Pengertian taqlid dan hukumnya menurut para ulama

Pengertian taqlid dan hukumnya menurut para ulama

Taqlid berasal dari bahasa arab yaitu qalada, yuqolidu, taqlidan yang berate mengulang meniru dan mengikuti.
Para ulama Ushul mendifinisikan taqlid dengan “mengikuti pendapat seorang mujtahid atau ulama tertentu tanpa mengetahui sumber hokum yang pasti, dan cara pengambilan pendapat tersebut”. Dan orang yang taqlid disebut mukallid.
Mengenai pengertian taqlid, ada beberapa ulama mendefinisikan antara lain:
a.       Al-Ghazali dan Ibnu Subhi
العمل بقول من ليس قوله إحدى الحجج الشرعبة بلا حجة منها
Artinya:
“Mengamalkan pendapat orang yang pendapatnya bukan suatu hujjah syar’iyah tanpa ada hujjah.”
قبول قول بلا حجة
Artinya:
“menerima suatu pendapat tanpa ada hujjah.”


b.      Al-Amidi mengemukakan bahwa taqlid adalah:
العمل بقول الغير من غير حجة ملزمة كأخذالعام وأخذ المجتهد بقول المجتهد مثله
Artinya:
“mengamalkan pendapat orang tanpa ada hujjah yang memastikan kita menerimanya, seperti orang awam menerima pendapat awam, san seperti seseorang mujtahid menerima pendapat seseorang mujtahid.”

c.       Dr. Zakiyyuddin Tasban menafsirkan taqlid sebagai berikut:
التقليد الاخذ بقول الغير من غير معرقة دليله
Artinya:
“Taqlid ialah menerima atau mengikkutu perkataan orang lain tanpa mengetahui dari mana sumber perkara itu.”
Jelasnya ia mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dari mana suumber pengambilannya, apakah orang itu benar atau salah. Orang yang bertaqlid disebut mutaqllid.
Bagiorang yang sudah mencapai tingkat mujtahid, maka dengan kesepakatan fuqaha ia tidak boleh mengikuti pendapat orang dengan menyalahi hasil ijtihadnya sendiri. Tetapi kalau dalam suatu persoalan ia sendiri belum mengadakan ijtihad, sedangkan orang lain telah melakukannya, maka apakah ia boleh mengambil hasil ijtijad orang lain?

Menurut pendapat yang kuat, ia tidak boleh mengambil hasil ijtihadorang lain, dan ia harus mengdakan ijtihad sendiri sebagai kewajiban pokok. Kebolehan mengikuti orang lain bagi orang awam tidak berlaku bagi orang yang sanggup melakukan ijtihad sendiri. Kebolehan mengikuti pendapat orang lain bagu orang biasa hanya terbatas dalam soal-soal furu’ (soal perbuatan lahir),  bukan dalam soal soal pokok (kepercayaan) dan orang yang bisa mengikuti pendapat bukanlah orang yang awam, melainkan orang yan ahli dalam berijtihad, berdasarkan dugaan (keyakinan) yang maksimal.
Kalau dalam beberapa negri ada orang yang termasuk dalam tingkat mujtahid, maka siapakah tang harus diikuti. Menurut satu kedudukan seorang mujtahid yang lebih baik taat pada agama, karena kedudukan seorang mujtahid bagi orang awam sama dengan kedudukan dalil-dalil yang syara’ bagi seorang mujtahid, yakni harus diadakan penarjikan (pemmilihan) mana yang lebih kuat. Menurut pendapat lain, orang awam bisa mengikuti mujtahid yang lebih disukai, karena dikalangan shabat-sahabat terdapat ketingkatan-tingkatan keijtihatannya. Meskipun demikian, tidak ada satu riwayatpun yang menyatakan bahwa orang-orang awam harus mengikuti sahabat-sahabat tertentu, dan tidak ada kritikan terhadap orang yang mengikuti mujtahid sahabat dan tingkatan biasa padahal ada mujtahidsahabat lain dari tingkatan yang labih tinggi.
Apabila dihubungkan dengan madzhab-madzhab tertentu, maka seseorang bisa mengikuti suatu madzhab dalam suatu persoalan,  dan bisa menggunakan madzhab lain dengan persoalan yang lain lagi, dengan suarat tidak ada hubungan antara kedua persoalan tersebut dan tidak bermaksud mencari-cari yang mudah-mudah saja.
Disamping taqlid yang diperbolehkan, terdapat juga beberapa taqlid yang dilarang, antara lain sebagai berikut:
1.    Taqlid buta, yaitu memehami sesuatu dengan mutlaq dan membabi buta tanpa dengan menggunakan ajaran Al-Quran dan Hadis, seperti menaqlid orang tua dan masyarakat walaupun ajaran tersebut bertentangan dengan ajaran Al-Qoran dan hadis.
2.    Taqlid terhadap orang-orang yang tidak kita ketahui apakah mereka ahli atau tidak tentang sesuatu yang kita ikkuti tanpa pamrih.
3.    Taqlid terdapat orang yang memperoleh hujjah dan dalil bahwa pendapat orang yang kita taqlid itu bertentangan dengaan ajaran islam atau sekurang-kurangnya dengan Al-Quran dan Hadis. Namun, bolehbertaqlid terhadap suatu pendapat, garis-garis hukum tentang soal-soal dari seorang Imujtahid yang betul betul mengetahui hukum-hukum allah dan sunah rasul.
Dilihat dari cara berijtihad dapat pula digunakan cara lain untuk menyelidiki dan memperguanakan alasan atau dasar hukum, yaituittiba’dan tarjih.

 mohon maaf bila ada kesalahan, dan semoga bermanfaat bagi kita yang masih awam ilmu agama


Advertisement
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments