Tujuan dan Manfaat Takhrij Hadis

Tujuan dan Manfaat Takhrij Hadis

Penguasaan tentang ilmu takhrij sangat penting, bahkan merupakan suatu kemestian bagi setiap ilmuan yang berkecimpung di bidang ilmu-ilmu kesyariahan, khususnya yang menekuni bidang hadis dan ilmu hadis. Dengan mempelajari kaidah-kaidah dan metode takhrij, seseorang akan dapat mengetahui bagaimana cara untuk sampai kepada suatu hadis didalam sumber-sumbernya yang asli yang pertama kali disusun oleh para ulama mengkodifikasi hadis.

Dengan mengetahui hadis di dalam buku-buku sumbernya yang asli, sekaligus akan mengetahui sanad-sanad-nya akan memudahkan untuk melakukan penelitian sanad dalam rangka untuk mengetahui status dan kualitasnya. Kebutuhan ini akan sangat dirasakan ketika menyadari bahwa sebagian para penyusun kitab-kitab dalam bidang fikih, tafsir dan sejarah yang memuat hadis-hadis Nabi saw, tidak meuliskan hadis-hadis tersebut secara sempurna, mereka kadang-kadang hanya meringkas hadis-hadis tersebut pada bagian-bagian yang mereka perlukan saja atau pada saat tertentu, mereka menuliskan lafaz hadisnya dan pada saat yang lain maknanya saja, bahkan kadang-kadang ada yang menuliskan lafaz hadisnya, namun tanpa menyebutkannya sebagai hadis karena hadis tentang niat atau tentang sebaik-baik urusan adalah pertengahan, dan sebagainya.



Selain itu, juga terdapat penyebutan hadis tanpa memberikan klarifikasi apakah statusnya marfu’ mauquf, atau maqthu’ yang tentunya berlanjut kepada status dan kualitas hadis tersebut.

Selanjutnya, mengenai tujuan dan manfaat takhrij al-hadits ini, ‘Abd al-Mahdi melihatnya secara terpisah antara yang satu dan yang lainnya. Menurut ‘Abd al-Mahdi, yang menjadi tujuan dari takhrij adalah menunjukkan sumber hadis dan menerangkan ditolak atau diterimanya hadis tersebut.

Dengan demikian, ada dua hal yang menjadi tujuan takhrij, yaitu:

•    Untuk mengetahui sumber dari suatu hadis, dan

•    Mengetahui kualitas dari suatu hadis, apakah dapat diterima (sahih atau hasan) atau ditolak (dha’if).

Manfaat takhrij banyak sekali. ‘Abd al-Mahdi menyimpulkannya sebanyak dua puluh manfaat.


1.    Memperkenalkan sumber-sumber hadis, kitab-kitab asal dari suatu hadis beserta ulama yang meriwayatkannya.

2.    Menambah perbendaharaan sanad hadis melalui kitab-kitab yang ditunjukkannya.

3.    Memperjelas keadaan sanad, sehingga dapat diketahui apakah munaqthi atau lainnya.

4.    Memperjelas hukum hadis dengan banyaknya riwayatnya, seperti hadis dha’if melalui suatu riwayat, maka dengan takhrij kemungkinan akan didapati riwayat lain yang dapat mengangkat status hadis tersebut kepada derajat yang lebih tinggi.

5.    Mengetahui pendapat-pendapat para ulama sekitar hukum hadits.

6.    Memperjelas perawi hadis yang samar karena dengan adanya takhrij, dapat diketahui nama perawi yang sebenarnya secara lengkap.

7.    Memperjelas perawi hadis yang yang tidak diketahui namanya melalui perbandingan diantara sanad-sanad.

8.    Dapat menafikkan pemakaian “an” dalam periwayatan hadis oleh seorang perawi mudallis. Dengan didapatinya sanad yang lain yang memakai kata yang jelas kebersambungan sanad-nya, maka periwayatannya yang memakai “an” tadi akan tampak pula kebersambungan sanad-nya.

9.    Dapat menghilangkan kemungkinan terjadinya percampuran riwayat.

10.    Dapat membatasi nama perawi yang sebenarnya. Hal ini karena mungkin saja ada perawi-perawi yang mempunyai kesamaan gelar. Dengan adanya sanad yang lain, mak nama perawi itu akan menjadi jelas.

11.    Dapat memperkenalkan periwayatannya yang tidak terdapat dalam satu sanad.

12.    Dapat memperjelas arti kalimat asing yang terdapat dalam satu sanad.

13.    Dapat menghilangkan syadz (kesendirian riwayat yang menyalahi riwayat perawi yang lebih tsiqat) yang terdapat pada suatu hadis melalui perbandingan riwayat.

14.    Dapat membedakan hadis yang mudraj (yang mengalami penyusupan sesuatu) dari yang lainnya.

15.    Dapat mengungkap hal-hal yang terlupakan atau diringkas oleh seorang perawi.

16.    Dapat mengungkap hal-hal yang terlupakan atau diringkas oleh perawi.

17.    Dapat membedakan antara proses periwayatan yang dilakukan dengan lafadz dan yang dilakukan dengan makna saja.

18.    Dapat menjelaskan masa dan tempat kejadian timbulnya hadis.

19.    Dapat menjelaskan sebab-sebab timbulnya hadis melalui perbandingan sanad-sanad yang ada.

20.    Dapat mengungkap kemungkinan terjadinya kesalahan cetak melalui perbandingan-perbandingan ¬sanad yang ada.


Demikinalah artikel mengenai tujuan dan manfaat takhrij hadist, dan semoga bermanfaat



Advertisement
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

No comments