March 8, 2019

Penjelasan Lengkap Tentang Akad Wakalah (Dasar Hukum, Rukun, Syarat) Beserta Contohnya


Wakalah atau wikalah berarti penyerahan, pendelegasian, atau pemberian mandat. Dalam bahasa Arab dalam hal ini dipahami sebagai at-tafwidh. Contoh kalimat “aku serahkan urusanku kepada Allah” mewakili pengertan istilah tersebut.

Pengertian yang sama dengan menggunakan kata al-hifzhu disebut adalah firma Allah,

حَسْبُنَاآللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Dia sebaik-baik pemelihara.” (ali Imran : 173)

Maka wakalah dapat diartikan  pelimpahan kekuasaan oleh seseorang kepada yang lain dalam hal yang diwakilkan.

Dalam pengertian ini, wakalah merupakan bentuk akad muamalah yang digunakan untuk menyerahkan kewenangan kepada orang lain dalam mengerjakan sesuatu yang dapat diwakilkan. Sedangkan secara terminilogi, pengertian wakalah adalah: “akad yang digunakan seseorang untuk menyerahkan urusan kepada orang lain dalam bertasharruf.”

Perwakilan merupakan bentuk pemberian kuasa kepada pihak lain untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu. Dalam pasal 1792 KUH Perdata, yang dimaksud pemberian kuasa adalah suatu perjanjian dengan mana seseorang memberikan kekuasaan kepada seorang lain, yang menerimanya, untuk atas namanya menyelenggarakan suatu urusan.

Macam-macam wakalah ada dua macam yaitu :

1.    akad wakalah sebagai bentuk perwakilan (niyabah). Menurut pendapat ini, dalam wakalah yang bersifat niyabah, seorang wakil tidak boleh menyalahi perintah orang yang mewakilkan . dalam hal in, apapun yang di lakukan oleh seorang wakil harus disesuai dengan apa yang diperhatikan.

2.    akad wakalah sebagai bentuk pelimpahan kewenangan untuk mengambil keputusan (wilayah). Dalam wakalah ini, seorang wakil di beri kewenanganpenuh untuk bertindak apapun selama berdasarkan pertimbangan mencapai kemaslahatan. Misalya untuk menghindari utang,pihak wakil dalam jual belimelakukan pembayaran secara tunai, meskipun di perintahkan untuk menunda pembayaran.

Kedua bentuk wakalah tersebut,memberikan inspirasi dalam pembagian akad wakalah dari segi kewenangannya. Para fuqaha sepakat bahwa hukum akad yang di lakukan oleh wakil, secara otomatis akan kembali kepada muwakkil. Artinya bahwa kesepakatan yang di buat dengan pihak wakil, pada hakikatnya merupakan kehendak dari muwakkil untuk mencapai tujuan tertentu. Berdasarkan ruang lingkup kuasa/kewenangan yang di berikan, pada akad wakalah, secara umum dapat di bedakan menjadi dua macam :

a)    Wakalah muqayadah yaitu pendelegasian kewenangan untuk melakukan pekerjaan tertentu yang yang sifatnya terbatas. Melalui wakalah ini, wakil tidak boleh keluar dari ketentuan yang telah ditetapkan oleh pihak yang mewakilkan (muwakkil).

b)    Wakalah mutlaqah yaitu merupakan bentuk pemberian kuasa/kewenangan secara mutlak kepada pihak lain untuk melakuakan suatu pekerjaan, melalui akad wakalah ini,seorang wakil akan mendapat kepercayaan penuh untukmelakukan pekerjaan dalam lingkup yang lebih luas.

 Dasar Hukum Wakalah

Islam mensyariatkan wakalah karena manusia membutuhkannya. Tidak setiap orang mempunyai kemampuan atau kesempatan untuk  menyelesaikan segala urusannya sendiri. Pada suatu kesempatan, seseorang perlu mendelegasikan suatu pekerjaan kepada orang lain untuk mewakili dirinya.

1. Al-Qur’an 

Salah satu dasar dibolehkannya wakalah adalah firman Allah SWT berkenaan dengan kisah Ash-habul kahfi,
وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا

“Dan demikian kami bangkitkan mereka agar saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkata salah seorang di antara mereka, ‘sudah berapa lamakah kamu berada disini?’ mereka menjawab, ‘kita sudah berada (di sini) satu atau setengah hari.’ Berkata (yang lain lagi), ‘Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka, suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini dan hendaklah ia lihat manakah makanan yang lebih baik dan hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah lembut, dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorang pun.” (al-kahfi : 19)

Ayat ini melukiskan perginya salah seorang ash-habul kahfi yang bertindak untuk dan atas nama rekan-rekannya sebagai wakil mereka memilih dan membeli makanan.

2.  Al-Hadits

Banyak hadist yang dapat dijadikan landasan keabsahan wakalah diantaranya :
“Bahwasanya Rasulullah saw mewakilkan kepada Abu Rafi’ dan seorang Anshar untuk mewakilinya mengawini Maimunah bintil-Harits.” (Malik no. 678, kitab al-Muwatha’, bab Haji)
Dalam kehidupannya sehari-hari, Rasulullah telah mewakilkan kepada orang lain untuk berbagai urusan. Di antaranya adalah membayar utang, mewakilkan penetapan had dan membayarnya, membayar pengurusan unta, membagi kandang hewan, dan lain-lainnya.

3.  Ijma

Para ulama pun bersepakat dengan ijma atas dibolehkannya wakalah. Mereka bahkan ada yang cenderung mensunnahkannya dengan alasan bahwa hal tersebut termasuk jenis ta’awun atau tolong menolong atas dasar kebaikan dan takwa. Tolong menolong disrukan oleh Al-Qur’an dan disunnahkan oleh Rasulullah saw.
Pendapat pertama menyatakan bahwa wakalah adalah niabah atau mewakili. Menurut pendapat ini, si wakil tidak dapat menggantikan seluruh fungsi muwakkil.
Pendapat kedua menyatakan bahwa wakalah adalah wilayah karena khilafah (menggantikan) dibolehkan untuk yang mengarah kepada yang lebih baik, sebagaimana dalam jual beli, melakukan pembayaran secara tunai lebih baik, walaupun diperkenankan secara kredit.

Rukun dan Syarat Wakalah

Perwakilan merupakan bentuk akad, karena itu tidak sah sebelum memenuhi rukun dan syarat yang telah ditetapkan syara’. Adapun yang menjadi rukun dari akad wakalah adalah sebagi berikut:

1.    Para pihak (aqidain) harus memenuhi syarat sebagai subjek hukum
Para pihak dalam akad wakalah terdiri dari pihak yang mewakilkan (muwakkil) dan yang menerima perwakilan disebut wakil.

2.    Adanya objek akad yang diwakilkan (muwakkil fih)
Syarat objek akad yang bisa diwakilkan ialah semua pekerjaan yang menurut syara’ boleh untuk diwakilkan kepada orang lain. Adanya kejelasan pekerjaan yang akad diwakilkan sesuai dengan kemampuan wakil. Disamping itu, perlu adanya kejelasan batas waktu pemberian kuasa.

3.    Adanya pernyataan ijab dan qabul dari masing-masing pihak (sighat al-‘aqad)
Dalam ijab qabul, tidak disyaratkan adanya lafadz tertentu, bahkan dibolehkan menggunakan apapun yang menunjukan semakna, baik melalui ucapan maupun perbuatan.

Syarat-syarat Wakalah, Terselenggaranya wakalah sah apabila memenuhi persyaratan berikut:

1.    Orang yang mewakilkan adalah orang yang sah menurut hukum.
2.    Pekerjaan yang diwakilkan harus jelas. Tidak boleh mewakilkan pekerjaan kepada orang lain yang tidak jelas.
3.    Tidak boleh mewakilkan dalam hal ibadah karena ibadah menuntut dikerjakan secara badaniyyah dan dilakukan sendiri (seperti shalat, puasa, dan membca ayat al-Qur’an).

Implementasi akad Wakalah dalam Lembaga Keuangan Syariah

Implementasi akad wakalah dalam perbankan syariah biasanya digunakan sebagai akad dalam menerbitkan  Letter of credit atau LC Impor atau penerusan permintaan akan barang dalam negeri dari bank di luar negeri (L/C ekspor). Letter of Credit (L/C) Impor Syariah adalah surat pernyataan akan membayar kepada Eksportir yang diterbitkan oleh Bank untuk kepentingan Importir dengan pemenuhan persyaratan tertentu sesuai dengan prinsip syariah. Terdapat beberapa bentuk ketentuan Akad untuk L/C Impor, yaitu:

1.    Akad Wakalah bil Ujrah dengan ketentuan:
a)    Importir harus memiliki dana pada bank sebesar harga pembayaran barang yang diimpor;
b)    Importir dan Bank melakukan akad Wakalah bil Ujrah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;
c)    Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase.

2.    Akad Wakalah bil Ujrah dan Qardh dengan ketentuan:
a)    Importir tidak memiliki dana cukup pada bank untuk pembayaran harga barang yang diimpor;
b)    Importir dan Bank melakukan akad Wakalah bil Ujrah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;
c)    Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase;
d)    Bank memberikan dana talangan (qardh) kepada importir untuk pelunasan pembayaran barang impor.

3.    Wakalah bil Ujrah dan Hawalah dengan ketentuan:
a)    Importir tidak memiliki dana cukup pada bank untuk pembayaran harga barang yang diimpor;
b)    Importir dan Bank melakukan akad Wakalah untuk pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;
c)    Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase;
d)    Hutang kepada eksportir dialihkan oleh importir menjadi hutang kepada Bank dengan meminta bank membayar kepada eksportir senilai barang yang diimpor.


Kesimpulan
Wakalah merupakan akad penyerahan kekuasaan oleh sesorang kepada orang lain. Dalam hal ini seseorang menunjuk orang lain sebagai penggantinya dalam bertindak. Seperti melakukan transfer uang atau lettet of credit/ LC impor dan lain sebagainya.

Demikianlah mengenai pembahasan akad wakalah dasar huku, sayarat, rukun beserta contoh dan implemantasinya. Semoga bisa bermanfaat

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon