengunyah sebelum makanan diberikan pada anaknya, padahal ia dalam keadaan berpuasa. Apakah mengunyah makanan diperbolehkan bagi orang yang berpuasa sementara aroma dan rasa makanannya sangat kentara di lidah?

Jawab : Boleh, dengan syarat tanpa menelan makanan yang dikunyah tersebut, walaupun aroma dan rasa makanan masih terasa dilidah. Referensi :

حاشية الجمل الجزء 2 صحـ : 329 مكتبة دار الفكر

وَ تَرْكُ ذَوْقٍ لِطَعَامٍ أَوْ غَيْرِهِ خَوْفَ وُصُولِهِ حَلْقَهُ وَتَقْيِيدُ اْلأَصْلِ بِذَوْقِ الطَّعَامِ جَرَى عَلَى الْغَالِبِ وَ تَرْكُ عَلْكٍ بِفَتْحِ الْعَيْنِ ِلأَنَّهُ يَجْمَعُ الرِّيقَ فَإِنْ بَلَعَهُ أَفْطَرَ فِي وَجْهٍ وَإِنْ أَبْقَاهُ عَطَّشَهُ وَهُوَ مَكْرُوهٌ كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ (قَوْلُهُ خَوْفَ وُصُولِهِ حَلْقَهُ) نَعَمْ إنِ احْتَاجَ إلَى مَضْغِ نَحْوِ خُبْزٍ لِطِفْلٍ لَمْ يُكْرَهْ اهـ شَرْحُ م ر ( قَوْلُهُ وَتَرْكُ عَلْكٍ ) أَيْ لاَ يَتَحَلَّلُ مِنْهُ جِرْمٌ وَمِنْهُ اللِّبَانُ ( وَقَوْلُهُ بِفَتْحِ الْعَيْنِ ) وَهُوَ الْفِعْلُ أَيْ الْمَضْغُ ( وَقَوْلُهُ فِي وَجْهٍ ) أَيْ ضَعِيفٍ وَالصَّحِيحُ خِلاَفُهُ وَإِنْ تَرَوَّحَ ذَلِكَ الرِّيقَ بِرِيحِهِ أَوْ وَجَدَ فِيهِ طَعْمَهُ اهـ

4. SAHUR SEBELUM JAM 12 MALAM

Untuk mengantisipasi rasa haus dan lapar saat berpuasa, agama menganjurkan agar mengakhirkan makan sahur. Hal ini tidak lain supaya lebih kuat dan semangat dalam menjalankan ibadah puasa. Namun entah karena apa, terkadang sebagian orang melaksanakan makan sahur sebelum jam 12 malam. Apakah yang demikian masih mendapatkan kesunahan sahur ?

Jawab : Tidak, karena waktu sahur mulai pertengahan malam. Referensi:

حاشية الباجورى الجزء 1 صحـ : 293 مكتبة دار الكتب العلمية

( وَقَوْلُهُ وَتَأْخِيْرُ السَّحُوْرِ ) - الى أن قال - وَيَدْخُلُ وَقْتُهُ بِنِصْفِ اللَّيْلِ فَاْلأَكْلُ قَبْلَهُ لَيْسَ بِسَحُوْرٍ فَلاَ يَحْصُلُ بِهِ السُنَّةُ اهـ

5. NIAT PUASA SENIN-KAMIS PLUS QADLA'

Seseorang mempunyai tanggungan qadlâ’ puasa Ramadlan. Kebetulan disaat meng-qadlâ’ puasa bertepatan dengan hari Senin. Kesempatan ini tidak disia-siakan olehnya, disamping melakukan puasa qadlâ’, ia juga niat mengerjakan puasa sunah. Bisakah ia mendapatkan dua pahala, yakni pahala qadlâ’ dan sunah?

Jawab : Bisa, apabila keduanya diniati. Referensi:

إعانة الطالبين الجزء 2 صحـ : 306 – 307 مكتبة دار الفكر

(فَرْعٌ) أَفْتَى جَمْعٌ مُتَأَخِّرُوْنَ بِحُصُوْلِ ثَوَابِ عَرَفَةَ وَمَا بَعْدَهُ بِوُقُوْعِ صَوْمِ فَرْضٍ فِيْهَا خِلاَفٌ لِلْمَجْمُوْعِ وَتَبِِعَهُ اَلإسْنَوِيُّ فَقَالَ إِنْ نَوَاهُمَا لَمْ يَحْصُلْ لَهُ شَيْءٌ مِنْهُمَا قَالَ شَيْخُنَا كَشَيْخِهِ وَالَّذِيْ يُتَّجَهُ أَنَّ الْقَصْدَ وُجُوْدُ صَوْمٍ فِيْهَا فَهِيَ كَالتَّحِيَّةِ فَإِنْ نَوَى التَّطَوُّعَ أَيْضًا حَصَلاَ وَإِلاَّ سَقَطَ عَنْهُ الطَّلَبُ (قَوْلُهُ فَإِنْ نَوَى التَّطَوُّعَ أَيْضًا) أَيْ كَمَا أَنَّهُ نَوَى الْفَرْضَ (وَقَوْلُهُ حَصَلاَ) أَي التَّطَوُّعُ وَالْفَرْضُ أَيْ ثَوَابُهُمَا ( قَوْلُهُ وَإِلاَّ ) أَيْ وَإِنْ لَمْ يَنْوِ التَّطَوُّعَ بَلْ نَوَى الْفَرْضَ فَقَطُّ (وَقَوْلُهُ سَقَطَ عَنْهُ الطَّلَبُ) أَيْ بِالتَّطَوُّعِ لاِنْدِرَاجِهِ فِي الْفَرْضِ اهـ

6. SATU NIAT DUA PAHALA

Kadang-kadang pada hari-hari tertentu, puasa disunahkan karena dua sebab, semisal hari Kamis bertepatan dengan hari ‘Âsyûrâ. Apakah orang yang berpuasa pada hari tersebut bisa memperoleh dua kesunahan ?

Jawab: Bisa, asalkan keduanya diniati. Referensi:

إعانة الطالبين الجزء 2 صحـ : 307 مكتبة دار الفكر

(تَنْبِيْهٌ) اِعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ يُوْجَدُ لِلصَّوْمِ سَبَبَانِ كَوُقُوْعِ عَرَفَةَ أَوْ عَاشُورَاءَ يَوْمَ اثْنَيْنِ أَوْ خَمِيسٍ أَوْ وُقُوْعِ اثْنَيْنِ أَوْ خَمِيسٍ فِي سِتَّةِ شَوَّالٍ فَيَزْدَادُ تَأْكُّدُهُ رِعَايَةً لِوُجُوْدِ السَّبَبَيْنِ فَإِنْ نَوَاهُمَا حَصَلاَ كَالصّدَقَةِ عَلَى الْقَرِيْبِ صَدَقَةَ وَصِلَةٍ وَكَذَا لَوْ نَوَى أَحَدَهُمَا فِيْمَا يَظْهَرُ اهـ

7. MENJUAL MAKANAN DI SIANG HARI

“Terpaksa” sering dibuat alasan sebagai pembenaran atas semua tindakan. Sebagaimana realita yang terjadi di sekeliling kita. Walaupun sudah tahu bulan puasa, masih saja ada yang berjualan makanan disiang hari. Bolehkah menjual makanan disiang hari pada saat bulan Ramadlan?

Jawab: Tidak boleh, karena mendorong terjadinya maksiat. Kecuali menjual makanan untuk persiapan buka puasa. Referensi:

إعانة الطالبين الجزء الثالث صحـ : 29 – 30 مكتبة دار الفكر

(وَ) حَرُمَ أَيْضًا ( بَيْعُ نَحْوِ عِنَبٍ مِمَّنْ ) عُلِمَ أَوْ ( ظُنَّ أَنَّهُ يَتَّخِذُهُ مُسْكِرًا) لِلشُّرْبِ وَاْلاَمْرَدِ مِمَّنْ عُرِفَ بِالْفُجُوْرِ بِهِ وَالدِّيْكِ لِلْمُهَارَشَةِ وَالْكَبْشِ لِلْمُنَاطَحَةِ وَالْحَرِيْرِ لِرَجُلٍ يَلْبَسَهُ وَكَذَا بَيْعُ نَحْوِ الْمِسْكِ لِكَافِرٍ يَشْتَرِيْ لِتَطْيِيْبِ الصَّنَمِ وَالْحَيَوَانِ لِكَافِرٍ عُلِمَ أَنَّهُ يَأْكُلُهُ بِلاَ ذَبْحٍ ِلأَنَّ اْلأَصَحَّ أَنَّ الْكُفَّارَ مُخَاطَبُوْنَ بِفُرُوْعِ الشَّرِيْعَةِ كَالْمُسْلِمِيْنَ عِنْدَنَا خِلاَفًا ِلأَبِيْ حَنِيْفَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ فَلاَ يَجُوْزُ اْلإِعَانَةُ عَلَيْهِمَا وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنْ كُلِّ تَصَرُّفٍ يُفْضِيْ إِلَى مَعْصِيَةٍ يَقِيْنًا أَوْ ظَنًّا وَمَعَ ذَلِكَ يَصِحُّ الْبَيْعُ وَيُكْرَهُ بَيْعُ مَا ذُكِرَ مِمَّنْ تُوُهِّمَ مِنْهُ ذَلِكَ ( وَقَوْلُهُ مِنْ كُلِّ تَصَرُّفٍ يُفْضِيْ إِلَى مَعْصِيَةٍ ) بَيَانٌ لِنَحْوٍ وَذَلِكَ كَبَيْعِ الدَّابَّةِ لِمَنْ يُكَلِّفُهَا فَوْقَ طَاقَتِهَا وَاْلأَمَّةِ عَلَى مَنْ يَتَّخِذُهَا لِغِنَاءٍ مُحَرَّمٍ وَالْخَشَبِ عَلَى مَنْ يَتَّخِذُهُ آلَةَ لَهْوٍ وَكَإِطْعَامِ مُسْلِمٍ مُكَلَّفٍ كَافِرًا مُكَلَّفًا فِيْ نَهَارِ رَمَضَانَ وَكَذَا بَيْعُهُ طَعَامًا عَلِمَ أَوْ ظَنَّ أَنَّهُ يَأْكُلُهُ نَهَارًا ( قَوْلُهُ وَمَعَ ذَلِكَ إِلَخْ ) رَاجِعٌ لِجَمِيْعِ مَا قَبْلَهُ أَيْ وَمَعَ تَحْرِيْمِ مَا ذُكِرَ مِنْ بَيْعِ نَحْوِ الْعِنَبِ وَمَا ذُكِرَ بَعْدُ يَصِحُّ الْبِيْعُ اهـ

8. MASUKNYA AIR KE TELINGA SAAT MANDI

Mandi disaat cuaca panas sangat menyegarkan tubuh, terlebih lagi ketika tubuh gerah dan berkeringat. Hal ini dimanfaatkan oleh sebagian orang yang tubuhnya mulai lemas karena berpuasa. Apakah masuknya air tanpa disengaja pada bagian anggota tubuh semisal telinga dapat membatalkan puasa ?

Jawab : Membatalkan puasa, kecuali ketika mandi wajib atau sunah. Referensi:

إعانة الطالبين الجزء الثانى صحـ : 265 مكتبة دار الفكر

(وَالْحَاصِلُ) أَنَّ الْقَاعِدَةَ عِنْدَهُمْ أَنَّ مَا سَبَقَ لِجَوْفِهِ مِنْ غَيْرِ مَأْمُوْرٍ بِهِ يُفْطِرُ بِهِ أَوْ مِنْ مَأْمُوْرٍ بِهِ وَلَوْ مَنْدُوْبًا لَمْ يُفْطِرْ وَيُسْتَفَادُ مِنْ هِذِهِ الْقَاعِدَةِ ثَلاَثَةُ أَقْسَامٍ اَلأَوَّلُ يُفْطِرُ مُطْلَقًا بَالَغَ أَوْ لاَ وَهَذَا فِيْمَا إِذَا سَبَقَ الْمَاءُ إِلَى جَوْفِهِ فِيْ غَيْرِ مَطْلُوْبٍ كَالرَّابِعَةِ وَكَانْغِمَاسٍ فِي الْمَاءِ لِكَرَاهَتِهِ لِلصَّائِمِ وَكَغُسْلِ تَبَرُّدٍ أَوْ تَنَظُفٍ الثَّانِيُّ يُفْطِرُ إِنْ بَالَغَ وَهَذَا فِيْمَا إِذَا سَبَقَهُ الْمَاءُ فِيْ نَحْوِ الْمَضْمَضَةِ الْمَطْلُوْبَةِ فِيْ نَحْوِ الْوُضُوْءِ الثَّالِثُ لاَ يُفْطِرُ مُطْلَقًا وَإِنْ بَالَغَ وَهَذَا عِنْدَ تَنَجُّسِِ الْفَمِّ لِوُجُوْبِ الْمُبَالَغَةِ فِيْ غَسْلِ النَّجَاسَةِ عَلَى الصَّائِمِ وَعَلَى غَيْرِهِ لِيَنْغَسِلَ كُلُّ مَا فِيْ حَدِّ الظَّاهِرِ اهـ

9. MEMAKAI OBAT TETES MATA

Kenyataan dimasyarakat, tidak sedikit yang harus dipertegas kembali mengenai sah dan tidaknya sebuah ibadah. Contoh kecil, seseorang yang sedang melaksanakan ibadah puasa mengobati matanya dengan Visin, ternyata obat tetes tersebut sangat terasa di tenggorokan. Apakah hal tersebut membatalkan puasa ?

Jawab: Puasanya tidak batal. Karena obat mata yang terasa di tenggorokan itu masuk melalui pori-pori, bukan lubang yang tembus ke tenggorokan, seperti hidung. Referensi :

حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء 2 صحـ : 73 مكتبة دار إحياء الكتب العربية

( وَلاَ ) يَضُرُّ ( اَلإِكْتِحَالُ وَإِنْ وَجَدَ طَعْمَهُ ) أَيْ الْكُحْلِ ( بِحَلْقِهِ ) ِلأَنَّهُ لاَ مَنْفَذَ مِنْ الْعَيْنِ إلَى الْحَلْقِ وَالْوَاصِلِ إلَيْهِ مِنْ الْمَسَامِّ ( وَكَوْنُهُ ) أَيْ الْوَاصِلِ ( بِقَصْدٍ فَلَوْ وَصَلَ جَوْفَهُ ذُبَابٌ أَوْ بَعُوضَةٌ أَوْ غُبَارُ الطَّرِيقِ أَوْ غَرْبَلَةُ الدَّقِيقِ لَمْ يُفْطِرْ ) ِلأَنَّ التَّحَرُّزَ عَنْ ذَلِكَ يَعْسُرُ وَلَوْ فَتَحَ فَاهُ عَمْدًا حَتَّى دَخَلَ الْغُبَارُ جَوْفَهُ لَمْ يُفْطِرْ عَلَى اْلأَصَحِّ فِي التَّهْذِيبِ اهـ

10. PEKERJA BERAT MEMBATALKAN PUASA

Kehidupan masyarakat yang di bawah garis kemiskinan sangat memperihatinkan. Mereka harus banting tulang, tidak mengenal lelah demi menutupi kebutuhan anak istrinya. Pekerjaan beratpun dianggap hal yang biasa, ketimbang tidak sama sekali. Apakah pekerja berat seperti kuli bangunan, penuai padi dan sesamanya boleh membatalkan puasa?

Jawab : Boleh, apabila dengan puasa akan mengalami kepayahan (masyaqqat). Referensi:

بشرى الكريم الجزء 2 صحـ : 72 مكتبة الحرمين

وَيَلْزَمُ أَهْلَ الْعَمَلِ الْمُشِقِّ فِيْ رَمَضَانَ كَالْحَصَّادِيْنَ وَنَحْوِهِمْ تَبْيِيْتُ النِّيَةِ ثُمَّ إِنْ لَحِقَهُ مِنْهُمْ مَشَقَّةٌ شَدِيْدَةٌ أَفْطَرَ وَإِلاَّ فَلاَ وَلاَ فَرْقَ بَيْنَ اْلأَجِيْرِ وَالْغَنِيِّ وَغَيْرِهِ أَوْ الْمُتَبَرِّعِ وَإِنْ وَجَدَ غَيْرَهُ وَتَأْتَّى لَهُم الْعَمَلُ لَيْلاً اهـ

11. JUMLAH QADLA PUASA TIDAK DIKETAHUI

Pintu taubat belum tertutup, selama nyawa masih dikandung badan dan bersungguh-sungguh insya Allah akan terampuni. Namun bertaubat tidak cukup hanya dengan penyesalan, disamping itu juga harus meng-qadlâ’-i semua kewajiban yang telah ditinggalkan, termasuk puasa. Berapakah puasa yang harus di-qadlâ’, bila seseorang lupa jumlah puasa yang ditinggalkannya ?

Jawab : Wajib meng-qadlâ’ puasa sampai yakin sudah dikerjakan semua. Referensi:

& حواشي الشرواني الجزء 3 صحـ : 396 مكتبة دار إحياء ااتراث العربي

وَلَوْ عَلِمَ أَنَّهُ صَامَ بَعْضَ اللَّيَالِي وَبَعْضَ اْلأَيَّامِ وَلَمْ يَعْلَمْ مِقْدَارَ اْلأَيَّامِ الَّتِي صَامَهَا فَظَاهِرٌ أَنَّهُ يَأْخُذُ بِالْيَقِينِ فَمَا تَيَقَّنَهُ مِنْ صَوْمِ اْلأَيَّامِ أَجْزَأَهُ وَقَضَى مَا زَادَ عَلَيْهِ سم اهـ

& إحياء علوم الدين الجزء الرابع صحـ : 35 مكتبة الهداية

فَإِنْ شَكَّ فِيْ عَدَدِ مَا فَاتَهُ مِنْهَا حُسِبَ مِنْ مُدَّةِ بُلُوْغِهِ وَتُرِكَ الْقَدْرُ الَّذِىْ يُسْتَيْقَنُ أَنَّهُ أَدَّاهُ وَيَقْضِى الْبَاقِىَ وَلَهُ أَنْ يَّأخُذَ فِيْهِ بِغَالِبِ الظَّنِّ وَيَصِلَ إِلَيْهِ عَلَى سَبِيْلِ التَّحَرِّىْ وَاْلإِجْتِهَادِ وَأَمَّا الصَّوْمُ فَإِنْ كَانَ قَدْ تَرَكَهُ فِيْ سَفَرٍ وَلَمْ يَقْضِهِ أَوْ أَفْطَرَ عَمْدًا أَوْ نَسِيَ النِّيَّةَ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَقْضِ فَيُتَعَرَّفُ مَجْمُوْعُ ذَلِكَ بِالتَّحَرِّىْ وَاْلإِجْتِهَادِ وَيَشْتَغِلُ بِقَضَائِهِ اهـ

12. PUASA WANITA YANG BELUM MANDI BESAR

Sebagaimana telah diketahui, bagi perempuan ketika keluar darah haid tidak boleh melakukan sebuah ibadah yang mensyaratkan niat atau suci dari hadats, seperti: shalat, thawaf dan sesamanya. Begitu pula sebaliknya, ia harus segera melakukan ibadah fardlu saat darah haid mulai berhenti. Sahkah ibadah puasanya perempuan yang sudah mampet dari haidnya akan tetapi belum mandi besar ?

Jawab: Sah. Referensi:

& حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء 1 صحـ : 115 مكتبة دار إحياء الكتب العربية

( فَإِذَا انْقَطَعَ ) أَيْ الْحَيْضُ ( لَمْ يَحِلَّ قَبْلَ الْغُسْلِ ) مِمَّا حَرُمَ ( غَيْرُ الصَّوْمِ وَالطَّلاَقِ ) فَيَحِلاََّنِ لاِنْتِفَاءِ مَانِعِ اْلأَوَّلِ وَالْمَعْنَى الَّذِي حَرُمَ لَهُ الثَّانِي قَوْلُهُ ( غَيْرُ الصَّوْمِ وَالطَّلاَقِ ) أَيْ وَالطُّهْرُ كَمَا فِي الْمَنْهَجِ وَعَلَّلَ الشَّارِحُ اْلأَوَّلَيْنِ ِلأَنَّهُ لَمْ يَذْكُرْ الثَّالِثَ وَعَلَّلَ الثَّلاَثَةَ فِي الْمَنْهَجِ بِقَوْلِهِ لاِنْتِفَاءِ عِلَّةِ التَّحْرِيمِ وَهِيَ الْمَانِعُ فِي الصَّوْمِ وَطُولُ الْمُدَّةِ فِي الطَّلاَقِ وَالتَّلاَعُبُ فِي الطُّهْرِ وَقِيلَ عِلَّةُ اْلأَوَّلِ اجْتِمَاعُ الْمُضْعِفَيْنِ كَمَا مَرّ اهـ

13. PAK SOPIR SERING MEMBATALKAN PUASA

Menikah dan berkeluarga bukan pekerjaan mudah, butuh kesiapan dzahir dan batin. Taruh saja sopir bus yang setiap harinya jauh dari keluarga karena tuntutan ekonomi. kehidupannya selalu di perjalanan menuju satu kota ke kota yang lain demi anak dan istri. Apakah bagi pak sopir setiap harinya diperbolehkan membatalkan puasa mengingat ia selalu bepergian ?

Jawab: Tidak boleh, karena akan meninggalkan kewajiban puasa selama-lamanya, kecuali ada niat meng-qadlâ’ puasa. Namun menurut Ibn Hajâr selama dalam bepergian boleh membatalkan puasa. Referensi :

كاشفا ة السجا صحـ :

وَالصَّوْمُ لِلْمُسَافِرِ أَفْضَلُ مِنَ الْفِطْرِ إِنْ لَمْ يَشُقَّ عَلَيْهِ ِلأَنَّ فِيْهِ بَرَاءَة َلذِّمَّةِ فَإِنْ شَقَّ عَلَيْهِ بِأَنْ لَحِقَهُ مِنْهُ نَحْوُ أَلَمٍ يَشُقُّ احْتِمَالُهُ عَادَةً فَالْفِطْرُ أَفْضَلُ أَمَّا إذَا خَشِيَ مِنْهُ تَلَفَ مَنْفَعَةِ عُضْوٍ فَيَجِبُ الْفِطْرُ فَإِنْ صَامَ عَصَى وَأَجْزَأَهُ وَمَحَلُّ جَوَازِ الْفِطْرِ لِلْمُسَافِرِ إِذَا رَجَا إِقَامَةً يَقْضِيْ فِيْهَا وَإِلاَّ بِأَنْ كَانَ مُدِيْمًا لَهُ وَلَمْ يُرْجَ ذَلِكَ فَلاَ يَجُوْزُ لَهُ الْفِطْرُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ ِلأَدَائِهِ إِلَى إِسْقاَطِ الْوُجُوْبِ بِالْكُلِّيَّةِ قَالَ ابْنُ حَجَرٍ بِالْجَوَازِ فَائِدَتُهُ فِيْمَا إِذَا أَفْطَرَ فِيْ أَيَّامِ الطَّوِيْلَةِ أَنْ يَّقْضِيَهُ فِيْ أَيَّامٍ أَقْصَرُ مِنْهَا إِنْتَهَى مِنَ الشَّرْقَاوِي وَالزِّيَادِي اهـ

حاشيتا قليوبي وعميرة الجزء 2 صحـ : 88 مكتبة دار إحياء الكتب العربية

كَذَا قَالَهُ شَيْخُنَا وَنَقَلَ الْعَلاَمَةُ ابْنُ قَاسِمٍ عَنْ شَيْخِنَا الرَّمْلِيِّ أَنَّهُ يَكْفِي تَمَكُّنُهُ فِي الْعَامِ اْلأَوَّلِ وَبِهَذَا عُلِمَ أَنَّهُ لاَ فِدْيَةَ عَلَى نَحْوِ الْهَرَمِ بِتَأْخِيرِ الْفِدْيَةِ لِعَدَمِ الْقَضَاءِ فِيهِ وَلاَ عَلَى مُدِيمِ السَّفَرِ لاِسْتِمْرَارِ عُذْرِهِ كَمَا مَرَّ اهـ

إعانة الطالبين الجزء الثانى صحـ : 267 مكتبة دار الفكر

وَيسْتَثْنَى مِنْ جَوَازِ الْفِطْرِ بِالسَّفَرِ مُدِيْمُ السَّفَرِ فَلاَ يُبَاحُ لَهُ الْفِطْرُ ِلأَنَّهُ يُؤَدِّيْ إِلَى إِسْقَاطِ الْوُجُوْبِ بِالْكُلَّيَّةِ إِلاَّ أَنْ يَقْصِدَ قَضَاءً فِيْ أَيَّامٍ أَخَرَ فِيْ سَفَرِهِ وَمِثْلُهُ مَنْ عَلِمَ مَوْتَهُ عَقِبَ الْعِيْدِ فَيَجِبُ عَلَيْهِ الصَّوْمُ إِنْ كَانَ قَادِرًا فَجَوَازُ الْفِطْرِ لِلْمُسَافِرِ إِنَّمَا هُوَ فِيْمَنْ يَرْجُوْ إِقَامَةً يَقْضِيْ فِيْهَا وَهَذَا هُوَ مَا جَرَى عَلَيْهِ السُّبُكِيُّ وَاسْتَظْهَرَهُ فِي النِّهَايَةِ اهـ

14. MENELAN LUDAH KETIKA GUSI BERDARAH

Dalam melaksanakan ritual puasa banyak hal yang perlu diketahui terkait masalah batal dan tidaknya puasa. Sebut saja kang Asror, entah karena apa, disaat sedang berpuasa gusinya sering mengeluarkan darah. akibatnya percampuran air ludah dan darah sulit dihindari. Hal ini akan menjadi problem ketika ia mau menelan ludahnya. Apakah puasanya kang Asror batal saat menelan ludah ?

Jawab : Batal, kecuali jika darah yang keluar dari gusi tersebut terus menerus. Dengan demikian hal itu termasuk masyaqqat. Referensi:

& بُغْيَةُ المْسُتَرْشِدِيْنَ للِسَيّدِ باعَلَوِي الحضرمي صحـ : 182 مكتبة دار الفكر

(مَسْأَلَةُ ك) يُعْفَى عَنْ دَمِّ اللِّثَّةِ الَّذِيْ يَجْرِيْ دَائِماً أَوْ غَالِباً وَلاَ يُكَلَّفُ غَسْلٌ فِيْهِ لِلْمَشَقَّةِ بِخِلاَفِ مَا لَوِ احْتَاجَ لِلْقَيْءِ بِقَوْلِ طَبِيْبٍ فَالَّذِيْ يَظْهَرُ الْفِطْرُ بِذَلِكَ نَظِيْرُ إِخْرَاجِ الذُّبَابَةِ وَلَوِ ابْتُلِيَ بِدُوْدٍ فِيْ بَاطِنِهِ فَأَخْرَجَهُ بِنَحْوِ أُصْبُِعِهِ لَمْ يُفْطِرْ إِنْ تَعَيَّنَ طَرِيْقاً قِيَاسًا عَلَى إِدْخَالِهِ الْبَاسُوْرَ بِهِ اهـ

& أسنى المطالب الجزء 1 صـ : 417 مكتبة دار الكتاب الإسلامي

وَيُفْطِرُ بِهِ إنْ تَنَجَّسَ كَمَنْ دَمِيَتْ لِثَتُهُ أَوْ أَكَلَ شَيْئًا نَجْسًا وَلَمْ يَغْسِلْ فَمَهُ حَتَّى أَصْبَحَ وَإِنِ ابْيَضَّ رِيقُهُ ( قَوْلُهُ كَمَنْ دَمِيَتْ لِثَتُهُ ) قَالَ اْلأَذْرَعِيُّ لاَ يَبْعُدُ أَنْ يُقَالَ مَنْ عَمَّتْ بَلْوَاهُ بِدَمِ لِثَتِهِ بِحَيْثُ يَجْرِي دَائِمًا أَوْ غَالِبًا أَنَّهُ يُتَسَامَحُ بِمَا يَشُقُّ اَلإِحْتِرَازُ عَنْهُ وَيَكْفِي بَصْقُهُ الدَّمَ وَيُعْفَى عَنْ أَثَرِهِ وَلاَ سَبِيلَ إلَى تَكْلِيفِهِ غَسْلُهِ جَمِيعَ نَهَارِهِ إِذَا الْفَرْضُ أَنَّهُ يَجْرِي دَائِمًا أَوْ يَتَرَشَّحُ وَرُبَّمَا إِذَا غَسَلَهُ زَادَ جَرَيَانُهُ اهـ

& تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 1 صحـ : 321 مكتبة دار إحياء التراث العربي

وَتَقَدَّمَ عَنْ ع ش أَنَّهُ لَوِ ابْتُلِيَ شَخْصٌ بِدَمْيِ اللِّثَةِ بِأَنْ يَكْثُرَ وُجُودُهُ مِنْهُ بِحَيْثُ يَقِلُّ خُلُوُّهُ عَنْهُ يُعْفَى عَنْهُ اهـ

15. MENETESKAN OBAT DI TELINGA

Kesehatan jasmani sangat mahal harganya. Orang yang menderita sakit, meskipun hanya ditelinga, akan kebingungan karenanya. Bahkan berbagai upaya ia lakukan demi kesembuhan penyakitnya. Sahkah puasa seseorang yang menaruh obat dilubang telinganya, mengingat ia merasa kesakitan ?

Jawab: Sah, jika yakin obat tersebut bisa menyembuhkan atau menghilangkan rasa sakit, karena termasuk dlarûrat. Referensi:

& بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي صحـ : 182 مكتبة دار الفكر

(فَائِدَةٌ) اُبْتُلِيَ بِوَجَعٍ فِيْ أُذُنِهِ لاَ يُحْتَمَلُ مَعَهُ السُّكُوْنُ إِلاَّ بِوَضْعِ دَوَاءٍ يُسْتَعْمَلُ فِيْ دُهْنٍ أَوْ قُطْنٍ وَتَحَقَّقَ التَّخْفِيْفُ أَوْ زَوَالُ اْلأَلَمِ بِهِ بِأَنْ عَرَفَ مِنْ نَفْسِهِ أَوْ أَخْبَرَهُ طَبِيْبٌ جَازَ ذَلِكَ وَصَحَّ صَوْمُهُ لِلضَّرُوْرَةِ اهـ فتاوي باحويرث

16. MENGGOSOK GIGI DENGAN PASTA GIGI

Sering kita temui, ketika seseorang bersiwakan atau menggosok gigi, alat siwak atau sikat giginya dibasahi dengan air. Hal ini sangat rawan sekali, air bekas basuhan alat siwak atau sikat gigi tersebut ikut tertelan bersamaan dengan ludah. Apakah hal yang demikian dapat membatalkan puasa ?

Jawab: Batal, jika air yang digunakan untuk membasahi siwak atau sikat gigi tersebut ikut tertelan. Referensi:

& حاشية الجمل الجزء 2 صحـ : 230 مكتبة دار الفكر

( قَوْلُهُ أَوْ مُخْتَلِطًا بِغَيْرِهِ ) مِثْلُهُ مَا لَوْ بَلَّ خَيْطًا بِرِيقِهِ وَرَدَّهُ إلَى فَمِهِ كَمَا يُعْتَادُ عِنْدَ الْفَتْلِ وَعَلَيْهِ رُطُوبَةٌ تَنْفَصِلُ وَابْتَلَعَهَا أَوِ ابْتَلَعَ رِيقَهُ مَخْلُوطًا بِغَيْرِهِ الطَّاهِرِ كَمَنْ فَتَلَ خَيْطًا مَصْبُوغًا تَغَيَّرَ رِيقُهُ بِهِ أَيْ وَلَوْ بِلَوْنٍ أَوْ رِيحٍ فِيمَا يَظْهَرُ مِنْ إِطْلاَقِهِمْ إنِ انْفَصَلَتْ عَيْنٌ مِنْهُ لِسُهُولَةِ التَّحَرُّزِ عَنْ ذَلِكَ وَمِثْلُهُ كَمَا فِي اْلأَنْوَارِ مَا لَوِ اسْتَاكَ وَقَدْ غَسَلَ السِّوَاكَ وَبَقِيَتْ فِيهِ رُطُوبَةٌ تَنْفَصِلُ وَابْتَلَعَهَا وَخَرَجَ بِذَلِكَ مَا لَوْ لَمْ يَكُنْ عَلَى الْخَيْطِ مَا يَنْفَصِلُ بِفَتْلِهِ أَوْ عَصْرِهِ أَوْ لِجَفَافِهِ فَإِنَّهُ لاَ يَضُرُّ اهـ

17. MASUKNYA DAHAK KE DALAM PERUT

Seseorang yang terserang penyakit flu, biasanya hidung tersumbat akibat banyaknya dahak di dalamnya. Terkadang dahak tersebut tertelan dengan sendirinya karena sulitnya untuk menahan agar tidak tertelan. Batalkah puasa seseorang yang di rongga hidungnya terdapat dahak, kemudian masuk ke dalam perutnya ?

Jawab: Dipeinci;

- Jika telah mencapai batas luar tenggorokan, maka haram menelan dan membatalkan puasa.

- Jika masih di batas dalam tenggorokan, maka boleh dan tidak membatalkan puasa.

Yang dimaksud batas luar menurut pendapat Imam Nawawi (mu’tamad) adalah makhroj huruf kha’ (ح), dan dibawahnya adalah batas dalam. Sedangkan menurut sebagian ulama’ batas luar adalah makhroj huruf kho’(خ), dan di bawahnya adalah batas dalam. Referensi:

& كفاية الأخيار الجزء الأول صحـ : 205 مكتبة دار إحياء الكتب

وَلَوْ نَزَلَتْ نُخَامَةٌ مِنْ رَأْسِهِ وَصَارَتْ فَوْقَ الْحُلْقُوْمِ نُظِرَ إِنْ لَمْ يَقْدِرْ عَلَى إِخْرَاجِهَا ثُمَّ نَزَلَتْ إِلَى الْجَوْفِ لَمْ يُفْطِرْ وَإِنْ قَدَرَ عَلَى إِخْرَاجِهَا وَتَرَكَهَا حَتَّى نَزَلَتْ بِنَفْسِهَا أَفْطَرَ أَيْضًا لِتَقْصِيْرِهِ اهـ

18. MAKAN KARENA LUPA

Sering terjadi, seseorang yang sedang puasa pada awal-awal bulan Ramadlan, lupa akan puasanya. Akhirnya ia makan dengan sepuas-puasnya hingga kekenyangan. Apakah puasa dalam kasus diatas dihukumi batal mengingat ia makan sampai kekenyangan ?

Jawab: Terjadi perbedaan pendapat. Menurut Imam an-Nawâwi hukum puasanya tidak batal. Sementara menurut Imam ar-Rôfi'i batal. Referensi:

& كفاية الأخيار الجزء الأول صحـ : 206 مكتبة دار إحياء الكتب

وَلَوْ أَكَلَ نَاسِيًا لِلصَّوْمِ لَمْ يُفْطِرْ فِي الصَّحِيحَيْنِ مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ فَلَوْ كَثُرَ وَجْهَانِ اَْلأَصَحُّ عِنْدَ الرَّافِعِيّ يُفْطِرُ ِلأَنَّ النِّسْيَانَ مَعَ الْكَثْرَةِ نَادِرٌ وَلِهَذَا قُلْنَا تَبْطُلُ الصَّلاَةُ بِالْكَلاَمِ الْكَثِيرِ وَإِنْ كَانَ نَاسِيًا وَاْلأَصَحُّ عِنْدَ النَّوَوِيّ أَنَّهُ لاَ يُفْطِرُ لِعُمُوْمِ اْلأَخْبَارِ وَلَيْسَ الصَّوْمُ كَالصَّلاَةِ وَالْفَرْقُ أَنَّ لِلصَّلاَةِ أَفْعَالاً وَأَقْوَالاً تُذَكِّرِهُ الصَّلاَةُ فَيَنْدُرُ وُقُوْعُ ذَلِكَ مِنْهُ بِخِلاَفِ الصَّوْمِ اهـ

19. MENDUGA WAKTU BERBUKA SUDAH TIBA

Sambil menunggu buka puasa, biasanya masyarakat mencari kesibukan masing-masing, semisal ngaji, mendengarkan siraman rohani dsb. Tiba-tiba ketika menjelang maghrib, ternyata listrik padam disertai mendung menyelimuti langit. Sehingga mereka kesulitan mencari informasi waktu adzan Magrib. Karena sudah lama menunggu, akhirnya mereka menduga bahwa waktu berbuka puasa telah tiba. Namun di tengah-tengah berbuka, mereka mendengar adzan Maghrib baru dikumandangkan. Sahkah puasa seseorang sebagaimana deskripsi di atas ?

Jawab : Puasanya tidak sah dan wajib meng-qadlâ’, kalau memang saat ia berbuka, waktu maghrib belum tiba. Referensi:

& كفاية الأخيار الجزء الأول صحـ : 206 مكتبة دار إحياء الكتب

وَأَمَّا مَعْرِفَةُ طَرَفَيِ النَّهَارِ فَلاَ بُدََّ مِنْ ذَلِكَ فِي الْجُمْلَةِ لِصِحَّةِ الصَّوْمِ وَحَتَّى لَوْ نَوَى بَعْدَ طُلُوْعِ الْفَجْرِ لاَ يَصِحُّ صَوْمُهُ أَوْ أَكَلَ مُعْتَقِدًا أَنَّهُ لَيْلٌ وَكَانَ قَدْ طَلَعَ الْفَجْرُ لَزِمَهُ الْقَضَاءُ وَكَذَا لَوْ أَكَلَ مُعْتَقِدًا أَنَّهُ قَدْ دَخَلَ اللَّيْلُ ثُمَّ بَانَ خِلاَفُهُ لَزِمَهُ الْقَضَاءُ اهـ

20. PUASANYA ORANG PINGSAN

Entah karena apa, seseorang yang sedang berpuasa pingsan disiang hari, kemudian siuman kembali sesaat sebelum maghrib tiba. Apakah puasanya tetap sah dalam kasus di atas ?

Jawab: Menurut Imam ar-Romli hukum puasanya tetap sah, jika disiang harinya siuman walaupun sebentar. Referensi:

& حاشية الجمل الجزء 2 صحـ : 324 مكتبة دار الفكر

( قَوْلُهُ وَلاَ إغْمَاءٌ أَوْ سُكْرٌ بَعْضَهُ ) عِبَارَةُ أَصْلِهِ مَعَ شَرْحِ م ر وَاْلأَظْهَرُ أَنَّ اَْلإغْمَاءَ لاَ يَضُرُّ إذَا أَفَاقَ لَحْظَةً مِنْ نَهَارِهِ أَيَّ لَحْظَةٍ كَانَتْ اكْتِفَاءً بِالنِّيَّةِ مَعَ اَْلإفَاقَةِ فِي جُزْءٍ ِلأَنَّهُ فِي اَلإِسْتِيلاَءِ عَلَى الْعَقْلِ فَوْقَ النَّوْمِ وَدُونَ الْجُنُونِ فَلَوْ قُلْنَا إنَّ الْمُسْتَغْرِقَ مِنْهُ لاَ يَضُرُّ كَالنَّوْمِ لألحَقْنَا اْلأَقْوَى بِاْلأَضْعَفِ وَلَوْ قُلْنَا إنَّ اللَّحْظَةَ مِنْهُ تَضُرُّ كَالْجُنُونِ لألحَقْنَا الأَضْعَفِ ِاْلأَقْوَى فَتَوَسَّطْنَا وَقُلْنَا إنَّ اَْلإفَاقَةَ فِي لَحْظَةٍ كَافِيَةٌ وَالثَّانِي يَضُرُّ مُطْلَقًا وَالثَّالِثُ لاَ يَضُرُّ إذَا أَفَاقَ أَوَّلَ النَّهَارِ اهـ

21. MEMBATALKAN PUASA SUNAH

Sebagaimana kita ketahui, bahwa membatalkan puasa wajib seperti puasa Ramadlan hukumnya tidak boleh jika tidak ada udzur. Bagaimana hukum membatalkan puasa sunah?

Jawab : Makruh, jika tidak ada udzur. Referensi:

& كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار الجزء 1 صحـ : 215 مكتبة دار إحياء الكتب

وَمَنْ شَرَعَ فِيْ صَوْمِ تَطَوُّعٍ لَمْ يَلْزَمْهُ إِتْمَامُهُ وَيُسْتَحَبُّ لَهُ اَلإِتْمَامُ فَلَوَ خَرَجَ مِنْهُ فَلاَ قَضَاءَ لَكِنْ يُسْتَحَبُّ وَهَلْ يُكْرَهُ أَنْ يُخْرِجَ مِنْهُ ؟ نَظَرٌ إِنْ خَرَجَ لِعُذْرٍ لَمْ يُكْرَهْ وَ إِلاَّ كُرِهَ وَمِنَ الْعُذْرِ أَنْ يُعَزَّ عَلَى مَنْ يُضِيْفُهُ امْتِنَاعُهُ مِنَ اْلأَكْلِ اهـ

22. MASUKNYA DEBU KE MULUT

Ketika musim kemarau tiba, biasanya debu halus beterbangan kemana-mana akibat tiupan angin yang lumayan kencang, lebih-lebih di daerah yang tanahnya tandus. Apakah masuknya debu ke mulut dapat membatalkan puasa?

Jawab: Tidak batal, asalkan tidak disengaja. Namun bila disengaja, seperti membuka mulutnya, maka terjadi perbedaan pendapat, menurut qaul Ashah tetap tidak batal. Referensi:

& المجموع الجزء 6 صحـ : 358 مطبعة المنيرية

( فَرْعٌ ) اتَّفَقَ أَصْحَابُنَا عَلَى أَنَّهُ لَوْ طَارَتْ ذُبَابَةٌ فَدَخَلَتْ جَوْفَهُ أَوْ وَصَلَ إلَيْهِ غُبَارُ الطَّرِيقِ أَوْ غَرْبَلَةُ الدَّقِيقِ بِغَيْرِ تَعَمُّدٍ لَمْ يُفْطِرْ قَالَ أَصْحَابُنَا وَلاَ يُكَلَّفُ إطْبَاقُ فَمِهِ عِنْدَ الْغُبَارِ وَالْغَرْبَلَةِ ِلأَنَّ فِيهِ حَرَجًا فَلَوْ فَتَحَ فَمَهُ عَمْدًا حَتَّى دَخَلَهُ الْغُبَارُ وَوَصَلَ جَوْفَهُ فَوَجْهَانِ حَكَاهُمَا الْبَغَوِيُّ وَالْمُتَوَلِّيُ وَغَيْرُهُمَا قَالَ الْبَغَوِيُّ ( أَصَحُّهُمَا ) لاَ يُفْطِرُ ِلأَنَّهُ مَعْفُوٌّ عَنْ جِنْسِهِ ( وَالثَّانِيُّ ) يُفْطِرُ لِتَقْصِيرِهِ وَهُوَ شَبِيهٌ بِالْخِلاَفِ السَّابِقِ فِي دَمِ الْبَرَاغِيثِ إذَا كَثُرَ وَفِيمَا إذَا تَعَمَّدَ قَتْلَ قَمْلَةٍ فِي ثَوْبِهِ وَصَلَّى وَنَظَائِرِ ذَلِكَ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ اهـ

23. AIR MASUK KETELINGA SAAT MANDI

Sepasang pasutri dimalam bulan Ramadlan melakukan hubungan intim. Anehnya pada saat waktu sahur, mereka tidak langsung mandi besar akan tetapi menunggu waktu subuh tiba. Akibatnya, saat mereka mandi besar telinganya kemasukan air, sementara mereka dalam keadaan puasa. Apakah telinga yang kemasukan air ketika mandi besar dapat membatalkan puasa ?

Jawab: Tidak mambatalkan puasa. Referensi:

& الفتاوى الفقهية الكبرى الجزء 2 صحـ : 74 مكتبة الإسلامية

( وَسُئِلَ ) فَسَّحَ اللَّهُ فِي مُدَّتِهِ عَنِ الصَّائِمِ إذَا دَخَلَ الْمَاءُ فِي أُذُنَيْهِ لِغَسْلِ مَا ظَهَرَ مِنْهُمَا عَنْ جَنَابَةٍ أَوْ لِنَحْوِ جُمْعَةٍ فَسَبَقَهُ الْمَاءُ إلَى بَاطِنِهِمَا فَهَلْ يُفْطِرُ أَوْ لاَ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ لاَ يُفْطِرُ بِذَلِكَ كَمَا ذَكَرَهُ بَعْضُهُمْ وَإِنْ بَالَغَ لاِسْتِيفَاءِ الْغُسْلِ كَمَا لَوْ سَبَقَ الْمَاءُ مَعَ الْمُبَالَغَةِ لِغَسْلِ نَجَاسَةِ الْفَمِ وَإِنَّمَا أَفْطَرَ بِالْمُبَالَغَةِ فِي الْمَضْمَضَةِ لِحُصُولِ السُّنَّةِ بِمُجَرَّدِ وَضْعِ الْمَاءِ فِي الْفَمِ فَالْمُبَالَغَةُ تَقْصِيرٌ وَهُنَا لاَ يَحْصُلُ مَطْلُوبُهُ مِنْ غَسْلِ الصِّمَاخِ إلاَ بِالْمُبَالَغَةِ غَالِبًا فَلاَ تَقْصِيرَ اهـ

24. MENYENTUH ANUS BAGI ORANG PUASA

Ber-istinjâ’ harus dilakukan dengan maksimal supaya kotoran dapat benar-benar dibersihkan. Di sisi lain, bagi orang yang berpuasa masuknya jari ke rongga dubur dapat membatalkan puasa. Sebatas mana masuknya jari ke rongga dubur dapat membatalkan puasa ?

Jawab: Ketika jari-jari masuk ke bagian dalam anus. Jika hanya menyentuh permukaan anus, maka tidak membatalkan. Referensi:

& الفتاوى الفقهية الكبرى الجزء 2 صحـ : 74 مكتبة الإسلامية

وَمُلَخَّصُ عِبَارَتِهِ يَنْبَغِي لِلصَّائِمِ حِفْظُ أُصْبُعِهِ حَالَ اَلإِسْتِنْجَاءِ مِنْ مَسْرَبَتِهِ فَإِنَّهُ لَوْ دَخَلَ فِيهِ أَدْنَى شَيْءٍ مِنْ رَأْسِ أُنْمُلَتِهِ بَطَلَ صَوْمُهُ قَالَ السُّبْكِيُّ وَهُوَ ظَاهِرٌ إنْ وَصَلَ لِلْمَكَانِ الْمُجَوَّفِ أَمَّا أَوَّلُ الْمَسْرَبَةِ الْمُنْطَبِِِقِ فَإِنَّهُ لاَ يُسَمَّى جَوْفًا فَلاَ فِطْرَ بِالْوُصُولِ إلَيْهِ اهـ

25. DAMPAK TIDAK GOSOK GIGI SEHABIS SAHUR

Mas Paijo sehabis sahur langsung tidur lagi tanpa terlebih dahulu menggosok gigi. Akibatnya, sisa-sisa makanan masih terselip diantara sela-sela gigi-giginya. Disiang harinya, sisa-sisa makanan tersebut ada yang terbawa ketika menelan air ludahnya.

Pertanyaan :

a. Apakah puasa mas Paijo batal dalam kasus di atas ?

b. Wajibkah bagi mas Paijo menggosok gigi pada malam harinya, supaya mulut dalam keadaan bersih ketika berpuasa ?

Jawab:

a. Batal, jika pada saat menelan ludahnya ia mampu mengeluarkan sisa makanan tersebut.

b. Tidak wajib, namun hal itu sangat dianjurkan. Referensi:

& فتاوى الرملي الجزء 2 صحـ : 72 مكتبة الإسلامية

( سُئِلَ ) عَنْ قَوْلِ الْمِنْهَاجِ وَلَوْ بَقِيَ طَعَامٌ بَيْنَ أَسْنَانِهِ فَجَرَى بِهِ رِيْقُهُ لَمْ يُفْطِرْ إنْ عَجَزَ عَنْ تَمْيِيزِهِ وَمَجِّهِ هَلْ مُرَادُهُ بِالْعَجْزِ عَنْ التَّمْيِيزِ وَالْمَجِّ فِي حَالَةِ جَرْيِهِ فَقَطْ حَتَّى لَوْ قَدَرَ عَلَى إخْرَاجِهِ مِنْ بَيْنِ أَسْنَانِهِ فَلَمْ يَفْعَلْ لاَ يُفْطِرُ أَوْ مُرَادُهُ أَعَمُّ مِنْ أَنْ يَكُونَ بَيْنَ اْلأَسْنَانِ أَوْ حَالَةَ الْجَرْيِ ( فَأَجَابَ ) بِأَنَّ مُرَادَهُ بِالْعَجْزِ عَنْ التَّمْيِيزِ وَالْمَجِّ فِي حَالَةِ جَرْيِهِ وَإِنْ قَدَرَ وَلَوْ نَهَارًا عَلَى إخْرَاجِهِ مِنْ بَيْنِ أَسْنَانِهِ فَلَمْ يَفْعَلْ اهـ

& نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج الجزء 3 صحـ : 172 مكتبة دار الفكر

(وَهَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ الْخِلاَلُ لَيْلاً إذَا عَلِمَ بَقَايَا بَيْنَ أَسْنَانِهِ يَجْرِي بِهَا رِيقُهُ نَهَارًا وَلاَ يُمْكِنُهُ التَّمْيِيزُ وَالْمَجُّ) اْلأَوْجَهُ كَمَا هُوَ ظَاهِرُ كَلاَمِهِمْ عَدَمُ الْوُجُوبِ وَيُوَجَّهُ بِأَنَّهُ إنَّمَا يُخَاطَبُ بِوُجُوبِ التَّمْيِيزِ وَالْمَجِّ عِنْدَ الْقُدْرَةِ عَلَيْهِمَا فِي حَالِ الصَّوْمِ فَلاَ يَلْزَمُهُ تَقْدِيمُ ذَلِكَ عَلَيْهِ لَكِنْ يَنْبَغِي أَنْ يَتَأَكَّدَ لَهُ ذَلِكَ لَيْلاًوَأَشَارَ اْلأَذْرَعِيُّ إلَى أَنَّ مَحَلَّ إيجَابِهِ عِنْدَ مَنْ يَقُولُ بِالْفِطْرِ مِمَّا تَعَذَّرَ تَمْيِيزُهُ وَمَجُّهُ وَقَدْ أَفْتَى الْوَالِدُ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِأَنَّ مُرَادَهُ بِالْعَجْزِ عَنْ التَّمْيِيزِ وَالْمَجِّ فِي حَالَةِ صَيْرُورَتِهِ وَإِنْ قَدَرَ عَلَى إخْرَاجِهِ مِنْ بَيْنِ أَسْنَانِهِ فَلَمْ يَفْعَلْ اهـ

26. MENINGGAL SEBELUM MENG-QADLÂ’ PUASA

Pak Durahem mempunyai tanggungan qadlâ’ puasa, karena pada saat bulan Ramadlan Ia menderita sakit. Setelah sembuh dari sakitnya, Ia tidak segera meng-qadlâ’-i puasanya dan beralasan bahwa bulan Ramadlan yang akan datang masih lama. Namun tak disangka-sangka ternyata ajal menjemputnya sebelum Ia sempat meng-qadlâ’-inya. Apakah ia termasuk meninggal dalam keadaan maksiat ?

Jawab : Menurut pendapat yang kuat, ia tidak termasuk meninggal dalam keadaan maksiat. Referensi :

& فتاوى الرملي الجزء 2 صحـ : 63 مكتبة الإسلامية

( سُئِلَ ) عَمَّنْ فَاتَهُ شَيْءٌ مِنْ رَمَضَانَ بِعُذْرٍ وَمَاتَ مِنْ غَيْرِ قَضَائِهِ بَعْدَ تَمَكُّنِهِ مِنْهُ هَلْ يَمُوتُ بِهِ عَاصِيًا أَوْ لاَ وَمَا الْمَنْقُولُ فِي ذَلِكَ مَبْسُوطًا مَعْزُوًّا لِقَائِلِهِ ( فَأَجَابَ ) بِأَنَّهُ يَمُوتُ عَاصِيًا وَعِصْيَانُهُ مِنْ آخِرِ زَمَنِ اَْلإمْكَانِ وَعِبَارَةُ جَمْعِ الْجَوَامِعِ وَمَنْ أَخَّرَ مَعَ ظَنِّ السَّلاَمَةِ فَالصَّحِيحُ لاَ يَعْصِي بِخِلاَفِ مَا وَقْتُهُ الْعُمْرُ كَالْحَجِّ وَقَالَ الْعِرَاقِيُّ فِي شَرْحِهَا أَمَّا الْمُوَسَّعُ بِمُدَّةِ الْعُمْرِ كَالْحَجِّ وَقَضَاءِ الْفَائِتَةِ بَعْدَ زَمَانِهِ يَعْصِي فِيهِ بِالْمَوْتِ عَلَى الصَّحِيحِ وَإِنْ لَمْ يَغْلِبْ عَلَى ظَنِّهِ قَبْلَ ذَلِكَ الْمَوْتُ وَقِيلَ لاَ وَقِيلَ يَعْصِي الشَّيْخُ دُونَ الشَّابِّ وَقَالَ الْكُورَانِيُّ فِي شَرْحِهَا بِخِلاَفِ مَا وَقْتُهُ الْعُمْرُ كَالْحَجِّ وَقَضَاءِ الْوَاجِبَاتِ ِلأَنَّهُ بِالْمَوْتِ تَبَيَّنَ إخْرَاجُ الْوَاجِبِ عَنْ الْوَقْتِ بِخِلاَفِ الْمُوَقَّتِ بِغَيْرِ الْعُمْرِ اهـ وَأَيْضًا لَوْ قِيلَ يَجُوزُ لَهُ التَّأْخِيرُ أَبَدًا وَإِذَا مَاتَ قَبْلَ الْفِعْلِ لَمْ يَعْصِ لَمْ يَتَحَقَّقْ الْوُجُوبُ وَقَالَ الْبِرْمَاوِيُّ فِي شَرْحِ أَلْفِيَّتِهِ مَا كَانَ آخِرُهُ آخِرَ الْعُمْرِ كَالْحَجِّ إنْ قُلْنَا بِالْمُرَجَّحِ أَنَّهُ عَلَى التَّرَاخِي لاَ الْفَوْرِ وَكَقَضَاءِ الْعِبَادَةِ الَّتِي فَاتَتْ بِعُذْرٍ مِنْ صَلاَةٍ أَوْ صِيَامٍ إذَا أَخَّرَ مَعَ ظَنِّ السَّلاَمَةِ وَمَاتَ قَبْلَ الْفِعْلِ مَاتَ عَاصِيًا ِلأَنَّهُ لَمَّا لَمْ يَعْلَمْ الْآخَرَ كَانَ جَوَازُ التَّأْخِيرِ لَهُ مَشْرُوطًا بِسَلاَمَةِ الْعَاقِبَةِ بِخِلاَفِ الْمُوَسَّعِ الْمَعْلُومِ الطَّرَفَيْنِ اهـ

27. LAILAT AL-QADAR

Malam lailat al-qadar merupakan malam yang penuh berkah. Di dalam al-Qur’an sendiri diakui sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Namun bagi orang yang ingin mendapatkanya, bagaikan mencari permata di dasar lautan. Apakah untuk mendapatkan pahala yang dijanjikan pada malam lailat al-qadar harus mengetahui bahwa malam itu adalah malam lailat al-qadar?

Jawab: Ya, harus mengetahui, untuk mendapatkan pahala yang dijanjikan. Akan tetapi bagi mereka yang tidak mengetahuinya, tetap mendapatkan pahala berupa terampuni semua dosa-dosa. Referensi:

& فتاوى الرملي الجزء 2 صحـ : 67 مكتبة الإسلامية

( سُئِلَ ) عَمَّنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ هَلْ يُتَوَقَّفُ حُصُولُ ثَوَابِهِ الْمَذْكُورِ فِي الْحَدِيثِ عَلَى عِلْمِهِ بِهَا كَمَا قَالَهُ النَّوَوِيُّ أَمْ لاَ ( فَأَجَابَ ) بِأَنَّهُ قَدْ قَالَ شَيْخُ اَْلإسْلاَمِ الشِّهَابُ ابْنُ حَجَرٍ اِخْتَلَفُوا هَلْ يَحْصُلُ الثَّوَابُ الْمُتَرَتَّبُ عَلَيْهَا لِمَنِ اتَّفَقَ أَنَّهُ قَامَهَا وَإِنْ لَمْ يَظْهَرْ لَهُ شَيْءٌ أَوْ يَتَوَقَّفُ ذَلِكَ عَلَى كَشْفِهَا وَإِلَى اْلأَوَّلِ ذَهَبَ الطَّبَرِيُّ وَالْمُهَلَّبُ وَابْنُ الْمُقْرِي وَجَمَاعَةٌ وَإِلَى الثَّانِي ذَهَبَ اْلأَكْثَرُ وَيَدُلُّ لَهُ مَا وَقَعَ عِنْدَ مُسْلِمٍ فِي حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ بِلَفْظِ مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَيُوَافِقُهَا وَفِي حَدِيثِ عُبَادَةَ عِنْدَ أَحْمَدَ مَنْ قَامَهَا إيمَانًا وَاحْتِسَابًا ثُمَّ وُقِفَتْ لَهُ قَالَ النَّوَوِيُّ مَعْنَى يُوَافِقُهَا أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ يُوَافِقُهَا فِي نَفْسِ اْلأَمْرِ وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ هُوَ ذَلِكَ قَالَ ابْنُ حَجَرٍ وَتَفْسِيرُ الْمُوَافَقَةِ بِالْعِلْمِ بِهَا هُوَ الَّذِي يَتَرَجَّحُ فِي نَظَرِي وَلاَ أُنْكِرُ حُصُولَ الثَّوَابِ الْجَزِيلِ لِمَنْ قَامَ لاِبْتِغَاءِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِهَا وَإِنَّمَا الْكَلاَمُ عَلَى حُصُولِ الثَّوَابِ الْمُعَيَّنِ الْمَوْعُودِ بِهِ اهـ وَالرَّاجِحُ مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى اْلأَوَّلُ فَقَدْ قَالَ الْمُتَوَلِّيُ يُسْتَحَبُّ التَّعَبُّدُ فِي كُلِّ لَيَالِي الْعَشْرِ حَتَّى يَجُوزَ الْفَضِيلَةَ بِيَقِينٍ اهـ وَيُمْكِنُ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا بِحَمْلِ اْلأَوَّلِ عَلَى حُصُولِ ذَلِكَ الْغُفْرَانِ وَالثَّانِي عَلَى زِيَادَةِ حُصُولِ الثَّوَابِ الْمَوْعُودِ بِهِ وَنَحْوِهِ اهـ

28. KEBIASAAN BERSENDAWA (JAWA; GLEGE’EN)

Pak Hasan mempunyai kebiasaan bersendawa (jawa; glege’en) setelah melahap makanan dalam porsi yang lumayan banyak. Terkadang saat ia bersendawa, makanan yang didalam perutnya keluar kembali seperti orang yang muntah. Apakah baginya diperbolehkan makan sahur dengan porsi jumbo, mengingat di pagi harinya, ia akan mengalami sendawa dan mengeluarkan makanan dari perutnya?

Jawab : Diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa, sekalipun hal itu terjadi berulang-berulang. Asalkan makanan yang keluar dari perutnya tersebut tidak ditelan lagi dan diharuskan berkumur. Referensi:

& حاشية الجمل الجزء 2 صحـ : 316 مكتبة دار الفكر

( فَرْعٌ ) أَكَلَ أَوْ شَرِبَ لَيْلاً كَثِيرًا وَعُلِمَ مِنْ عَادَتِهِ أَنَّهُ إذَا أَصْبَحَ حَصَلَ لَهُ جَشًّا يَخْرُجُ بِسَبَبِهِ مَا فِي جَوْفِهِ هَلْ يَمْتَنِعُ عَلَيْهِ كَثْرَةُ مَا ذُكِرَ أَمْ لاَ وَهَلْ إذَا خَالَفَ وَخَرَجَ مِنْهُ يُفْطِرُ أَمْ لاَ فِيهِ نَظَرٌ وَيُجَابُ عَنْهُ بِأَنَّهُ لاَ يُمْنَعُ مِنْ كَثْرَةِ ذَلِكَ لَيْلاً وَإِذَا أَصْبَحَ وَحَصَلَ لَهُ الْجُشَاءُ الْمَذْكُورُ يَلْفِظُهُ وَيَغْسِلُ فَاهُ وَلاَ يُفْطِرُ وَإِنْ تَكَرَّرَ ذَلِكَ مِنْهُ مِرَارًا كَمَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ اهـ

29. MEMASUKKAN ANUS BAGI PENDERITA AMBEIYEN

Seseorang penderita penyakit ambeyen mudah sekali anusnya keluar, lebih-lebih disaat membuang air besar. Sementara anus yang telah keluar, sulit masuk ke dalam lagi, kecuali ada upaya bantuan dengan tangannya sendiri. Batalkah puasa seseorang yang memasukkan bagian anusnya yang keluar?

Jawab: Tidak batal. Namun menurut Imam Nawawi membatalkan puasa. Referensi:

& تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 3 صحـ : 404 مكتبة دار إحياء التراث العربي

وَلَوْ خَرَجَتْ مَقْعَدَةُ مَبْسُورٍ لَمْ يُفْطِرْ بِعَوْدِهَا وَكَذَا إنْ أَعَادَهَا كَمَا قَالَهُ الْبَغَوِيُّ وَالْخُوَارِزْمِيُّ وَاعْتَمَدَهُ جَمْعٌ مُتَأَخِّرُونَ بَلْ جَزَمَ بِهِ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْهُمْ لاِضْطِرَارِهِ إلَيْهِ وَلَيْسَ هَذَا كَاْلأَكْلِ جُوْعًا الَّذِي أَخَذَ مِنْهُ اْلأَذْرَعِيُّ قَوْلَهُ اْلأَقْرَبُ إلَى كَلاَمِ النَّوَوِيِّ وَغَيْرِهِ الْفِطْرُ وَإِنْ اُضْطُرَّ إلَيْهِ كَاْلأَكْلِ جُوعًا اهـ

30. MENGHIRUP AROMA MASAKAN

Bagi ibu rumah tangga yang sedang memasak, menghirup aroma makanan tidak bisa dihindari lagi. Apakah masuknya uap makanan ke hidung dapat membatalkan puasa?

Jawab: Tidak, karena uap bukan termasuk benda (‘ain). Referensi:

& حاشية الجمل الجزء 2 صحـ : 318 - 319 مكتبة دار الفكر

وَ تَرْكُ وُصُولِ عَيْنٍ لاَ رِيحٍ وَطَعْمٍ مِنْ ظَاهِرٍ ( قَوْلُهُ لاَ رِيحٍ ) أَيْ وَلَوْ مِنْ نَجَسٍ وَهُوَ غَيْرُ بَعِيدٍ وَصَلَ بِالشَّمِّ إلَى دِمَاغِهِ وَلَوْ رِيحَ الْبُخُورِ ِلأَنَّهُ لَيْسَ عَيْنًا وَيُؤْخَذُ مِنْ هَذَا أَنَّ وُصُولَ الدُّخَانِ الَّذِي فِيهِ رَائِحَةُ الْبُخُورِ أَوْ غَيْرُهُ إلَى جَوْفِهِ لاَ يَضُرُّ وَإِنْ تَعَمَّدَ ذَلِكَ قَالَ شَيْخُنَا وَهُوَ ظَاهِرٌ وَبِهِ أَفْتَى الشَّمْسُ الْبَرْمَاوِيُّ لِمَا تَقَرَّرَ أَنَّ الرَّائِحَةَ لَيْسَتْ عَيْنًا أَيْ عُرْفًا إذِ الْمَدَارُ هُنَا عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ مُلْحَقَةً بِالْعَيْنِ فِي بَابِ اَْلإحْرَامِ أَلاَ تَرَى أَنَّ ظُهُورَ الرِّيحِ وَالطَّعْمِ مُلْحَقٌ بِالْعَيْنِ فِيهِ لاَ هُنَا وَقَدْ عُلِمَ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ صُورَةَ الْمَسْأَلَةِ أَنَّهُ لَمْ يُعْلَمْ انْفِصَالُ عَيْنٍ هُنَا أَيْ بِوَاسِطَةِ الدُّخَانِ اهـ حَلَبِيٌّ

31. AIR TERTELAN AKIBAT BERKUMUR

Berkumur ketika berwudlu hukumnya adalah sunah, baik bagi orang puasa maupun tidak. Bagaimanakah hukum puasa seseorang ketika berkumur ada air yang terlanjur masuk ke dalam perutnya?

Jawab : Tidak batal, jika tidak dilakukan dengan berlebihan. Namun apabila dilakukan secara berlebihan, maka dapat membatalkan puasa. Referensi:

& تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 3 صحـ : 407 مكتبة دار إحياء التراث العربي

وَلَوْ سَبَقَ مَاءُ الْمَضْمَضَةِ أَوْ اَلإِسْتِنْشَاقِ إلَى جَوْفِهِ الشَّامِلِ لِدِمَاغِهِ أَوْ بَاطِنِهِ فَالْمَذْهَبُ أَنَّهُ إنْ بَالَغَ مَعَ تَذَكُّرِهِ لِلصَّوْمِ وَعِلْمِهِ بِعَدَمِ مَشْرُوعِيَّةِ ذَلِكَ أَفْطَرَِ لأَنَّ الصَّائِمَ مَنْهِيٌّ عَنْ الْمُبَالَغَةِ كَمَا مَرَّ وَيَظْهَرُ ضَبْطُهَا بِأَنْ يَمْلاَ فَمَهُ أَوْ أَنْفَهُ مَاءً بِحَيْثُ يَسْبِقُ غَالِبًا إلَى الْجَوْفِ ( قَوْلُهُ وَيَظْهَرُ ضَبْطُهَا بِأَنْ يَجْعَلَ بِفَمِهِ أَوْ أَنْفِهِ مَاءً إلَخْ ) قَدْ يُقَالُ ظَاهِرُ كَلاَمِهِمْ ضَرَرُ السَّبْقِ بِالْمُبَالَغَةِ الْمَعْرُوفَةِ وَإِنْ لَمْ يَمْلاَ فَمَهُ أَوْ أَنْفَهُ كَمَا ذُكِرَ سم عَلَى حَجّ اهـ ع ش ( قَوْلُهُ بِحَيْثُ يَسْبِقُ غَالِبًا إلَخْ ) أَيْ لِكَثْرَتِهِ وَيَظْهَرُ أَنَّ مِثْلَهُ مَا لَوْ كَانَ الْمَاءُ قَلِيلاًلَكِنَّهُ بَالَغَ فِي إدَارَتِهِ فِي الْفَمِ وَجَذْبِهِ فِي اْلأَنْفِ إدَارَةً وَجَذْبًا يَسْبِقُ مَعَهُمَا الْمَاءُ غَالِبًا بَصْرِيٌّ اهـ

32. BATASAN ADAT TERKAIT PUASA NISHFU SYA'BAN

Berpuasa pada paruh akhir bulan Sya'bân hukumnya haram, kecuali bagi meraka yang sebelumnya sudah membiasakan puasa. Sebatas manakah seseorang dianggap "membiasakan puasa" terkait masalah di atas ?

Jawab : Ketika orang tersebut pernah melakukan puasa sebelum separuh akhir bulan Sya'bân, meskipun hanya seminggu sekali atau sebulan sekali, dengan syarat terus dilakukan. Apabila sebelum separuh akhir bulan Sya'bân pernah absen, meskipun hanya satu kali, maka ia tidak diperkenankan melakukan puasa pada paruh akhir bulan Sya'bân. Referensi:

& الفتاوى الفقهية الكبرى الجزء 2 صحـ : 76 مكتبة الإسلامية

( وَسُئِلَ ) فَسَّحَ اللَّهُ فِي مُدَّتِهُ بِمَا لَفْظُهُ يَحْرُمُ الصَّوْمُ بَعْد نِصْفِ شَعْبَانَ إنْ لَمْ يَعْتَدْهُ أَوْ يَصِلُهُ بِمَا قَبْلَهُ مَا ضَابِطُ الْعَادَةِ هُنَا وَيَوْمِ الشَّكّ ( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ الَّذِي يَظْهَرُ أَنَّهُ يُكْتَفَى فِي الْعَادَةِ بِمَرَّةٍ إنْ لَمْ يَتَخَلَّل فِطْرُ مِثْل ذَلِكَ الْيَوْمِ الَّذِي اعْتَادَهُ فَإِذَا اعْتَادَ صَوْمَ اَلإِثْنَيْنِ فِي أَكْثَرِ أَسَابِيعِهِ جَازَ لَهُ صَوْمُهُ بَعْد النِّصْفِ وَيَوْمِ الشَّكِّ وَإِنْ كَانَ أَفْطَرَهُ قَبْلَ ذَلِكَ ِلأَنَّ هَذَا يَصْدُقُ عَلَيْهِ عُرْفًا أَنَّهُ مُعْتَادُهُ وَإِنْ تَخَلَّلَ بَيْن عَادَتِهِ وَصَوْمِهِ بَعْد النِّصْفِ فَطَرَهُ وَأَمَّا إذَا اعْتَادَهُ مَرَّةً قَبْلَ النِّصْفِ ثُمَّ أَفْطَرَهُ مِنْ اْلاًسْبُوعِ الَّذِي بَعْدَهُ ثُمَّ دَخَلَ النِّصْفُ فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ لَهُ صَوْمُهُ ِلأَنَّ الْعَادَةَ حِينَئِذٍ بَطُلَتْ بِفِطْرِ الْيَوْمِ الثَّانِي بِخِلاَفِ مَا إذَا صَامَ اَلإِثْنَيْنِ الَّذِي قَبْلَ النِّصْفِ ثُمَّ دَخَلَ النِّصْفُ مِنْ غَيْرِ تَخَلُّلِ يَوْمِ اثْنَيْنِ آخَرَ بَيْنَهُمَا فَإِنَّهُ يَجُوزُ صَوْمُ اَلإِثْنَيْنِ الْوَاقِعِ بَعْدَ النِّصْفِ ِلأَنَّهُ اعْتَادَهُ وَلَمْ يَتَخَلَّلْ مَا يُبْطِلُ الْعَادَةَ فَإِذَا صَامَهُ ثُمَّ أَفْطَرَهُ مِنْ أُسْبُوعٍ ثَانٍ ثُمَّ صَادَفَ اَلإِثْنَيْنِ الثَّالِثُ يَوْمَ الشَّكِّ فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يَجُوْز ُلَهُ صَوْمُهُ وَلاَ يَضُرُّ حِينَئِذٍ تَخَلُّلُ فِطْرِهِ ِلأَنَّهُ سَبَقَ لَهُ صَوْمُهُ بَعْد النِّصْفِ وَذَلِكَ كَافٍ اهـ

33. BULAN RAMADLAN BAGI PENGANTEN BARU

Bagi mereka yang baru menikah tentunya semangat tempurnya menggebu-gebu. Baik siang ataupun malam tidak ada bedanya. Asalkan masih kuat, gas siap ditancap. Lain halnya ketika memasuki bulan Ramadlan. Disiang harinya mereka harus bersabar menahan kebutuhan biologisnya, walaupun mereka masih bisa bercumbu. Apakah berciuman bagi suami istri diperbolehkan, mengingat nafsu penganten baru sangat menggebu-gebu ?

Jawab: Diperbolehkan, jika hal itu tidak menimbulkan keluarnya sperma atau keinginan untuk bersetubuh. Referensi:

& تحفة المحتاج في شرح المنهاج الجزء 3 صحـ : 411 مكتبة دار إحياء التراث العربي

قَالَ اَْلإسْنَوِيُّ وَالْمُرَادُ بِتَحْرِيكِهَا أَنْ يَصِيرَ بِحَيْثُ يَخَافُ مَعَهَا الْجِمَاعَ أَوِاْلإنْزَالَ كَمَا قَالَهُ فِي التَّتِمَّةِ وَلِهَذَا عَبَّرَ فِي الرَّوْضَةِ بِقَوْلِهِ يُكْرَهُ لِمَنْ حَرَّكَتْ شَهْوَتَهُ وَلاَ يَأْمَنُ عَلَى نَفْسِهِ قَالَ أَعْنِي اَْلإسْنَوِيَّ وَقَدْ عُلِمَ مِنْ هَذَا أَنَّهَا لاَ تَحْرُمُ بِمُجَرَّدِ التَّلَذُّذِ وَنَقَلَ اَْلإمَامُ فِي الظِّهَارِ عَنْ بَعْضِهِمْ التَّحْرِيمَ وَخَطَّأَهُ فِيهِ اهـ بِرّ وَلاَ يَخْفَى أَنَّهُ إذَا لَمْ تَحْرُمْ الْقُبْلَةُ بِمُجَرَّدِ التَّلَذُّذِ لاَ يَحْرُمُ النَّظْرُ وَالْفِكْرُ بِمُجَرَّدِ ذَلِكَ بِاْلأَوْلَى فَحَيْ
ثُ قِيلَ بِحُرْمَ

Demikianlah mengenai masalah-masalah seputar puasa beserta jawabanya yang perlu anda ketahui. Semoga bermanfaat

April 28, 2019

Niat Mengganti Puasa Qadha Ramadhan Sesuai Dengan Sunnah

Niat mengganti puasa ramadhan atau mengqadha puasa tidak hanya dilafalkan saja akan tetapi harus diucapkan dalam hati. Apabila seseorang akan melaksanakan puasa qadha ramadhan sebaikanya dilakukan setelah hari raya, dan ini merupakan yang lebih utama dari pada mengulur-ulur waktu untuk menjalankan qadha puasa. Karena bila dikerjakan lebih cepat adalah lebih baik.
Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang ke empat setelah zakat. Setiap muslim maupun muslimah ketika sudah baligh maka wajib untuk menjalankan ibadah puasa wajib atau biasa disebut puasa pada bulan ramadhan. Namun dalam Islam sendiri ada namanya "Rukhsoh" atau keringanan yang divberikan agama kepada orang-orang yang tidak mampu menjalankan kewajiban tersebut karena adanya alasan tertentu yang tidak bisa menjalankan ibadah puasa.

Adapaun hal yang dilarang dalam Islam ketika ingin berpuasa ramadhan adalah : haid, sakit, musafir dan udzur menurut agama.Meski diberikan keringanan namun bukan berarti tidak menjalankan puasa sepenuhnya, akan tetapi wajib menggantinya pada hari yang lain atau biasa disebut dengan qadha.

Mungkin salah satu diantara kita sering meninggalkan puasa terutama bagi seorang wanita yang tiap bulanya pasti datang bulan. Maka dari pada itu, sebelum bulan ramadhan datang lagi hendaknya kita sudah membayar atau mengqadha puasa yang telah ditinggalkan pada ramadhan sebelumnya dan hukumnya sendiri adalah wajib. Ingat bahwasanya orang yang meninggalkan puasa ramadhan sama halnya orang tersebut berhutang kepada Allah SWT. Dan setiap hutang wajib untuk dibayar terlebih hutang kepada Allah.

Sebagaimana dalam hadist Rasulullah berikut ini :

"Berhutang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan." (HR Muslim)

Oleh karena itu bagi kalian yang belum tahu mengnai niat mengqadha niat puasa ramadhan alangkah baiknya jika sudah hafal niatnya agar bisa segera untuk membayar hutang puasa ramadhan yang telah ditinggalkan. Adapun niat atau lafal niat puasa qadha adalah sebagai berikut :

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءٍ فَرْضَ رَمَضَانً ِللهِ تَعَالَى

NAWAITU SAUMA GHODIN 'AN QADHAA'IN ROMADHOONA LILLAHI TA'ALA

Artinya :
"Aku niat puasa esok hari karena mengganti fardhu ramadhan karena Allah ta'ala."

Itulah mengnai niat mengganti puasa qadha ramadhan. Apabila anda memiliki hutang puasa ramadhan tahun lalu maka segeralah untuk dibayar sebelum datang lagi puasa ramadhan tahun ini. Dan semoga kita selalu diberikan kesehatan dan panjang umur agar terus bisa bertemu bulan ramadhan yang kan datang. Semoga bermanfaat


February 4, 2019

Apakah Doa Wanita Haid Di kabulkan? dan Bagaimana Hukumnya

Haid sendiri adalah siklus ritin yang di alami wanita, lebih jelasnya adalah darah yang keluar dari rahim wanita ketika sudah baligh dan belum memasuki usia monopause (masa berhentinya haid semasa hidupnya) adapun paling sedikit masa haid yaitu 1 hari 1 malam dan paling lama 7 hari selebihnya di sebut darah istihadoh (darah kotor). Dalam Islam ada pembahsan khusus mengenai wanita yang sedang haid ini.

Sumber gambar medsoskini.blogspot.com

Akan tetapi yang menjadi sebuah pertanyaan adalah apakah wanita haid masih bisa berdo'a meskipun dirinya dalam keadaan tidak suci? Dalam Islam sudah di terangkan bahwasanya orang yang sedang haid tidak boleh melakukan ibadah-ibadah wajib sebelum darah tersebut berhenti seperti sholat, puasa, memegang mushaf al quran dan ibadah yang lainnya. Sedangkan adab ketika berdoa salah satunya adalah dalam keadaan yang suci dari hadast, najis dan tentunya di anjurkan untuk berwudhu terlebih dahulu.

Tidak semua ibadah di larang ketika wanita haid. Wanita yang sedang haid yang di larang dalam ibadah-ibadah tertentu saja. Adapun ibadah yang di larang adalah sebagi berikut :

الحائض تفعل جميع العبادات إلا الصلاة والصيام والطواف بالكعبة والاعتكاف في المسجد
Artinya :
"Wanita haid boleh melakukan semua bentuk ibadah kecuali : Sholat, puasa, towaf di ka'bah dan i'tikaf di masjid." (Fatwa Islam No : 26753)

Boleh Bredoa Ketika Dalam Keadaan Haid

Tidak ada masalah bagi wanita yangs sedang haid untuk membaca doa-doa. Menurut pendapat yang shahih wanita yang sedang haid juga di perbolehkan untuk membaca Al quran akan tetapi tidak boleh menyentuh mushaf Al quran tersebut. Contoh : Membaca surat yang ada pada Al quran yang sekiranya kita hafal. Tidak ada nash yang shahih yang menjelaskan tentang larangan untuk membaca Al quran, dalil tersebut hanya berlaku bagi orang yang junub saja sampai dia sudah mandi besar baru boleh membaca.

Berdoa adalah layaknya orang yang berdzikir, sebagaimana layaknya orang yang junub di perbolehkan untuk berdzikir, maka status wanita yang sedang haid lebih ringan kondisinya. Mereka di perbolehkan berdzikir atau berdo'a.

Sebagaimana dalam sebuah keterangan Imam Baz pernah di tanya mengenai hukum membaca doa ketika haji bagi wanita yang sedang haid. Beliau lalu menjawab :

لا حرج أن تقرأ الحائض والنفساء الأدعية المكتوبة في مناسك الحج
Artinya :
"Tidak masalah, wanita haid atau nifas untuk membaca doa-doa dalam buku manasik haji." (Fatwa Islamiyah, 1/239).

Tata Cara Bedoa Ketiak Haid

Tidak ada tata cara untuk berdoa bagi wanita yang sedang haid, sama persisi dengan berdoa pada umumnya. Akan tetapi lebih di utamakan untuk memperhatikan adab-adab yang di ajarkan oleh Rasulullah Saw agar doa tersebut lebih mudah di kabulkan oleh Allah (mustajab) Misalnya di awali dengan memuji kepada Allah Swt, lalu tidak lupa untuk bersholawat kepada Nabi Saw dan di tutup dengan umul kitab.

Itulah penjelasan mengenai hukum wanita yang sedang haid apakah di perbolehkan untuk berdoa atau tidak. Semoga bermanfaat

April 5, 2018

Hukum was-was ketika takbir dalam shalat

Was-was adalah suatu perbuatan yang dilakukan secara berulang ulang, atau mengulang-ulang gerakan. Gerakan disini yang diamaksud adalah ketika akan melakukan shalat. Banayak sering kita jumpai disekitar masyarakat kita, orang sering was-was ketika akan melakukan takbir dalam shalat. Lalu yang jadi pertanyaan, apakah shalatnya sah apabila was-was dalam melakukan takbir??
Hal ini tentu sebuah kesalahan, selain was-was dalam shalat harus dihindari, juga ada kemungkinan shalat yang dilakukan tidak sah, dikarenakan takbiratul ihramnya yang salah.

Adapaun hukum yang benar adalah perlu difahami bagi mereka yang mempunyai penyakit was-was, jika mengulang-ulang bacaan takbir tidak ada niat berdzikir, artinya setiap kali bertakbir ia berniat masuk dalam ibadah shalat, maka takbir yang sah adalah yang jatuh pada takbir yang ganjil, dan apabila bertepatan dengan takbir yang genap maka takbirnya tidak sah, dan jika takbirnya tudak sah tentunya juga shalatnya tidak sah.

Keterangan :


Andaika seseorang melaukakan takbiratul ihram berulang kali dengan niat untuk memulai shalat pada masing-masing takbir, maka ia dianggap sah memasuki shalat ketika takbir nomer ganjil dan keluar dari shalat ketika pada takbir yang nomer genap. Namun masalahnya, ketika ia memasuki shalat pada takbir yang pertama, maka dengan melakukan takbir yang kedua, berate ia keluar dari shalat. Sebab niat memulai shalat dengan takbir kedua itu, berati ia memutus yang telah diniatkan pada takbir yang pertama. Demikian seterusnya.

Semoga bisa menjadi wawasan buat kita yang masih awam, dan semoga bermanfaat. Amin ..


March 16, 2018

5 dampak buruk yang terjadi apabila gemar maksiat

Sahabat muslim yang dimuliakan Allah SWT. Tahukah anda sekalian apabila gemar melakukan maksiat?? Dalam hidup di dunia ini kita tidak lepas dengan yang namanya maksiat, baik itu maksiat yang disengaja maupun yang disengaja. Akibat dari melakukan maksiat pasti ada efek sampingnya tersendiri bagi para pelakunya. 
Bahkan barang siapa yang gemar melakukan maksiat maka Allah besok pada hari kiamat akan melaknat orang tersebut. Betapa beratnya siksa yang didapat oleh orang yang melkukan maksiat. Akan tetapi jika orang tersebut benar-banar mau bertaubat dengan sungguh-sungguh maka Allah akan mengampuninya. Dengan alasan tidak akan pernah mengulanginya lagi. Sebenarnya ada banyak dampak buruk yang dialami apabila gemar melakukan maksiat, akan tetapi disini saya akan mencoba menjelaskan 5 saja, yang lain bisa ditunggu pada postingan berikutnya.

Berikut ini 5 dampak buruk yang bisa menimpa orang yang gemar melakukan maksiat :

1. Ilmunya tidak akan manfaat

Ilmu adalah suatu cahaya yang dipancarkan ke hati. Tapi ketahuilah, dengan gemar melakukan maksiat maka ilmu yang dipelajari bisa tidak akan bermanfaat baik itu bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Bahkan ilmu pengetahuan yang kita pelajari juga tidak akan mudah dipelajari dikarenakan gemar melakukan maksiat.

2. Menghalangi rezeki

Jika ketakwaan seseorang terhadap Allah SWT adalah suatu jalan pembuka rezeki, akan tetapi sebaliknya jika orang tersebut gemar melakukan maksiat maka yang diperoleh adalah rezekinya akan sulit diperoleh. Jika selama ini rezeki kita sulit mungkin saja bisa karena kita masih kerap melakukan maksiat. Maka dari pada itu segera bertaubat dan bertaqwalah kepada Allah SWT.

3. Di jauhi Allah SWT

Suatu cerita ada seseorang lelaki yang mengeluh kepada seorang yang arif tentang kejauhan jiwanya. Sang arif berpesan kepada lelaki tersebut. “jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah dosa itu”. Intinya bahwa orang yang masih gemar melakukan maksiat maka akan berjauhan dengan Allah SWT.

4. Membuat sulit semua urusan

Jika ketakwaan adalah salah satu jalan membuat sulit semua urusan, akan tetapi sebaliknya jika gemar melkukan maksiat maka akan mempersulit urusan tersebut.  Ketakwaan adalah cahaya sedangkan maksiat adalah prilaku yang gelap gulita. Jika kita masih gemar maksiat , maka semua urusan kita akan menjadi sulit karena semua makhluk di alam semesta ini benci pada diri kita.

5. Menumbuhkan maksiat yang lain

Jika seseorang hamba melakukan kebaikan maka akan timbul kebaikan yang lain pula, sebaliknya jika hamba gemar melakukan maksiat maka akan timbul maksiat yang lain pula. Dan jika hamba tersebut melakukan maksiat atau keburukan akan sulit untuk melakukan kebaikan. Karena hatinya sudah tertutup dengan maksiat yang dilakukanya tersebut. Intinya bahwa maksiat itu ketika sudah pernah melakukan satu kali dan belum bertaubat maka maksiat tersebut akan terulang lagi.

Demikianlah penjelasan mengenai dampak buruk bagi orang yang gemar melakukan maksiat dan semoga kita terhindar dari perbuatan dosa. Semoga bermanfaat dan dimanfaatkan. Amin



March 14, 2018

Salah persepsi mengertikan mahrom yang tidak dapat membatalkan wudhu

Kesalahan :
Banyak sekali orang yang mengartikan mahram (atau saudara) yang tidak membatalkan wudhu, sebagian orang memahami ketika masih ada hubungan saudara, meskipun jauh tidak membatalkan wudhu, sebagaimana sepupu, istrunya saudara dan lain sebagainya. Padahal mereka semua bukan mahram yang dimaksud dalam bab nawaqidul wudhu.

Hukum yang benar :
Yang dimaksud mahram dalam bab wudhu adalah, seseorang yang haram untuk dinikahi dikarenakan ada hubungan nasab, susuan, atau mahram karena ikatan kekeluargaan melalui hal pernikahan. Sedangkan bagi mereka yang masih halal untuk dinikahi, yang artinya tetap membatalkan wudhu.
Keterangan lain dalam kitab fiqih islamijuz 1 halaman 388 (maktabah syamilah)
Yang dimaksud mahram dalam wudhu adalah, seseorang yang haram dinikahi dikarenakan adanya hubungan nasab, susuan, atau mahram karena ikatan kekeluargaan melalui hubungan pernikahan. Sedangkan anak laki-laki dan wanita yang masih kecil dan belum mensyahwati secara umumnya menurut pandangan orang yang memiliki watakatau tabiat yang sehat maka tidak membatalkan wudhu.

Dalam hal ini tidak dibatasi dengan anak yang masih berusia tujuh tahun atau bahkan lebih, dikarenakan bedanya anak dengan sebab perbedaan besar kecilnya anak itu sendiri, dan sebab tidak diduga kuat bisa mensyahwati. Dan orang yang masih dalm satu mahram, baik mahram dikarenakan nasab, tunggal susuan atau bahkan karena adanya ikatan kekeluargaan melalui perkawinan, seperti ibu seorang istri itu tidak membatalkan wudhu, karena tidak ada dugaan kuat bisa mensyahwati.

Demikianlah pembahasan mengenai masih banyaknya orang awam yang salah persepsi mengenai mengartikan mahram yang tidak membatalkan wudhu. Dan semoga bermanfaat.. amien

March 12, 2018

20 sifat wajib Allah SWT beserta dalilnya

Sebagai seorang muslim kita wajib mengetahui sifat wajib  yang dimiliki oleh Allah, agar keimanan seseorang tersebuat semakin kuat. Adapun sifat wajib yang dimiliki oleh Allah SWT ada 20. Sifat wajib Allah merupakan sifat yang sempurna dan hanya dimiliki oleh Allah Swt saja.
Berikut ini 20 sifat wajib Allah beserta dalilnya yang harus kita ketahui :
 1.      Wujud (Ada) lawannya ‘Adam (Tidak ada)
 Dalil ‘Aqli : Karena ada ciptaan-Nya, Dalil Naqli : Surat Ar-Ro’du ayat 16:
{قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ … قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (16)} [الرعد: 16]
16. Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. …..” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.
2.      Qidam (Terdahulu/Tak berawal) lawannya Hudust (Baru/Ada awalnya)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah hudust (ada awalnya) pasti Allah membutuhkan yang menciptakan, dan itu mustahil bagi Allah.
    Dalil Naqli    :   Surat Al-Hadid  ayat 3:
{هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ} [الحديد: 3]           Dialah yang Awal dan yang akhir.
3.      Baqo (Kekal/Tiada akhirnya) lawannya Fana (Rusak/Musnah)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah fana (rusak atau tidak kekal) pasti AllahHudust, dan itu mustahil.bagi Allah
    Dalil Naqli :  Surat Ar-Rahman  ayat 27:
{وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27) } [الرحمن: 28]
  Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
4.      Mukholafatu Lilhawadist (Berbeda dengan makhluknya) lawannyaMumatsalatu Lilhawadist (Menyerupai makhluknya)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah Mumatsalah (menyerupai makhluk) maka Allah tidak ada bedanya dengan makhluk, dan itu mustahil.
    Dalil Naqli :   Surat Asy-Syuro ayat 11:
{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } [الشورى: 11]
tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia,
 5.      Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri dengan Dzatnya sendiri) lawannyaIhtiyaj (Membutuhkan)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah Ihtiyaj (membutuhkan tempat atau pencipta) maka Allah “sifat”.Seperti warna putih(sifat), membutuhkan benda(untuk tempat), apa bila benda itu hilang maka warna putihpun akan ikut hilang. Dan itu mustahil bagi Allah.
    Dalil Naqli : Surat Al-Ankabut  ayat 6:
إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ  العنكبوت: 6
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

7.      Wahdaniyyat (Esa/Tunggal) lawannya Ta’addud (Lebih dari satu)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah Ta’addud (tidak tunggal) maka tidak akan ada ciptaanNya, karena apabila Allah ada dua tentu mereka akan berbagi pendapat, dan itu mustahil. Maka  tidak mungkin Allah Ta’addud.
    Dalil Naqli : Surat Al Ikhlas
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
1.  Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2.  Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3.  Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4.  Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
7.      Qudrat (Berkuasa atas segala sesuatu) lawannya ‘Ajzu (Lemah/Tidak bisa berbuat apa – apa)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah ‘Ajzu (tidak bisa apa-apa) pasti tidak akan pernah ada ciptaanNya, dan itu mustahil bagi Allah.
    Dalil Naqli : Surat Al Baqoroh  ayat 20:
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  [البقرة: 20]
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.
8.      Irodat  (Berkehendak) lawannya Karohah (Terpaksa)
    Dalil ‘Aqli :   Seandainya Allah Karohah (terpaksa) pasti Allah‘Ajzu(lemah). Dan itu mustahil.
    Dalil Naqli : Surat Hud  ayat 107:
إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ  هود: 107
Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki.
 9.       ‘Ilmu (Maha Mengetahui) lawannya Jahl (Bodoh)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah jahal (Bodoh) pasti Allah tidak Irodat(tidak berkehendak karena bodoh), dan itu mustahil.
    Dalil Naqli : Surat Al Baqoroh ayat 231:
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dan ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
 10.  Hayat (Hidup) lawannya Maut (Mati)
    Dalil ‘Aqli : Seandainya Allah Maut (Mati) pasti Allah tidak Qudrat, Iradatdan tidak ‘Ilmu, dan itu mustahil.
    Dalil naqli :  Surat Al Baqoroh   ayat 255:
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ  البقرة: 255
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)
11.  Sama’ (Maha Mendengar) lawannya Shomam (Tuli)
    Dalil ‘Aqli :    Tidak masuk akal apabila Allah tidak mendengar.
    Dalil Naqli :    Surat Asy Syuro  ayat 11:
وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  الشورى: 11
dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.
12.  Bashor (Maha Melihat) lawannya ‘Amaa (Buta)
    Dalil ‘Aqli :   Tidak masuk akal apabila Allah tidak melihat
    Dalil Naqli :    Surat Asy Syuro ayat 11:
وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ  الشورى: 11
dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.
13.  Kalam (Berfirman) lawannya Bukmu (Tidak berfirman/tidak bisa berbicara)
    Dalilnya dalam surat An-Nisa ayat 164:
 وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا  النساء: 164
dan Allah Telah berbicara kepada Musa dengan langsung
14.  Qodiron lawannya ‘Ajizan
    Dalilnya sama dengan dalil sifat Qudrot.
15.  Muridan lawannya Karihan
    Dalilnya sama dengan dali sifat Irodat
16.  ‘Aliman lawannya Jahilan
    Dalilnya sama dengan dalil sifat ‘Ilmu.
17.  Hayyan lawannya mayyitan
    Dalilnya sama dengan dalil sifat hayat
18.  Sami’an lawannya Ashomma.
    Dalilnya sama dengan sifat Sama’
19.  Bashiron lawannya A’maa.
    Dalilnya sama dengan dalil sifat Bashor
20.  Mutakaliman lawannya Abkama
    Dalilnya sama dengan dalil sifat Kalam.

demikianlah penjelasan mengenai 20 sifat wajib Allah yang harus kita ketahui, dan setelah mengetahui sifat wajib Allah akan menambah keimanan kita semua. Amien..

March 5, 2018

Pendapat Para Ulama tentang Rujuk

Rujuk adalah salah satu hak bagi laki-laki dalam masa idah. Oleh karena itu ia tidak berhak membatalkannya, sekalipun suami missal berkata: “Tidak ada Rujuk bagiku” namun sebenarnya ia tetap mempunyai rujuk. Sebab allah berfirman:
Artinya: Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa penantian itu”. (al-Baqarah:228)
Karena rujuk merupakan hak suami, maka untuk merujuknya suami tidak perlu adanya saksi, dan kerelaan mantan istri dan wali. Namun menghadirkan saksi dalam rujuk hukumnya sunnah, karena di khawatirkan apabila kelak istri akan    menyangkal    rujuknya    suami.
Rujuk boleh diucapkan, seperti: “saya rujuk kamu”, dan dengan perbuatan misalnya: “menyetubuhinya, merangsangnya, seperti menciummnya dan sentuhan-sentuhanbirahi".
Imam Syafi;I berpendapat bahwa rujuk hanya diperbolehkan dengan ucapan terang dan jelas dimengerti. Tidak boleh rujuk dengan persetubuhan, ciuman, dan rangsangan-rangsangan nafsu birahi. Menurut Imam Syafi’I bahwa talak itu memutuskan hubungan perkawinan.
Ibn Hazm berkata: Dengan menyetubuhinya bukan berarti merujuknya, sebelum kata rujuk itu di ucapkandan menghadirkan saksi, serta mantan istri diberi tahu terlebih dahulu sebelum masa iddahnya habis. Menurut Ibn Hazm jika ia merujuk tampa saksi bukan disebut rujuk sebab allah berfirman:
Artinya: “Apabila mereka telah mendekati akhir masa iddahnya, maka rujuklah mereka dengan baik dan lepaskanlah meereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu.” (Q.S. At-Thalaq: 2)



February 26, 2018

Salah kaprah tentang pemahaman memanggil pak haji kepada orang yang belum haji

Haji dalam agama Islam merupakan rukun Islam yang ke lima. Namun ketika orang yang mau menunaikan ibadah haji mereka harus memnuhi syarat yang diantaranya yaitu mampu dalam hartanya dan juga mampu dalam kesehatanya.  Dikatakan sempurna iman seseorang jika mereka sudah melaksankan ibadah haji.

Kesalahan :
Sering terdengar di telinga kita atau bahkan sudah banyak yang melakukan dengan kerap memanggil terhadap seseorang yang belum menunaikan ibadah haji dengan sebutan “pak haji”. Padahal memanggil orang yang belum haji dengan sebutan “pak haji” hukumnya tidak boleh.

Hukum yang benar
Haram, karena panggilan tersebut adalah bohong, sebab makana yang terkandung dalam kata “ya hujaj” adalah “hai orang yang telah beribadah haji atas jalan yang telah ditentukan”. Akan tetapi jika yang dikehendaki dengan panggilan “hai pak haji”, itu diperuntukaan pada maknalughowi (bahasa), dan bertujuan makna yang benar, semisal memanggil “hai pak haji” dengan maksud memanggil orang yang akan berhaji ke-Makkah, maka hukumnya boleh atau tidak haram.

Semoga bisa menambah wawasan bagi kita semua dan semoga bermanfaat

February 20, 2018

7 macam darah istihadoh yang wajib diketahui wanita

Sebelum membahas mengenai macam-macam darah istihadaoh alangkah baiknya sedikit mengulas tentang pengertian istihadoh itu sendiri. Istihadoh secara bahasa berarti mengalir, sedangkan menurut istilah istihadoh adalah darah yang keluar dari Rahim perempuan selama masih dalam waktunya haid dan nifas. Sedangkan perempuan yang mengeluarkan darah istihadoh disebut mustahadoh.
Darah kuat (dihukumi haid)
Darah lemah (dihukumi istihadoh)
Adapun macam-macam darah  istihadoh yaitu ada 7 macam :


1. Mubtadiah mumayizah
Yang disebut mubtadiah mumayizah yaitu seorang perempuan yang pertama kali haid dan bisa membedakan apa itu warna-warna darah yang keluar.

2. Mubtadiah ghoiru mumayizah
Yaitu seorang perempuan  yang pertama kali haid dan tidak bisa membedakan macam-macam warna darah.

3. Mu’tadah mumayizah
Yaitu seorang perempuan yang sudah pernah haid dan suci, dan perempuan tersebut  bisa membedakan warna-warna darah.

4. Mu’tadah ghoiru mumayizah dzakiroh liadatiha qodron wawaktan
Yaitu seorang perempuan yang sudah pernah haid dan suci akan tetapi tidak bisa membedakan warna-warna darah namun ingat lama serta awal keluarnya darah haid.

5. Mu’tadah ghoiru mumayizah nasiyan liadatiha qodron wawaktan
Yaitu seorang perempuan yang sudah pernah haid dan suci akan tetapi tidak bisa membedakan warna-warna darah dan dia tidak ingat lama serta awal keluarnya darah haid (lupa semua antara lamanya haid dan keluarnya kapan)

6. Mu’tadah ghoiru mumayizah dzakirot lil qodri dunal wakti
Yaitu seorang perempuan yang sudah pernah haid dan suci akan tetapi hanya ingat lamanya haid dan tidak ingat kapan mulainya darah haid tersebut.

7. Mu’tadah ghoiru mumayizah dzakiroh lil wakti dunal qodri
Yaitu seorang perempuan yang sudah pernah haid dan suci akan tetapi hanya ingat mulainya haid dan tidak ingat lamanya darah haid yang keluar.

Semua macam istihadoh yang ada 7macam tersebut mempunyai hukum sendiri-sendiri yang sangat perlu kita pelajari bahkan wajib bagi seorang perempuan untuk mempelajarinya, agar bisa membedakan antara darah haid dan istihadoh. Mengenai hukum-hukum istihadoh antara 1-7 insya allah akan di bahas pada artikel yang selanjutnya. Semoga bermanfaat. Amienn…

February 16, 2018

Hukum Menjual Makanan Pada Siang Bulan Ramadhon

Puasa merupakan rukun iman yang ke empat setelah zakat. Ibadah yang satu ini hukumnya wajib bagi setiap muslim maupun muslimah. Boleh meninggalkanya jika dengan ketentuan yang sudah di jelaskan dalam syariat agama Islam. Bahkan sejak kecil anak-anak pun di latih untuk bisa mengerjakan puasa. Puasa sendiri banyak sekali macam-macamnya, ada puasa wajib, puasa sunnah, puasa nadzar dan lain sebagainya.

Kemudian yang menjadi pertanyaan banyak orang apakh boleh menjual makanan pada saat siang bulan ramadhan?

Jika kita lihat banyak orang atau warung-warung yang buka pada saat siang bulan ramadhan, bahkan hal ini sudah lumrah di kalangan masyarakat sekitar kita. Sebenarnya masih banyak jalan lain untuk mencari rezeki selain dengan menjual makanan di saat siang bulan ramadhan. Lalu bagaimana hukumnya menurut islam sendiri, yuk kita simak ulasan berikut ini.

kesalahan

Pada zaman sekarang banyak kita jumpai di pinggiran jalan selama bulan romadhon banyak warung makan yang tetap enjoy dibuka, dengan alasan warung tersebut menyediakan terhadap orang yang lapar atau yang tidak berpuasa, atau menyediakan mereka yang tidak beragama Islam, padahal menjual makanan pada saat siang bulan ramadhan hukumnya haram walau dengan alasan apapun. Dengan merekan berjualan pada bulan siang bulan ramadhan maka akan membantu orang berniat untuk membatalakan puasanya.

Hal ini sesuai dengan pengalaman banyak orang yang membatalkan puasanya dikarenakan banyak warung yang buka pada siang bulan ramadhan (gara-gara inilah berjualan pada siang ramadhan bisa mengacu ke madharat atau dosa). Dan perbuatan seperti ini merupakan dosa yang besar, karena secara tidak langsung si penjual makanan secara langsung telah membuat orang membatalkan puasanya.


Hukum yang benar

Diharamkan menjual makanana pada siang hari dibulan ramadhan, jika menyakini atau bahkan memiliki dugaan yang kuat, bahwa pembeli akan memakan makanan tersebut pada siang hari, katrena yang demikian ini termasuk maksiat (membantu perbuatan maksiat).

Keterangan dalam kitab tuhfatul muhtaj halaman 317 :

“Seperti halnya sesuatu yang duharamakan adalah, setiap tashoruf yang bisa menimbulkan maksiat, dan diharamkan pula orang Islam yang mukallaf memberikan makanana pada orang kafir di siang bulan romadhon. Begitu pula haram hukumnya, menjual makanan jika si penjual mengetahui (yakin) atau menduga, bahwa pembeli akan memakan makanan tersebut pada siang hari, sebagaimana yang difatwakan oleh guru kita Al-Syihab Al-Romli, karena itu termasuk menolong terhadap kemaksiatan, berdasarkan pendapat yang kuat, bahwa orang-orang kafir semuanya itu dituntut menjalankan furu’u al-syari’ah.”

Demikinalah mengenai pembahsan menjual makanan pada saat siang bulan ramadhan dan semoga bisa menjadikan wawasan bagi kita semua. Semoga bermanfaat

February 10, 2018

Hukum menipiskan alis mata dalam pandangan islam

Usaha untuk mempercantik diri bagi kaum wanita selalu bermacam-macam caranya. Dari mulai make up sampai dengan menata dan menipiskan alis. Pada zaman sekarang banyak wanita yang membuat bulu pada alis mata dengan cara ditipiskan bahkan terkadang ada yang di kerok samapi habis, dan diganti dengan apa yang mereka inginkan tanpa mengetahui apa sebenarnya hukum menipiskan alis pada bulu mata dalam pandangan Islam. Adapun hukumnya yaitu tidak boleh atau haram, tidak boleh mengambil rambut alis pada mata dan juga tidak mempertipisnya karena sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya :
“Bahwa beliau melaknat wanita yang mencabut alis matanya dan wanita yang meminta untuk dicabut alis matanya.”
Jumhur ulama juga berpendapat bahwa mencukur atau menipiskan alis mata adalah perbuatan yang haram, karena itu merupakan dosa besar yang termasuk dalam kategori “nimish” yang dilaknat oleh Rasulullah SAW.

Sedangkan imam hambali berkata : “Diperbolehkan mencukur rambut dahi, memberi warna merah (make up), menguikir, dan menipiskan ujung matanya apabila sudah izin suaminya, karena yang demikian itu termasuk dalam hal berhias.”
Sedangkan menurut imam nawawi bersikap keras dalam hal ini. Tidak memperbolehkan mencukur rambut dahi dan menganggapnya sebagai perbuatan mencukur alis yang diharamkan. Wanita yang mencukur alis sampai tipis sekali, dan dengan demikian tidak termasuk menghias muka dengan menghilangkan bulu-bulunya.
Dan jika dipotong atau dicukur sebagian ulama berpendapat makruh dan sebagian ulam yang lain melarangnya. Karena perbuatan ini termasuk “nimish” dan berkata bahwa “nimish” itu tidak khusus dengan mencabut saja, tapi itu umum dalam semua hal yang merubah rambut dan bahkan  Allah SWT tidak rela.
Demikianlah sedikit pembahasan mengenai hukum menipiskan alis mata. Semoga bisa menjadi wawasan bagi para pembaca..semoga bermanfaat. Wassalm…

Bolehkah seorang wanita memakai kosmetik saat berwudhu??

Kesalahan
Tidak memungkiri lagi jika seorang wanita gemar memakai kosmetik seperti bedak, celak, dan lain sebagainya karena itu semua adalah kodrat mereka. Dan kebanyakan di antara mereka ketika mau berwudhu kosmetik tadi tidak di hilangkan terlebih dahulu . dan ketika kosmetik tersebut tidak di hilangkan terlebih dahulu maka besar kemungkinan air wudhu tersebut menjadi berubah dengan sebab adanya kosmetik yang masih menempel pada wajah, tentunya dalam hal ini menyebabkan wudhunya tidak sah, sebab air untuk berwudhu tersebut telah berubah dari bentuk asalnya dengan alasan terkena kosmetik tersebut.

Hukum yang benar
Sebelum seorang wanita melakukan wudhu sebaiknya kosmetik yang menempel pada wajahnya atau anggota wudhu tersebut di hilangkan terlebih dahulu, sehingga kosmetik tersebut benar-benar hilang setelah itu baru melakukan wudhu, sehingga air yang mengenai anggota wudhu tidak berubah.
Di qiyaskan pada Keterangan dalam kitab masailul mufidah juz 21 (perpustakaan darul ulumul islamiyah)
“Perubahan air yang disebabkan oleh air perahan buah, minyak za’faron, celak dan pohon usynan itu bisa berbahaya (air tidak suci mensucikan lagi), karena perkara tersebut adalah perkara yang mukhollith bila memenuhu syarat-syarat lainya.”

7 amalan rasulullah yang harus dijaga

Amalan sunnah yaitu amalan yang yang apabila di lakukan mendapatkan pahala dan apabila di tinggalkan tidak mendapatkan apa-apa atau tidak berdosa.

Alangkah lebih sempurnanya iman dan ketaqwaan seseorang apbila ia gemar melakukan amalan-amalan sunnah. Setiap manusia bahkan telah mengetahui bahwasanya Allah menyuruh kepada manusia untuk senantiasa berbuat baik atau beramal saleh.

Sebenarnya ada banyak amalan-amalan atau kebiasaan yang di lakukan Rasulullah setiap harinya, akan tetapi di sini kami hanya akan membahas bebrapa saja yang menurut para jumhur ulama adalah amalan-amalan yang lebih utama di bandingkan amalan yang lainya.
Adapun kebiasaan-kebiasaan rasulullah yang dilakukan setiap hari dan bahkan yang patut kita contoh adalah sebagai berikut :

1. Merutinkan shalat tahajud
Shalat tahajud sendiri adalah shalat yang dilakukan pada waktu sepertiga malam, dan lebih utamanya jika di lakukan  setelah bangun tidur. Adapun rakaat atau bilangan dari shalat tahajud paling minim yaitu 2 rakaat dan maksimalnya tidak ada batasan. Rasulullah sangat menganjurkan shalat tahajud, bahkan diantara shalat sunnah yang lainya shalat tahajud kedudukanya lebih utama. Dan pada waktu sepertiga malam adalah waktu-waktu yang bagus untuk kita berdoa kepada Allah Swt.

2. Shalat duha

Nabi SAW bersabda :
“Pada pagi hari setiap persendiankalian di wajibkan sedekah, dan setiap ucapan tasbih itu bernilai satu sedekah, setiap bacaan tahmid itu sedekah, satu ucapan tahlil bernialai satu sedekah, satu ucapan takbir bernialai satu sedekah, memerintah yang mak’ruf satu seekah, mencegah yang munkar satu sedekah, dan semua itu bisa di ganti dengan dua rakaat shalat duha.” (HR Muslim)
3. Shalat berjamaah

Siapa yang tidak tahu pahala dari shalat berjamaah, Rasulullah bersabda bahwasanya shalat berjamaah pahalanya lebih besar atau 27 derajat dari shalat sendirian.

4. Shalat rawatib

Shalat rawatib sendiri adalah shalat yang mengiringi shalat fardhu, atau biasa di sebut dengan shalat sunnah qabliyah dan shalat sunnah ba’diyah.

Dalam sebuah hadis disebutkan :
“Tidaklah seorang hamba melakukan shalat sunah dengan ikhlas setiap hari sebanyak 12 rakaat melainkan Allah pasti akan membangunkan rumah di syurga.” (HR Muslim)

5. Membaca Al-quran

Membaca Al-quran adalah merupakan dzikir terbaik yang akan mendatangkan banyak kebaikan bagi yang membacanya. Bahkan satu huruf dalam Al-quran pahalanya 10 kali lipat. Bahkan janji Rasulullah bahwa orang yang gemar membaca Al-quran, besok di hari akhir Al-quran akan memberi syafaat kepada setiap pembacanya.

6. Menjaga kondisi agar tetap suci

Mengenai tentang suci ini, Rasulullah pernah bersabda “Siapa yang berwudhu dan membaguskan wudhunya, maka kesalahanya akan keluar dari jasadnya, bahkan akan keluar dari ujung kukunya”. (HR Muslim)

7. Melanggengkan istighfar

Barang siapa yang gemar membaca istigfar maka dosanya akan di hapus oleh Allah SWT.

Itulah bebrapa amalan-pamalan sunah yang setiap hari Rasulullah kerjakn dan patut kita contoh dalam kehidupan setiap hari. Dan semoga bermanfaat bagi para pembaca. Wassalam..