Pengertian hadist mutawatir dan macam-macamnya

Pengertian hadist mutawatir dan macam-macamnya


Kata mutawatir secara etimologi ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain. Sedangkan secara terminologi hadis mutawatir adalah hadis yang merupakan tanggapan pancaindera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta:

 اَلْحَدِ يْثُ اْلمُتَوَاتِرُ هُوَ اْلحَدِ يْثُ عَنْ مَحْسُوْسُ اّلذِي رَوَاهُ عَدَدُ جَمُّ فِي اْلعَادَةِا حَالَةٌ اِجْتِمَا عِهِمْ   وَتَوَاطُئِهِمْ عَلَى اْلكَاذِبِ

Dalam definisi lain, hadis mutawatir ialah suatu (hadis) yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan (tabaqah).
Syarat-syarat Hadis Mutawatir
Suatu hadis dapat dikatakan mutawatir apabila telah memenuhi persyaratan berikut:
a.    Hadis yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan (daya tangkap) pancaindera. Tidak dapat dikategorikan dalam hadis mutawatir, yaitu segala berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada panca indera. Seperti meriwayatkan sifat-sifat manusia. Baik yang terpuji maupun yang tercela.
b.    Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil mereka untuk berdusta. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakati dusta.
-    Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang, Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim.
-    Ashabus Syafi’i menentukan minimal 5 orang, Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah para Nabi uyang mendapatkan gelar Ulul Azmi.
-    Sebagian ulama menentukan sekurang-kurangnya 20 orang. Hal tersebut berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang orang-orang mu’min yang tahan uji, yang dapat mengalahkan orang-orang kafir sejumlah 200 orang .
-    Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang.
c.    Seimbang jumlah para perawi. Sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan) pertama maupun thabaqat berikutnya.

Syarat-syarat Hadis Mutawatir
Mengenai syarat hadis mutawatir itu, terdapat perbedaan pendapat kalangan ulama Mutaakhirin. Ulama Mutaqaddimin tidak membicarakan syarat bagi hadis mutawatir. Menurut mereka, khabar mutawatir yang sedemikian sifatnya, tidak termasuk pembahasan ilmu isnad al hadits, sebab ilmu itu membicarakn sahih atau tidaknya suatu hadis, dan juga membicarakan adil atau tidaknya rawi, sedangkan hadis mutawatir tidak membicarakan masalah tersebut.
Sedangkan menurut ulama mutaakhirin dan ahli Ushul, suatu hadis dapat ditetapkan sebagai hadis mutawatir jika memenuhi syarat-syarat berikut:
1.    Diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi.
2.    Adanya keseimbangan antarperawi pada thabaqat (lapisan) pertama dengan thabaqat berikutnya.
3.    Berdasarkan tanggapan pancaindera.

Macam-macam Hadis Mutawatir
Para ahli Ushul Hadis membagi hadis mutawatir menjadi dua macam yakni; muawatir lafdzi dan mutawatir maknawi.
a.    Mutawatir Lafdzi
Lafdzi artinya secara lafadz, jadi mutawatir lafdzi secara terminologi
adalah hadis yang disampaikan secara mutawatir teks dan maknanya.
Dengan kata lain ialah hadis yang dengan lafadznya diriwayatkan oleh sejumlah perawi, yang tidak dimungkinkan mereka sepakat untuk berdusta dari awal sampai akhir sanad.
Contoh hadis mutawatir lafdzi:
مَنْ كَدَبَ عَلَيَ مُتَعَمَّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّاَرِ
Artinya:
“Rasullah saw bersabda: “Barang siapa berdusta atasku dengan sengaja, hendaklah ia bersiap tempat duduknya di dalam neraka.”
Hadis-hadis yang tergolong pada mutawatir lafdzi ini sebenarnya tidak perlu dikaji lagi mengenai otensitasnya. Para ulama sepakat akan kebenarannya hadis tersebut dari Nabi Saw.
b.    Mutawatir maknawi
Maknawi artinya secara makna. Mutawatir maknawi adalah mutawatir pada makna, yaitu beberapa riwayat yang berlainan. Mengandung satu hal atau satu sifat atau satu perbuatan. Singkatnya beberapa cerita yang tidak sama, tetapi berisi satu makna atau tujuan.
Jadi, hadis mutawatir maknawi adalah hadis mutawatir yang para perawinya berbeda dalam menyusun redaksi hadis tersebut, namun terdapat persesuaian atau kesamaan dalam maknanya. Contoh :
اَنَّ رَسُوْلُ ا اللِه صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ كَاَنَ لاَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ فِي شَيْءٍمِنْ دُعَا ئِهِ  إِلَّا فِي الِا سْتِسْقَاءِ فإَنِّهُ كَاَنَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يُرَى بَيَا ضُ إِبْطَيْهِ . ( البخا ري)
“ bahwasanya Rasullah saw tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya selain dalam doa salat istisqa’ dan beliau mengangkat tangannya, sehingga nampak putih-putih kedua ketiaknya.” (HR. Bukhari)
Hadis yang semakna dengan hadis tersebut di atas ada banyak, yaitu tidak kurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda-beda.
Ulama sepakat bahwa hadis mutawatir dapat dipakai sebagai hujjah(dasar hukum). Sebab bersifat dharuri (dogmatis), karena tidak menerima lagi akan kajian ulang atau penelitian kembali. Hadis mutawatir membawa keyakinan yang qath’i (pasti), dengan seyakin-yakinnya bahwa Nabi Muhammad Saw benar-benar menyabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti yang diriwayatkan oleh rawi-rawi mutawatir.


Advertisement
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments