March 8, 2019

Pengertian Qadhiyah dan Macam-Macamnya Dalam Ilmu Mantiq

Qadhiyah adalah susunan kata yang memiliki makna atau pengertian, atau bisa dipahami.  Bisa juga dikatakan bahwa Qadhiyah dalam ilmu mantiq adalah jumlah mufidah dalam ilmu nahwu, atau kalimat dalam bahasa Indonesia.

Contoh :
Udara segar
Mahasiswa tidak hadir
Makanan itu enak
Jika saya punya uang, saya akan membeli mobil
Dari contoh-contoh di atas bisa dilihat bahwa Qadhiyah mengandung unsur kabar atau berita yang mengandung kemungkinan benar atau salah. Oleh karena itu, Qadhiyah juga dinamakan Khabar. Jadi Qadhiyah bisa didefinisikan secara lengkap sebagai berikut :
قَوْلُ المُفِيْدُ يَحْتَمِلُ الصِّدْقَ وَ الكِذْبَ لِذَتِهِ
Pernyataan (kalimat) yang sempurna (memiliki makna), yang isinya mengandung kemungkinan benar atau salah. 
Qadhiyah dibagi menjadi dua: 1. Qadhiyah Hamliyah, 2. Qadhiyah Syarthiyah.

Qadhiyah Hamliyah

Qadhiyah Hamliyah adalah susunan kata atau lafadz  yang mengandung pengertian (dalam bahasa indonesia disebut kalimat), tanpa disertai lafadz syarat.  Dalam buku lain dijelaskan :
ما حُكِمَ فيها بنسبة مفرد الى مفرد آخر .
Suatu keputusan berpikir dengan menghubungkan satu variabel dengan variabel yang lain.
Contoh :
Ahmad pergi
Ahmad tidak pergi
Mahasiswa sibuk
Mahasiswa tidak sibuk

Unsur – Unsur Qadhiyah Hamliyah.
 
Qadhiyah Hamliyah mempunyai tiga unsur yaitu :

1)    Maudhu’
Maudhu’, di dalam ilmu nahwu disebut mubtada, fa’il, na’ib fa’il. Di dalam contoh diatas: Ahmad pergi, Ahmad tidak pergi, Mahasiswa sibuk, dan Mahasiswa tidak sibuk, yang menjadi maudhu’ adalah Ahmad dan Mahasiswa dalam peristilahan ilmu mantik.
2)    Mahmul
Mahmul, didalam ilmu nahwu disebut khabar, baik khabar mufrad maupun khabar ghoiru mufrad. Dalam contoh diatas; Ahmad pergi dan Ahmad tidak pergi ,begitu juga: Mahasiswa sibuk dan Mahasiswa tidak sibuk, yang menjadi mahmul adalah: pergi dan tidak pergi, sibuk dan tidak sibuk.
3)    Rabithah
Rabitah (yang mengikat) merupakan lafadh (kata-kata) yang menujukan kepada adanya ikatan kuat antara maudhu’ dengan mahmul. Rabithah biasanya terdiri atas Dhomir (kata ganti) atau fi’il naqhis.

Contoh :
Lutfi adalah sopir.
Usman adalah polisi.
Kadang-kadang suatu qadhiyah terdiri hanya maudhu’ dan mahmul saja. Qadhiyh semacam ini disebut qadhiyh tsuna’iyah (qadhiyah yang terdiri dari dua kata atau rangkaian dua rangkuman kata).

Contoh:
Lutfi sopir (rangkaian dua kata)
Usman polisi (rangkaian dua kata)
Musuh yang pandai lebih baik dari pada teman bodoh (rangkaian dua rangkuman kata)
Tangan diatas ebih baik dari pada tangan dibawah (rangkaian dua rangkuman kata)
Sedang qadhiyah yang mengikut sertakan rabithah, secara mantiqi disebut qadhiyah tsulatsiyah (tiga kata atau tiga rangkuman kata).
Contoh:
Muhammad Abdur adalah pemain sepak bola
Hadiyah bersama kakak dan adik-adiknya (I) adalah mereka itu seperti saudara akrab (II) dengan aminah dan semua keluarganya (III).

Pembagian Qadhiyah Hamliyah 

 
1).  Dilihat dari sisi ada atau tidaknya mahmul pada maudhu’, qadhiyah hamliyah dibai menjadi dua:
a. Mujibah
Mujibah (qadhiyah hamliyah mujibah) adalah qadhiyah yang mamulnya ada atau terdapat dalam maudhu’.

Contoh:
Jakarta adalah kota terbesar di Indonesia
Kota terbesar (mahmul) ada atau terdapat dalam Jakarta (maudhu’).
b. Salibah
Salibah (qadhiyah hamliyah salibah) adalah qadhiyah yang mahmulnya tidak ada atau terdapat dalam maudhu’.
Contoh :
Sebagian petani Indonesia belum berfikir maju.
Berfikir maju (mahmul) tidak ada atau tidak terdapat pada sebagian petani di Indonesia (maudhu’). Karena belum seluruh mereka sudah berfikir maju.

2). Dilihat dari sisi maudhu’nya, qadhiyah hamliyah terbagi menjadi empat:

a. Syakhshiyah

Syakhshiyah (qadhiyah hamliyah syakhshiyah) adalah qadhiyah yang maudhu’nya merupakan orang (manusia) tertentu, atau maudhu’nya salah satu dari isim-isim ma’rifat.
Contoh:
Abu Bakar adalah khalifah yang pertama.
Anda adalah mahasiswi terpuji.
Jakarta adalah ibukota Republik Indonesia

b. Muhmalah

Muhmalah (qadhiyah hamliyah muhmalah) adalah qadhiyah yang maudhu’nya lafadh kulli, tetapi mahmulnya belum tentu ada atau terdapat pada semua atau sebagian satuan maudhu’
Contoh:
Manusia (kulli) dapat mengikuti pengajaran tinggi.
Contoh ini dikatakan muhmalah karena dapat mengikuti pengajaran tinggi (mahmul), tidak ada atau tidak melekat kepada manusia secara kulli, yakni keseluruan manusia, melainkan kepada sebagian manusia saja yang mempunyai biaya, kemampuan dan kesempatan untuk itu.

c. Kulliyah

Kulliyah (qadhiyah hamliyah kulliyah) adalah qadhiyah yang audhu’nya lafadh kulli dan mahulnya ada atau melekat kepada seluruh satuan maudhu’.
Contoh:
Seluruh makhluk hidup butuh akan  makanan.
Seluruh makhluk hidup adalah maudhu’ yang lafadhnya kulli.. sedang butuh akan makanan adalah mahmul yang ada dan melekat kepada keseluruan maudhu’, yaitu seluruh makhluk hidup.

d. Juz’iyah

Juz’iyah (qadhiyah hamliyah juz’iyah) adalah qadhiyah yang maudhu’nya lafadh kulli, sedang mahmulnya ada atau terdapat pada sebagian dari satuan maudhu’ itu saja.

Contoh:
Sebagian makhluk hidup.
Sebagian benda cair.
Sebagian tumbuh-tumbuhan tanaman keras.
Sebagian makhluk, sebagian benda.
Dan sebagian tumbuh-tumbuhaan adalah lafadh juz’i yang  menjadi maudhu’ dalam contoh-contoh diatas sedang hidup, sebagian mahmul pada contoh pertama, terdapat pada sebagian makhluk. cair, mahmul pada contoh kedua, terdapat pada sebagian benda. Demikkian juga, tanaman keras, mahmul pada contoh ketiga, terdapat pada sebagian tumbuh-tumbuhan.

Dilihat dari penggunaan adat Sur Qadhiyah Hamliyah.
 
Sur, secara lughawi adalah pagar megandung arti batas. Pagar kebun mengandung arti batas kebun. Secara terinologi mantiki, sur adalah lafadh (kata-kata) yang menunjuk kepada kamiyah (keberapaan) ketentuan yang berlaku atas maudhu’. Qadhiyah yang diberi sur disebut qadhiyah masawwaroh dan mahksyuroh (secara lughawi: dipagari atau dibatasi).

Contoh:
Berapa banyak peserta yang hadir dalam pertemuan itu?
Pertanyaan ini dijawab dengan qadhiyah yang memakai sur (batas keberapaan).
Misalnya:
Semua peserta hadir (kullu)
Sebagian peserta hadir (ba’du)
Tidak ada seorangpun hadir (lasya’i ,laa ahad)
Tidaklah sebagaian peserta hadir (laisa ba’du)

a. Sur Kulli Ijabi

Lafadh (kata) untuk sur kulli ijabi adalah: tiap-tiap (kullun), sekalian (jami’un), umumnya (‘ammatun), seluruhnya (kaffatun), dan yang semacamnya yang menunjukan kepada ada atau terdapatnya mahmul pada seluruh satuan maudhu’.
Contoh:
Semua Mahasiswa hadir
Semua orang menyambut kedatangannya.
Tiap-tiap Mahasiswa yang lulus mendapat Ijazah.
Pada umumnya Mahasiswa mendapat IP sedang.

b. Sur Kulli Salabi

Lafadh (kata) untuk sur kulli salabiyah adalah: tidak satu pun (lasyai’), tidak seorang pun (la ahada), tiada satupun upaya (la haula), tiada satu pun kekuatan (la quwatta), tiada seorang laki-laki pun (la rajula), dan yang semacamnya yang menunjukan kepada tidak ada atau tidak melekatnya mahmul kepada seluru satuan maudhu’
Contoh:
Tidak seorangpun mahasiswa hadir.
Tidak ada kekuatan yang menghalanginya.

c. Sur Juz’i Ijabi

Lafadh (kata) untuk sur juz’i adalah: sebagian (ba’dhu), banyak (katsiru), sebagian besar (mu’zhamu), sedikit (qalilu) dan yang semacamnya yang menunjuk keadaan ada atau terdapatnya mahmul pada sebagian satuan maudhu’.

d. Sur Juz’i Salabi

lafadz (kata) untuk sur Juz’i Salabi adalah tidakkah sebagian (laisa ba’dhu), tidaklah setiapnya (laisa kulluhu), dan yang semacamnya, yang menunjuk kepada tidak adanya mahmul pada sebagian maudhu’.
Contoh :
Tidak ada sebagian mahasiswa hadir.

Pembahasan Qadhiyah Syarthiyah
 
Ada beberapa definisi tentang Qadhiyah Syarthiyah, antara lain: Qadhiyah Syarthiyah adalah susunan kata atau lafadz yang mengandung pengertian yang menggunakan lafadz syarat (jika, kalau, apabila, dll). Sedang aturan bahasa jika ada syarat tentu harus ada jawab syarat , hingga kedua qadhiyah tersebut menjadi satu qadhiyah yang utuh .
 Dua qadhiyah yang dirangkai dengan menggunakan adat syarat : jika, kalau, betapapun, dll, sehingga keduaya muncul menjadi satu qadhiyah.
Qadhiyah yang menerangkan ketergantungan suatu hukum. Adanya suatu hukum, tergantung oleh adanya hukum yang lain.
Contoh :
Kalau saya punya uang, saya akan pergi haji
Jika saya makan, saya kenyang
Kadang – kadang udara dingin, kadang – kadang udara panas
Orang di dalam kamar adakalanya tidur, adakalanya membaca
D.I Unsur – unsur Qadhiyah Syarthiyah
jika qadhiyah hamliyah terdiri dari maudhu’, mahmul, dan rabithah. Maka qadhiyah syarthiyah juga mempunyai unsur.  Yaitu :

(1)    Muqaddam (qadhiyah pertama) dan (2) tali (qadhiyah kedua)
Dalam contoh diatas :
Kalau saya punya uang (muqaadam), saya akan pergi haji (tali).
Jika saya makan (muqaddam), saya kenyang (tali).
Kadang – kadang udara dingin (muqaddam), kadang – kadang udara panas (tali).
Orang di dalam kamar adakalanya tidur (muqaddam), adakalanya membaca (tali).
Bisa kita lihat, dari empat contoh diatas ada dua bentuk qadhiyah syartiyah. Apabila ada keterkaitan erat antara muqaddam dan tali maka itu disebut 1). Qadhiyah syarthiyah muttashilah. Seperti dalam contoh : Kalau saya punya uang, saya akan pergi haji. Jika saya makan, saya kenyang.
Apabila antara muqaddam dan tali, keduanya berlawanan atau berlainan, maka itu disebut 2).qadhiyah syarthiyah munfashilah. Seperti dalam contoh: Kadang – kadang udara dingin, kadang – kadang udara panas, Orang di dalam kamar adakalanya tidur, adakalanya membaca.

Pembahasan Qadhiyah Syarthiyah Muttashilah
 
Qadhiyah Syarthiyah Muttashilah adalah qadhiyah syarthiyah yang muqaddam dan tali-nya terkait erat dan hubungan keduanya adalah tashahub dan talazum (saling mengisi dan mengikat).
Contoh : Kalau saya punya uang,
 Saya akan pergi haji. Jika saya makan, saya kenyang.

Pembagian Qadhiyah Syarthiyah Muttashilah
 
1). Dilihat dari segi kondisi dan situasi (ahwal dan azwan), ada tidak adanya kemestian antara muqaddam  dan taliy. Dalam proses pemutusannya ada empat macam , yaitu sebagai berikut:

a.    Qadhiyah Syarthiyah Muttashilah  Makhshushah.

Pengertiannya yaitu:
مَاحُكِمَ فيها بوجود اللزوم بين طرفيها اوعدم وجوده فى حالة خاصة اوزمن معين.
Suatu keputusan hipotesis dengan menetapkan adanya hubungan sebab-akibat antara muqaddam dan taliy, atau dengan tidak menetapkan adanya hubungan diantara keduanya dalam satu situasi dan kondisi tertentu.
Contoh:
Jika musuh datang kepadaku dengan mengakui kesalahannya, aku akan memaafkanya.
Keterangan: Kalimat “Jika musuh datang kepadaku dengan mengakui kesalahannya” adalah muqaddam-nya. Sedangkan, Kalimat “Aku akan memaafkannya” adalah taliy-nya.
Jika musuh datang kepadaku mengakui kesalahannya, aku tidak akan memaafkannya.
Keterangan: Kalimat “Jika musuh datang kepadaku mengakui kesalahannya” adalah muqaddam-nya. Sedangkan, Kalimat “Aku tidak akan memaafkannya” adalah taliy-nya.

b.    Qadhiyah Syarthiyah Muttashilah Kulliyah.

Pengertiannya yaitu:
ما حكم فيها بوجود اللزوم بين طرفيها او عدم وجوده في جميع الاحوال و الأزمان
Suatu keputusan hipotesis dengan menetapkan adanya hubungan sebab-akibat antara muqaddam dan taliy atau tidak menetapkan adanya hubungan antara keduannya dalam semua kondisi dan situasi.
Contoh:
Selama masyarakat itu bersatu, mereka akan sukses dalam perjuangannya.
Keterangan: Kalimat “ Selama masyarakat itu bersatu” adalah muqaddam-nya. Sedangkan, kalimat “mereka akan sukses dalam perjuangannya” adalah taliy-nya.
Contoh: Jika pandangan kita berceri berai, kita sama sekali tidak akan sukses.
Keterangan: kalimat “Jika pandangan kita berceri berai” adalah muqaddam-nya. Sedangkan, kalimat “kita sama sekali tidak akan sukses” adalah taliy-nya.

c.    Qadhiyah Syarthiyah Muttashilah Juz’iyyah.

Pengertiannya yaitu:
ما حكم فيها بوجود اللزوم بين طرفيها او عدم وجوده في بعض غير معين من الأحوال و الازمان
Suatu keputusan hipotesis dengan menetapkan adanya hubungan sebab-akibat antara muqaddam dan taliy, atau dengan tidak menetapkan adanya hubungan antara keduannya secara sebagian dengan tidak menentukan kondisi dan situasi.
Contoh:
Terkadang tarjadi, jika murid itu rajin, ia akan memperoleh penghargaan.
Keterangan: kalimat “Terkadang tarjadi, jika murid itu rajin” adalah muqaddam-nya. Sedangkan, kalimat “ia akan memperoleh penghargaan” adalah taliy-nya.
Contoh:
Tidaklah mesti, jika kau datang kerumahku, kau dapat bertemu denganku.
Keterangan: kalimat “Tidaklah mesti, jika kau datang kerumahku” adalah muqaddam-nya. Sedangkan kalimat “kau dapat bertemu denganku” adalah taliy-nya.

d.    Qadhiyah Syarthiyah Muttashilah Mahmulah.

Pengertiannya yaitu:
ما حكم فيها بوجود اللزوم بين طرفيها او عدم وجوده بقطع النظر عن الاحوال و الأزمان
Suatu keputusan hipotesis dengan menetapkan adanya hubungan sebab-akibat antara muqaddam dan taliy, atau dengan tidak menetapkan adanya hubungan antara keduannya dengan mempertimbangkan kondisi dan situasi tertentu.
Contoh:
Jika kau berkunjung kepadaku, aku akan menghormatimu.
Tidaklah, jika kau menghormatiku, lalu aku menghinamu.
Keterangan: Kalimat “Tidaklah, jika kau menghormatiku” adalah muqaddam-nya. Sedangkan, kalimat “lalu aku menghinamu” adalah taliy-nya.

2). Dilihat dari segi tabiat hubungan antara muqaddam dan taliy, atau kemestian terjadinya hubungan antara keduanya, terdapat dua macam:

a.  Luzumiyah.
ماستلزم فيها المقدم التالى لعلاقة بينهما توجب ذلك كان ذلك كأن يكون المقدم علة عقلية للتالى
Adanya muqaddam merupakan kemestian adanya taliy, sebab hubungan antara keduanya mewajibkan terjadinya hal itu; sepertinya muqaddam menjadi alasan yang rasional untuk adanya taliy.
Dengan kata lain, jika muqaddam menjadi alasan (illat) atau sebab bagi taliy, disebut luzumiyah.
Luzumiyah ini terdapat tiga macam, yaitu:

Luzumiyah ‘Aqliyah (Sebab Rasional).

Contoh:
Jika alam ini baru, ia mesti ada yang membuatnya.

Luzumiyah Syar’iyyah (Sebab Hukum Syarak)

Contoh:
Jika seorang itu berakal dan balig, wajib baginya salat.
Jika matahari telah tergelincir , wajib salat zuhur.
Keterangan    : Kalimat “Jika matahari telah tergelincir” adalah muqaddam-nya. Sedangkan, kalimat “Wajib salat zuhur” adalah taliy-nya.
III.    Luzumiyah ‘Adiyah (Sebab Hukum Alam)
Contoh:
Jika air itu tidak ada, tetumbuhan pun tidak ada.

b.    Ittifaqiyah.
مالا يستلزم المقدم التالى و انما حصلا اتفاقا
Adanya muqaddam tidak merupakan sebab mesti adanya taliy; hubungan diantara keduanya itu terjadinya karena bebarengan.
Contoh:
Ketika Musthafa keluar, anaknya menyertainya.
Keterangan: ketika mustofa keluar (muqaddam) , tidak menjamin akan (terjadinya) anaknya menyertainya (taliy).

Dilihat dari segi penggunaannya “Adat Sur” (kata yang menunjukkan kuantitas), Qadhiyah Syathiyah Muttashilah ini terbagi menjadi empat macam:

a.  Al-Sur al-Kulli fi al-Ijab. Pengertianya :
ما دلّ على الحكم بالتلازم بين طرف القضية في جميع الاحوال و الأزمان
kata depan yang menunjukkan adanya penetapan atas hubungan antara muqaddam dan taliy dalam semua situasi dan kondisi.
Bentuk kata depan tersebut adalah mahma, mata, dan kullama.
Contoh:
كلما كان الطالب مهتما بتعلم كان سالكا طريق النجاح
تالى                مقدم
Manakala mahasiswa itu mementingkan belajar, maka ia menjalani jalan menuju sukses.

b.    Al-Sur al-Kulli fi al-salabi. Pengertiannya:
مادل على الحكم يرفع التلازم بين طرفى القضية فى جميع الاحوال والازمان
Kata depan yang menunjukkan penetapan dengan meniadakan tetapnya hubungan sebab-akibat antara muqaddam dan taliy dalam semua situasi dan kondisi.
Kata depan yang digunakan adalah laisa al-battat (tidaklah sama sekali).
Contoh:
ليس البتة اذا تحدت كلمة الامة فشل سعيها
Tidaklah sama sekali, jika pandangan masyarakat itu bersatu, mereka gagal dalam perjuangannya.

c.    Al-Sur al-Juz’i fi al-Ijab. Pengertiannya:
مادل على الحكم بالتلازم بين طرفى القضية فى بعض غير معين من الاحوال والازمان
Kata depan yang menunjukkan penetapan adanya sebagian hubungan sebab-akibat antara muqaddam dan taliy tanpa menentukan situasi dan kondisi.
Bentuk kata depan yang digunakannya adalah Qad Yakumu.
Contoh:
قد يكون اذا كان الطالب مجدا فإنه ينال الجائزة
Terkadang terjadi, jika mahasiswa itu rajin, ia akan memperoleh penghargaan.

d.    Al-Sur al-Juz’i fi al-Salabi. Pengertiannya:
مادل على الحكم يرفع التلازم بين طرفى القضية فى بعض غير معين من الاحوال والازمان
Kata depan yang menunjukkan tetapnya sebagian dengan memindahkan tetapnya hubungan sebab-akibat antara muqaddam dan taliy tanpa menentukan situasi dan kondisi.
Bentuk kata depan yang digunakannya adalah qad la yakunu.
Contoh:
قد لايكون الانسان عالما كان عاملا بعلمه
Terkadang tidak terjadi, manusia berilmu, mengamalkan ilmunya.

Pembahasan Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah 
 
Berbeda dengan Qadhiyah Syarthiyah Muttashilah yang antara muqaddam dan taliy-nya terdapat Tashahub dan talazum (saling mengikat dan mengisi), maka dalam Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah keduanya (muqaddam dan Taliy-nya) ber;ainan atau berlawanan.
Contoh:
Mahasiswa adakalanya di dalam kampus, adakalanya di luar kampus.

Kata di dalam dan di luar kampus, jelas berlawanan, berlainan, berpisah. Namun kedua kata tersebut diikat oleh kata adakalanya. Dan arena yang diikat itu berlawanan atau berlainan, maka disebut Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah.

Pembagian Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah
 
1). Dilihat dari segi tetap-tidak tetapnya pertentangan antara Muqaddam dan Taliy terdapat dua macam yaitu:
a.    Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah Mujabah. Pengertiannya:
ما حكم فيها بثبوت التنافى بين طرفى القضية
Keputusan hipotesis dengan menetapkan adanya pertentangan antara muqaddam dan taliy.
Contoh:
Adakalanya jika dalam keadaan marah-hakim menghukumi suatu perkara, secara adil dan tidak adil
b.    Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah Salibah. Pengertiannya:
ما حكم فيها برفع التنافى بين طرفى القضية
Suatu keputusan hipotesis dengan meniadakan tetapnya pertentangan antara muqaddam dan taliy.
Contoh:
Tidak sama sekali adakalanya orang ini seorang penulis, dan adakalanya ia seorang penyair.

2). Dilihat dari segi situasi dan kondisi ketika proses penetapan ada tidaknya hubungan pertentangan diantara muqaddam dengan taliy, terdapat empat macam, yaitu:
a.    Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah Makhshushah. Pengertiannya:
ما حكم فيها بثبوت التنافى بين طرفيها اوبعد مه فى حالة خاصة او زمن معين
Suatu keputusan hipotesis dengan menetapkan adanya pertentangan antara Muqaddam dengan Taliy atau tidak menetapkan adanya pertentangan antara keduanya dalam satu kondisi dan situasi.
Contoh:
Pada hari itu, adakalanya Fuad Hasan itu ada di Ibu Kota, atau ada diluar Ibu Kota.
Tidaklah adakalanya mahasiswa rajin itu lulus; atau ia memperoleh penghargaan utama.
b.    Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah Kulliyah. Pengertiannya:
ما حكم فيها بثبوت التنافى بين طرفيها اوبعد مه فى جميع الاحوال والازمان
Keputusan hipotesis menetapkan adanya pertentangan antatra Muqaddam dan Taliy atau meniadakan adanya pertentangan antara keduanya.
Contoh:
Selamanya, balangan itu adakalanya genap, atau adakalanya ganjil.
Tidaklah sama sekali, adakalanya bilangan itu genap, dan adakalanya bilangan itu dapat dibagi dua.
c.    Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah Juz’iyyah. Pengertiannya:
ما حكم فيها بثبوت التنافى بين طرفيها اوبعد مه فى بعض غير معين من الاحوال والازمان
Suatu keputusan hipotesis dengan menetapkan sebagian adanya pertentangan antara Muqaddam dan Taliy atau tidak menetapkan adanya pertentangan antara keduanya tanpa menentukan kondisi dan situasi.
Contoh:
Terkadang terjadi adakalanya udara itu dingin dan adakalanya tidak dingin.
Terkadang tidak terjadi adakalanya berkulit putih itu orang Belanda atau orang Inggris.
d.    Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah Mahmulah. Pengertiannya:
ما حكم فيها بثبوت التنافى بين طرفيها اوبعد مه بقطع النظر عن الاحوال والازمان
Suatu keputusan hipotesis dengan menetapkan adanya pertentangan antara Muqaddam dan Taliy atau tidak menetapkan adanya pertentangan antara keduanya tanpa memperhatikan kondisi dan situasi.
Contoh:
Adakalanya manusia itu bodoh dan adakalanya tidak bodoh.
Tidaklah, adakalanya seseorang itu penulis, atau penyair.
3). Dilihat dari segi kemungkinan berkumpul atau tidak berkumpulnya antara Muqaddam dan Taliy, Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah terbagi atas tiga macam, yaitu:
a.    Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah Mani’ah Jam’in (tercegah berkumpulnya, mesti tidak berkumpul). Pengertiannya:
قضية ما نعة جمع بين طرفيها فلا يجتمعان فى الوجود ويمكن ارتفاعها
Suatu keputusan hipotesis yang tercegah berkumpulnya antara Muqaddam dan Taliy; keduanya tidak bias berkumpul dalam kualitas tetapi bias terjadi keduanya itu tidak berkumpul.
Dengan kata lain, jika suatu keputusan hipotesis antara keduanya tercegah berkumpulnya tetapi tidak tercagah berkumpulnya, maka disebut Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah Mani’ah Main.
Contoh:
Benda ini adalah hitam dan adakalanya putih.
Hitam dan putih pada satu waktu dan satu tempat tidak bisa berkumpul. Tetapi bisa terjadi keduannya tidak berkumpul dalam satu waktu dan satu tempat, yaitu hitam dan tidak putih; berarti bias kuning dan hijau.
b.    Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah Mani’ah Khuluw (tercegah tidak berkumpulnya, mesti berkumpul). Pengertiannya.
قضية مانعة خلو عن طرفيها فلا يمكن ارتفا عهما ويمكن اجتما عهما
Suatu keputusan hipotesis yang tercegah tidak berkumpul antara Muqaddam dan Taliy; mustahil keduanya tidak ada tetapi mungkin keduanya berkumpul.
Dengan kata lain, keduanya tercegah tidak berkumpulnya.
Contoh:
Abu ‘Arif adakalanya dilaut dan adakalanya ia tidak tenggelam.
Benda ini adakalanya tidak hitam atau tidak putih.
c.    Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah Mani’ah Jam’in wa Khuluw (tercegah berkumpulnya dan tercegah pula tidak adanya). Pengertiannya:
مالا يمكن اجتماع طرفيها ولا يمكن ارتفا عهما وتتركب من اشئ ونقيضه
Suatu keputusan hipotesis yang tidak munkin berkumpul antara Muqaddam dan Taliy dan tidak mungkin pula tidak berkumpul antara keduanya, dan susunannya terdiri dari sesuatu dan lawannya.
Dengan kata lain, berkumpul antara keduanya tidak munkin, begitu juga tidak berkumpul. Jadi, mesti tetap salah satunya. Bentuk ketiga ini disebut pula Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah Muqayyadah.
Contoh:
Bilangan itu adakalanya genap dan adakalanya ganjil.
Dari contoh tersebut dapat dipahami bahwa satu obyek bilangan tidak mungkin bersamaan; juga tidak mungkin tidak genap dan ganjil. Jadi, yang mungkin adalah jika tidak genap, mesti ganjil; jika tidak ganjil, mesti genap.
4). Dilihat dari segi tabiat terjadinya pertentangan antara Muqaddam dan Taliy terdapat dua macam, yaitu a. ‘inadiyah, dan b. intifaqiyah.
    5). Dilihat dari segi penggunaan adat sur (kata depan kuantitas), Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah terdapat empat macam, yaitu:
a.    Al-Sur al-Kully fi al-Ijab. Pengertiannya:
مادل على التنافى بين طرفى القضية فى جميع الاحوال والازمان
Kata depan yang menunjukkan terjadinya pertentangan antara muqaddam dan taliy dalam semua situasi dan kondisi.
Adapun kata depan yang biasa digunakannya adalah “da’iman” (selamanya ). Contoh:
Selamanya udara itu adakalanya bersih dan adakalanya kotor.
b.    Al-Sur al-Kully fi al-Salab. Pengertianya:
مادل على رفع التنافى بين طرفى القضية فى جميع الاحوال والازمان
Kata depan yang menunjukkan hilangnya pertentangan antara muqaddam dan taliy dalam semua situasi dan kondisi.
Kata depan yang biasa digunakan adalah “laisa al-Batat” (tidaklah sama sekali). Contoh:
Tidaklah sama sekali bilangan itu adakalanya ganjil atau ada yang menerima untuk dibagi dua.
c.    Al-Sur al-Juz’i fi al-Ijab. Pengertiannya:
مادل على ثبوت التنافى بين طرفى القضية فى بعض غير معين من الاحوال والازمان
Kata depan yang menunjukkan tetapnya sebagian pertentangan antara muqaddam dan taliy tanpa menentukan situasi dan kondisi.
Kata depan yang biasa digunakan adalah Qad Yakunu (terkadang terjadi). Contoh:
Terkadamg terjadi udara itu adakalanya panas atau dingin.
d.    Al-Sur al-Juz’I fi al-Salab. Pengertiannya:
مادل على رفع اتنافى بين طرفى القضية فى بعض غير معين من الاحوال والازمان
Kata depan yang menunjukkan hilangnya pertentangan antara muqaddam dan taliy tanpa menentukan situasi dan kondisi.
Kata depan yang biasa digunakan adalah Qad La Yakunu dan Laisa Da’iman.
Contoh:
Terkadang tidak terjadi, adakalanya bengsa Indonesia itu orang Sumatra atau orang Ambon.
Tidak selamanya bangsa Indonesia itu orang Ambon atau orang Jawa.

Kesimpulan

Dari penjelasan panjang lebar diatas, dapat disimpulkan bahwa Qadhiyah adalah Pernyataan (kalimat) yang sempurna (memiliki makna), yang isinya mengandung kemungkinan benar atau salah yang dalam bahasa Indonesia disebut dengan Kalimat.
Secara umum pembagian Qadhiyah ada tiga, yaitu Qadhiyah Hamliyah, Qadhiyah Syarthiyah Muttashilah, dan Qadhiyah Syarthiyah Munfashilah.
Secara rinci pembagian tersebut akan dibagi lagi berdasarkan, maudhu’, mahmul, ahwal wa azman, bentuk, tabi’at nya masing-masing.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon