February 18, 2018

Cara Benar Mencuci Benda yang Terkena Najis

Najis dalam syariat adalah segala sesuatu yang dianggap kotor, namun dalam istilah ibadah najis adalah suatu benda yang harus dibersihkan ketika akan melakukan suatu ibadah. Karena kalau pakaian atau badan kita terkena najis maka ibadah kita tidak akan diterima oleh Allah SWT. Najis sendiri ada macam-macamnya, dan tata cara mensucikanya pun berbeda-beda. Mulai dari hadist yang berat samapi hadist yang ringan.

Terkadang banyak diantara kita yang masih awam mengenai tata cara mencuci benda yang terkena najis yang baik dan benar.Najis juga bisa mengakibatkan sah atau tidaknya shalat kita, karena kalau kita shalat membawa najis maka shalat tersebut tidak sah hukumnya dan harus dibersihkan dahlu dan mengulanginya lagi.

Allah subhanahu wata'ala sendiri juga memerintahkan manusia untuk selalu membersihkan najis, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-quran surat Al-Mudastir ayat 4 berikut ini :

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

Artinya : "Dan pakainamu sucikanlah." (Qs Al-Mudatsir : 4)

Ulama sepakat bahwasanya najis itu terbagi menjadi 3 macam yaitu :
  •  Najis Mughallazhah (berat)
  •  Najis Mutawassithah (pertengahan)
  •  Najis Mukhaffafah (ringan)
Untuk melakukan kaifiat mencuci benda yang terkena najis, maka baiklah diterangkan bahwa najis terbagi atas tiga bagian :


1. Najis Mughallazhah (berat)

Yaitu anjing. Kaifiat mencuci benda yang kena najis ini, hendaklah dibasuh tujuh kali, satu kali dari padanya hendaklah airnya dicampur dengan tanah. Sabda Rasulullah SAW.
 
طَهُوْرُاِنَاءِاَحَدِكُمْ اِذَاوَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ اَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ اُوْلَاهُنَّ بِالتُّرَابِ. (رواه مسلم)

“Cara mencuci bejana seseorang dari kamu, apabila dijilat anjing hendaklah dibasuh tujuh kali, salah satunya hendaklah dicampur dengan tanah”. (HR. Muslim)

2. Najis Mutawassithah (pertengahan)

Yaitu najis yang lain dari pada kedua macam yang tersebut diatas. Najis pertengahan ini terbagi atas dua bagian :

a. Najis hukmiah, yaitu yang kita yakini adanya tetapi tidak nyata zat, bau, rasa, dan warna, seperti kencing yang sudah lama kering, sehingga sifat-sifatnya telah hilang. Cara mencuci najis ini cukup dengan mengalirkan air diatas benda yang terkena itu.

b. Najis ‘ainiyah, yaitu najis yang masih ada zat, warna, rasa, dan baunya, terkecuali warna atau bau yang sangat sukar menghilangkannya, sifat ini dimaafkan. Cara mencuci najis ini hendaklah dengan menghilangkan zat, rasa, warna, dan baunya.


3. Najis Mukhaffafah (ringan)

Yaitu najis seperti kencing anak laki-laki ynag belum makan makanan selain air sus ibu. Kaifiat mencuci benda yang terkena najis ini memadai dengan memercikan air atas benda itu meskipun tidak mengalir. Adap pun kencing anak perempuan yang belum makan selain air susu ibu, kaifiat mencucinya hendaklah dibasuh sampai air mengalir diatas benda yang kena najis itu, dan hilang zat najis dan sifat-sifatnya, mencuci air kencing orang dewasa.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
 ُغْسَلُ مِنْ بِوْلِ الْجَارِيَّةِ وَيُرَشُ مِنْ بَوْلِ الْغُلَامِ

“Kencing kanak-kanak perempuan dibasuh dan kencing kanak-kanak laki-laki diperciki”. (HR Tirmidzi)

Hadist lain


اِنَّ اُمَّ قَيْسٍ جَاءَتْ بِاِبْنِ لَهَاصَغِيْرٍلَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ فَاَجْلَسَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِىْ حِجْرهِ فَبَالَ عَلَيْهِ فَدَعَـابِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ- (رواه الشيخان)
 Artinya :
"Sesunggunya ummu Qais telah datang kepada Rasulullah SAW beserta bayi laki-lakinya yang belum makan selain ASI. Sesampainya di depan Rasulullah, neliau dudukan anak itu si pangkuan beliau, kemudian beliau dikencingninya, kemudian beliau meminta air, lantas beliau percikkan air itu pada anak tadi, tetapi beliau tidak membasuh kencing itu" (HR Bukhari Muslim)

Itulah beberapa cara mengenai tata cara benar mencuci benda yang terkena najis, mulai dari najis yang berat sampai najis yang ringan. Semoga bermanfaat

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon