March 24, 2019

Pengertian Tawassul, Dalil dan Hukumnya

Arti Tawassul sendiri adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan kewajibannya melalui jalan wasilah (perantara) yang memiliki kedudukan lebih baik di sisi Allah SWT. Wasilah disini yang digunakan adalah bisa menggunakan nama dan sifat Allah SWT atau melalui kedudukan para Nabi dan orang-orang shaleh, atau bisa juga dengan cara meminta do'a kepada hambanya yang dianggap shaleh.

Dalam istilah syariah, tawassul adalah jalan atau sebab yang dijadika oleh Allah untuk menuju kepadanya . Tawassul kepada Nabi berarti memohon agar doanya bisa dikabulkan oelh Allah denga menyebut nama Nabi atau perantara Nabi. Contoh : "Ya Allah ampunilah aku dengan kemuliaan Nabi Muhammad"

Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Maidah ayat 35 yang berbunyi :

ٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah carilah perantara mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kalian bahagia." (QS Al-Maidah : 35)

Menurut jumhur Ahlu Sunnah Wal Jamaah sendiri adalah perbuatan yang diperbolehkan bahkan dianjurkan. Namun belakangan ini banyak kaum-kaum diluar sana yang menuduh bahwasanya Tawassul sendiri adalah suatu perbuatan "bid'ah aqidah" dan dianggap sebagai perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah dan mengandung perbuatan "syirik". Bahkan sebenarnya Tawassul sendiri adalah suatu amaliah fiqih (bukan aqidah) dan diperkuat dengan adanya dalil-dalail untuk memperkuat yang sifatnya dhanni sebagaimana permasalah dalam masalah fiqih yang lainnya.

Dalam ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah sendiri Tawassul dibagi menjadi lima yaitu, tawassul dengan orang yang masih hidup, tawassul dengan orang yang sudah meninggal, tawassul dengan orang shaleh, tawassul dengan yang belum wujud, dan tawasssul dengan benda mati.

Hukum Tawassul

Pendapat kebayakan ulama mengatakan bahwasanya tawassul huiumnya boleh. Namun ada juga sebagian ulama yang mengatakan tidak boleh bahkan haram. Akan tetapi jika dikaji ulang dengan sedalam mungkin semua itu merupakan perbedaan dalam segi lahiriyah saja bukan perbedaan yang mendasar.

Iamam Syaukani mengatakan bahwasanya tawassul kepada Nabi Muhammad SAW atau kepada yang lain (orang shaleh) baik itu dalam keadaan masih hidup atau sudah meninggal, adalah merupakan kesepakan (ijma') para sahabat. Perlu diketahui lagi bahwasanya tawassul itu tidak meminta kepada orang yang sudah meninggal atau yang masih hidup, akan tetapi melalui perantara kesalehan seseorang yang kedekatanya kepada Allah lebih tinggi.

Contoh saja misalkan ada seseorang yang ingin bertemu dengan Bupati, maka orang tersebut tidak bisa langsung seenaknya sendiri bertemu Bupati. Akan tetapi melalui perantara orang yang dianggap lebih dekat dengan Bupati misalkan asistenya atau orang yang mempunyai kedekatan lebih dengan Bupati. Maka dengan melalui perantara orang yang lebih dekat dengan Bupati seseorang tersebut akan lebih cepat bertemunya dibandingkan dengan jalan diri sendiri. Sama saja dengan tawassul ketika kita meminta atau berdoa kepada Allah SWT dengan melalui perantra Nabi atau orang yang lebih Shaleh maka doa tersebut akan lebih cepat terkabul dibandingkan berdoa tanpa perantara (tawassul).

Dalil Tentang Tawasssul

1. Dalil Pertama Mengenai Hukum Tawassul

Kebolehan bertawassul kepada Nabi adalah hadist shahih tentang syafaat yang diriwayatkan oleh para hufadz dan ahli hadit. Pada hari kiamat besok dan ketika manusia dikumpulkan di padang Mahsyar, mereka akan mengalami kedahsyatan yang sangat dahsyat. Lalu mereka bertawassul dengan mendatangi para Nabi untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT supaya mereka diistirahatkan dari panantian yang panjang.

2. Dalil kedua Tentang Hukum Tawassul 

Hadist tawassul sahabat buta kepada Nabi Muhammad sat masih hidup

عن عثمان بن حنيف قال سمعت رسول الله ﷺ وجاءه رجل ضرير فشكا إليه ذهاب صره، فقال : يا رسول الله ! ليس لى قائد وقد شق علي فقال رسول الله ﷺ : :ائت الميضاة فتوضأ ثم صل ركعتين ثم قل : اللهم إنى أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد نبي الرحمة يا محمد إنى أتوجه بك إلى ربك فيجلى لى عن بصرى، اللهم شفعه فيّ وشفعني في نفسى، قال عثمان :فوالله ما تفرقنا ولا طال بنا الحديث حتى دخل الرجل وكأنه لم يكن به ضر
Artinya :
"Dari Usman bin Hunaif R.A, beliau berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW saat ada seorang lelaki buta datang mengadukan matanya yang tidak berfungsi kepadanya, lalu ia berkata : Wahai Rasulullah SAW aku tidak punya pemandu dan sangat payah. Beliau bersabda : "pergilah ketempat wudhu, berwudhu, shalatlah dua rakaat, kemudian berdoalah (dengan redaksi) :"Wahai Allah, Aku memohon dengan menghadap kepada-Mu dengan menyebut Nabi Muhammad SAW, nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad , sungguh aku menghadap kepada Tuhan-Mu, dengan menyebut-Mu, karenanya mataku bisa brfungsi kembali. Ya Allah terimalah syafaatnya bagiku, dan tolonglah diriku dalam kesembuhanku. Ustman berkata : "Demi Allah kami belum sempat berpisah dan perbincangan kami pun belum begitu lama sampai lelaki itu datang (ketempat kami) dan sungguh seolah-olah ia tidak pernah buta sama sekali," (HR Al-Hakim, At Tirmidzi dan Al Baihaiqi, Shahih)

Dari hadist diatas mengajarkan bahwasanya Nabi Muhammad mengajarkan tawassul dengan menyebut dzat beliau selama hidupnya. Hal ini juga terbukti dalam doa tersebut disebutkan dalam sebuah redaksi :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا محمد إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ
Artinya :
"Wahai Allah aku memohon dan menghadap-Mu, dengan menyebut Nabi Muhammad SAW, Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad sungguh aku menghadap Tuhan-Mu dengan menyebut-Mu."

3. Dalil Ketiga Mengenai Hukum Tawassul

Yaitu ada pada firman Allah dalam QS Yusuf 97-98
قالوا يا أبانا استغفر لنا ذنوبنا إنّا كنّا خاطئين قال سوف أستغفر لكم ربّي إنّه هو الغفور الرحيم
Artinya :
"Mereka berkata : "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Ya'qub berkata : "Aku akan memohonkan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya dialah maha penghampun lagi maha penyayang."

Dari ayat diatas menjelaskan bahwasanya ketika anak nabi Ya'qub meminta untuk mendoakan terhadap dosa yaang telah ia perbuat, kemudia Nabi Ya'qub memohonkan ampunan kepda Tuhan-Nya. Intinya bahwa anak Nabi Ya'qub tersebut bertawassul kepada ayahnya untuk didoakan atas segala dosanya.

Namun ada juga yang berpendapat yaitu Muhammad bin Abdul Wahab pendiri aliran Wahabi tentang hukum tawassul menganggap bahwa tawassul adalah masalah ijtihadiyah yang tidak perlu diperselisihkan. Dan menganggap bahwa hukum tawassul adalah suatu perbuatan syirik .

Dari penjelasan diatas dapat disimpulakn bahwasanya hukum tawassul adalah boleh. Bahkan madzhab empat yaitu iman Syafi'i, Hambali, Maliki dan Hanafi sepakat atas bolehnya bertawassul pada Rasulullah SAW. Intinya bahwa tawassul bukan meminta kepada orang yang ditawasuli contoh Nabi, akan tetapi seseorang yang ditawasulli hanya sebagai perantara saja, karena orang tersebut dianggap lebih dekat dengan Allah. 

Demikian mengenai pengertian tawassul, dalil dan hukumnya. Dan Semoga bisa bermanfaat


Artikel Terkait


EmoticonEmoticon