January 30, 2019

Perkembangan Ushul Fiqih Pada Masa Nabi, Sahabat, Tabi’in dan Alirannya

Ushul fiqih adalah suatu ilmu hukum yang di petik dari Al quran dan sunnah rasul dengan cara usaha pemahaman dan ijtihad tentang perbuatan orang mukallaf baik itu hukum yang wajib, haram, sunnah, mubah, makruh atau yang lainnya dan hanya berupa cabang-cabangnua saja. Jadi ushul fiqih itu adalah ilmu yang mempelajari tentang dasar-dasar yang harus di tempuh dalam melakukan istimbath hukum dari dalil-dalil yang syara'.

Setiap ilmu pasti bersumber dari Al quran dan hadist, begitu pun dalam ilmu ushul fiqih. Lalu bagaimana perkembangan ilmu fiqih dari masa ke masa? mulai dari masa Nabi Muhammada Saw sampai dengan tabi'in. Penjelasanya adalah sebagai berikut :


 sumber gambar asepmaulanarohimat.wordpress.com
1. Masa Nabi saw

Pada masa Nabi Muhammad saw masih hidup, seluruh permasalah fiqh Rasul. Pada masa ini dapat dikatakan bahwa sumber fiqhadalah wahyu Allah SWT. Namun demikian juga terdapat usaha dari beberapa sahabat yang menggunakan pendapatnya dalam menentukan keputusan hukum. Hal ini didasarkan pada hadits muadz bin Jabbal sewaktu beliau diutus oleh Rasul untuk menjadi gubernur di Yaman. Sebelum berangkat, Nabi bertanya kepada Muadz:

”Sesungguhnya Rasulullah saw, mengutus Mu’adz ke Yaman kemudian Nabi bertanya kepadanya bin Jabbal bagaimana engkau akan memutuskan persoalan?, ia menjawab: akan saya putuskan berdasarkan Kitab Allah (Al-Qur’an), Nabi bertanya: kalau tidak engkau temukan didalam Kitabullah? Ia jawab: akan saya putuskan berdasarkan sunnah Rasul saw, Nabi bertanya: kalau tidak engkau temukan didalam sunnah Rasul?!, ia menjawab: saya akan berijtihad dengan penalaranku, makan Nabi bersabda: segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq atas dari utusan Rasulullah saw.”(HR. Tirmidzi)

Dari keterangan diatas dapat dipahami bahwa Ushul Fiqh secara teori telah digunakan oleh beberapa sahabat, walaupun pada saat itu Ushul Fiqh masih belum menjadi nama keilmuan tertentu. Salah sati teori Ushul Fiqh adalah jika terdapat permasalahan yang membutuhkan kepastian hukum, maka pertama adalah mencari jawaban keputusannya didalam Al-Qur’an, kemudian hadits. Jika dari kedua sumber hukum Islam tersebut tidak ditemukan maka dapat berijtihad.

2. Masa Sahabat 

Pada periode sahabat ini ada usaha yang positif yaitu terkumpulnya ayat-ayat al-qur’an dalam satu mushaf. Ide untuk mengumpulkan ayat-ayat al-qur’an dalam satu mushaf datang dari Umar bin Khottab, atas dasar karena banyak para sahabat yang hafal al-qur’an gugur dalam peperangan. Ide ini disampaikan oleh Umar kepada khalifah Abu Bakar,pada mulanya Abu bakar menolak hal tersebut, karena hal tersebut tidak pernah dilkukan oleh Rosulullah. Tetapi pada akhirnya Abu Bakar menerima ide yang baik dari umar ini.

Maka beliiau menugaskan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan ayat-ayat al-qur’an yang terpencar-pencar tertulis dalam pelepah-pelapah kurma, kulit-kulit binatang. Tulang-tulang dan yang dihafal oleh sahabat. Mushaf ini disimpaan oleh Abu Bakar. Seterusnya masa Umar dan kemudian setelah umar meninggal disimpan pada hafshah binti umar, pada zaman usman bin affan, usman meminjam mushaf yang ada pada hafshah kemudian menugaskan lagi kepada Zaid bin Tsabit untuk memperbanyak dan membagikannya ke daerah–daerah islam yaitu ke madinah, mekkah, Kuffah, Basrah, dan Damaskus. Mushaf itulah yang sampai kepada kita sekarang.

3. Masa Tabi’in

Pada masa tabi’in metode istinbat menjadi semakin jelas dan meluas disebabkan tambah luasnya daerah Islam sehingga banyak permasalahan baru yang muncul. Banyak para tabi’in hasil didikan para sahabat yang mengkhususkan diri untuk berfatwa dan y, antara lain Sa’id ibn al-Musayyab di Madinah, dan ‘Alqamah ibn Qays serta Ibrahim Al-Nakha’i di Irak. Dalam berfatwa mereka merujuk kepada Al-Qur’an, sunnah Rasulullah, fatwa sahabat, ijma’, qiyas, dan maslahah mursalah.

Aliran-aliran Usul Fiqh dan Karya-karyanya

1. Aliran Jumhur Ulama Ushul Fiqh

Aliran ini dikenal dengan aliran Syafi’iyah atau aliran Mutakallimin. Aliran ini dikenal dengan aliran Jumhur Ulama karena merupakan aliran yang dianut oleh mayoritas ulama dari kalangan Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah. Disebut aliran Syafi’iyah karena orang paling pertama mewujudkan cara penulisan Ushul seperti ini adalah Imam Syafi’ii dan dikenal sebagai aliran Mutakallimin karena para pakar di bidang ini setelah Imam Syafi’i adalah dari kalangan Mutakallimin (para ahli ilmu kalam), misalnya Imam al-Juwaini, al-Qadli Jabbar dan al-Imam al-Ghazali.

Cara penulisan Ushul Fiqh aliran ini telah dirintis oleh Imam Syafi’i, kemudian dikembangkan oleh para murid dan para pengikutnya (Syafi’iyah) sehingga disebut sebagai aliran Syafi’iyah. Dalam perkembangannya metode penyusunan Ushul Fiqh aliran ini diikuti oleh kalangan Malikiyah dan Hanabilah. Oleh karena itu, metode ini juga dikenal dengan metode Jumhur Ulama Ushul Fiqh. Dan oleh karena para tokohnya umumnya dari kalangan ahli-ahli ilmu kalam sehingga dalam penyusunannya sedikit banyaknya dipengaruhi oleh metode ilmu kalam, maka aliran ini juga disebut sebagai aliran Mutakallimin (para ahli ilmu kalam).

Kitab-kitab Ushul Fiqh yang disusun menurut aliran Jumhur diantaranya adalah:

•    Al-Risalah, disusun oleh Muhammad bin Idris al-Syafi’i (150  H-204 H). Kitab Al-Risalah adalah buku pertama Ushul Fiqh. Oleh karena itu, buku ini menjadi referensi utama dalam studi Ushul Fiqh dan banyak yang mengsyrahnya, antara lain Syarh Abi Bakr al-Shairafi dan Syarh Abu al-Walid al-Naisaburi Muhammad ibn Abdillah. Buku ini telah dicetak berulang kali dan yang paling populer di dunia Islam.

•    Al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul, oleh Abu Hamid Al-Ghazali ahli Ushul Fiqh dari kalangan Syafi’iyah. Seperti halnya setiap karya Al-Ghazali, buku ini terbilang sebagai buku Ushul Fiqh yang sangat bermutu dan beredar di dunia Islam sampai sekarang ini.

•    Al-‘Uddah fi Ushul al-Fiqh, karya Abu Ya’la al-Farra’ al-Hanbaliseorang ahli Ushul Fiqh dari kalangan Hanbaliyah pengikut mazhab Hanbali), dll.

2. Aliran Fuqaha atau Aliran Hanafiyah

Aliaran Fuqaha, adalah aliran yang dikembangkan oleh kalangan ulama Hanafiyah. Dalam merumuskan kaidah Ushul Fiqh mereka berpedoman pada pendapat-pendapat fiqh Abu Hanifah dan pendapat-pendapat para muridnya serta melengkapinya dengan contoh-contoh.
Kitab-kitab Ushul fiqh yang disusun menurut aliran Hanafiyah antara lain ialah:

•    Taqwim al-Adillah, karya Imam Abu Zaid al-Dabbusi. Ahli Ushul Fiqh dari kalangan Hanafiyah. Buku yang merupakan buku Ushul Fiqh standart dalam mazhab Hanafi ini dicetak pertama kali di al-Mathba’ah al-Amiriyah, Kairo Mesir.

•    Ushul al-Syarakhshi, disusun oleh Imam Muhammad Ibnu Ahmad Syams al-Aimmah al-Sarakhshi. Alhi Fiqh dan Ushul Fiqh mazhab Hanafi.

3. Aliran yang Menggabungkan anatara Dua Aliran di atas


        Dalam perkembangan selanjutnya, seperti disebutkan oleh Muhammad Abu Zahrah, muncul aliran ketiga yang dalam penulisan Ushul Fiqh menggabungkan antara dua aliran tersebut. Misalnya, buku Jam’u al-Jawami’ oleh Ibnu al-Sidki ahli Ushul Fiqh dari kalangan Syafi’iyah, dan buku al-Tahrir oleh al-Kamal Ibnu al-Humam ahli Ushul Fiqh dari kalangan Hanafiyah.
       
Itulah mengenai perkembangan ilmu ushul fiqih mulai dari masa nabi sampai masa tabi'in dan berbagai aliran yang ada pada ilmu ushul fiqih. Semoga bermanfaat

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon