May 20, 2019

Pengertian Amar, Nahi, Takhyir, ‘Am dan Khas

Menurut mayoritas ulama Ushul Fiqih, amar adalah
اللفظ الدال الى طلب الفعل على جهة الإ ستعلاء
Suatu tuntutan (perintah) untuk melakukan sesuatu dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah tingkatannya.
Perintah untuk melakukan suatu perbuatan, seperti dikemukakan oleh Khudari Bik dalam bukunya Tarikh al-Tasyri, disampaikan dalam berbagai gaya atau redaksi antra lain:
1.    Perintah tugas dengan menggunakan kata amara ( (أمرdan yang seakar dengannya. Misalnya dalam ayat:
إِنَّ اللهَ يَأْ مُرُ بِالْعَدَلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebijakan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Qs.an-Nahl/16:90)

2.    Perintah dalam bentuk pemberitaan bahwa perbuatan itu diwajibkan atas seeorang dengan memakai kata Kutiba (كتب/diwajibkan). Misalnya, dalam surat al-Baqarah ayat 178.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh, orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pe-maafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) membayar (diyat) kepda yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.

3.    Perintah dengan memakai redaksi pemberitaan (jumlah khabariyah), namun yang dimaksud adalah perintah. Misalnya, surat al-Baqarah ayat 228.

Wanita- wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru.Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari pada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
4.    Perintah dengan memakai kata kerja perintah secara langsung. Misalnya, surat al-Baqarah ayat 238.

“Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”
5.    Perintah dengan menggunakan kata kerja mudhari’(فعل المضارع/ kata kerja untuk sekarang dan yang akan datang) yang disertai oleh lam al-amr  (huruf yang berarti perintah). Misalnya, surat al-Hajj ayat 29.

“Kemudian, (sesudah menyembelih) hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar mereka dan melakukan tawaf sekeliling baitullah.”
6.    Perintah dengan menggunakan kata faradha (فرض/ mewajibkan). Misalnya, surat al-Ahzab ayat 50
قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَنُهُمْ لِيْكَيْلَا يَكُوْنَ عَلَيْكَ حَرَجٌ
“Sesungguhnya kami telah mengetahui apa yang kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu.”
7.    Perintah dalam bentuk penilaian bahwa perbuatan itu adalah baik. Misalnya, surat al-Baqarah ayat 220.

“Dan mereka bertanya kepadamutentang anak yatim, katakanlah: “mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allh mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah mengendaki, niscaya dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Bijaksana.”
8.    Perintah dalam bentuk menjanjikan kebaikan yang banyak atas pelakunya. Misalnya, surat al-Baqarah ayat 245.

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allh menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”

b.    Hukum-hukum yang mungkin ditunjukkan oleh bentuk amar

Suatu bentuk perintah, seperti dikemukakan oleh Muhammad Adib Saleh, Guru Besar Ushul Fiqih Universitas Damaskus, bisa digunakan untuk berbagai pengertian, yaitu antara lain:
1.    Menunjukan hukum wajib seperti perintah untuk Shalat.
2.    Untuk menjelaskan bahwa sesuatu itu boleh dilakukan, seperti surat al-Mukminun ayat 51.

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengerti apa yang kamu kerjakan.”
3.    Sebagai anjuran, seperti surat al-Baqarah ayat 282.
يَاأَيُّهّاالَّذِيْنَءَامَنُوا إِذَا تدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمَّى فَاكْتُبُوهُ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaknya kamu menuliskannya.”
4.    Untuk melemahkan, misalnya, surat al-Baqarah ayat 23.

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan Al-Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolong mu selain Allah , jika kamu orang-orang yang benar.”
5.    Sebagai ejekan dan penghinaan, misalnya, firman Allah berkenaan dengan orang yang ditimpa siksa di akhirat nanti sebagai ejekan atas diri mereka dalam surat ad-Dukhan ayat 49.

“Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.”

c.    Kaidah-kaidah yang berhubungan dengan Amar

1.    الأصل فى الأمر للو جو, meskipun suatu perintah bisa menunjukan berbagi pengertian, namun pada dasarnya suatu perintah menunjukan hukum wajib dilaksanakan kecuali ada indikasi atau dalil yang memalingkannya dari hukum tersebut.
2.    دلالة الأمر على التكر ارأوالوحدة adalah suatu perintah haruskah dilakukan berulang kali atau cukup dilakukan sekali saja, menurut jumhur ulama Ushul Fiqih, pada dasarnya suau perintah tidak menunjukan harus berulang kali dilakukan kecuali ada dalil untuk itu.
3.    دلالة الأمر على الفور أو التر اخى adalah suatu perintah haruskah dilakukan segera mungkin atau bisa ditunda-tunda? Pada dasarnya suatu perintah tidak menghendaki untuk segera dilakukan selama tidak ada dalil lain yang menunjukan untuk itu, karena yang dimaksud oleh suatu perintah hanyalah terwujudnya perbuatan yang diperintahkan.

2.    Nahyu (Nahi)

a.    Pengertian Nahi
Menurut bahasa nahi berarti larangan. Sedangkan menurut istilah ialah larangan melakukan sesuatu perbuatan dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah tingkatannya.
Muhammad Al Khudlori memberi arti Nahi adalah:
النهي هو  طلب  الكف  عن فعل علي وجه الاستلاء
Nahyu adalah perintah meninggalkan suatu perbuatan dari atas kepada bawahannya.
Maka yang dimaksud dengan Nahyu dalam pembahasan ini adalah dalil Nash yang bersumber dari firman Allah SWT baik berupa dalil-dalil Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang berisi larangan untuk mengerjakan suatu perkara.
b.    Kedudukan hukum “An Nahyu “
Apabila ada dalil berbentuk Nahyu, ada dua pendapat Ulama tentang kedudukan hukumnya dengan kaidahnya masing-masing:

1)    Golongan jumhur ulama’ menyatakan bahwa;    الاصل في النهي لتحريم
“ Pada dasarnya setiap larangan itu hukumnya haram ”
Jadi menurut pendapat ini selama tidak ada keterangan bahwa larangan itu hanya makruh saja, maka berarti setiap larangan itu betul-betul haram.
Timbulnya pendapat ini tidak lepas dari banyaknya dalil yang mengindikasikan bahwa orang yang melanggar larangan Allah SWT diancam dengan siksa neraka, juga beberapa fenomena anatara lain kisah Nabi Adam AS yang melanggar larangan Allah SWT yaitu dengan memakan buah yang dilarang oleh Allah SWT,  kemudian  diusir oleh Allah SWT dari surga.
Dengan demikian, manakala tidak ada qarinah lain,setiap menemui dalil larangan maka hukum dasarnya adalah haram. Misalnya, berbuat zina, karena tidak ada keterangan dari manapun yang menerangkan bahwa zina itu halal maka perbuatan zina itu tetap diharamkan. Hal berbeda dengan ketentuan larangan makan atau minum sambil berdiri. Walaupun ada larangan makan atau minum sambil berdiri namun ternyata ada keterangan lain bahwa minum sambil berdiri itu pernah tidak dilarang.

Berdasarkan kaidah ini karena larangan itu pada dasarnya berhukum haram, maka hukum dasar dari makan dan minum sambil berdiri adalah haram. Tetapi ada hadits yang menerangkan bahwa ada sahabat makan dan minum sambil berdiri dibiarkan oleh Nabi SAW, maka dengan qarinah taqrir Nabi SAW ini hukum dasar itu menjadi gugur, sehingga makan dan minum sambil berdiri bukannya haram tetapi status hukumnya adalah makruh. 

2)    Golongan Mu’tazilah, menyatakan bahwa الاصل في النهي للكراهة:

“Pada dasarnya setiap larangan itu hanya menunjukkan makruh saja”.
Alasannya adalah bahwa manusia lahir kedunia ini adalah membawa hak kebebasan, sehingga pada dasarnya tidak ada larangan yang bersifat penekanan. Pendapat mereka ini kalau dituntut ada persesuaian dengan kaidah fiqhiyah yang menyatakan bahwa pada dasarnya sesuatu itu asalnya boleh atau mubah, kecuali ada keterangan yang mengharamkan.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa golongan Mu’tazilah dan Ahlu Ra’yu senantiasa lebih cenderung pada logikanya dan kebebasan hak asasi manusia sebagai dasar fitri manusia sangat dipegangi oleh mereka. Oleh karena itu, pengukuran kaidah nahyiyah ini pun tidak luput dari ukuran ajaran mereka ini.

3)    Setiap ada nahyu, sekalipun larangan itu hanya dinyatakan sekali saja namun berlakunya adalah selamanya. Kaidahnya:
الاصل في النهي يقتضي التكرار في جميع الامزنة   
“ Pada dasarnya setiap larangan itu menghendaki dijauhi berulang-ulang ( tidak dikerjakan selama-lamanya )”.
Misalnya terdapat dalil:لا تقربوا الزني “jangan kau dekati perbuatan zina”, sekalipun larangan zina itu diucapkan ataupun didengar sekali saja maka harus dijauhi selama-lamanya.
Kemudian berbeda dengan dalil tentang ini:
 لا تقربوا الصلاة وانتم سكارا “jangan kamu mengerjakanshalat sedang kamu dalam keadaan mabuk”, ini berarti bahwa kalau hanya berdasar dalil ini, tidak boleh shalat waktu mabuk saja, karena ada qarinah dalam keadaanmabuk, jadi setelah tidak mabuk lagi maka larangan shalat itu sudah tidak berlaku lagi.

4)    Bentuk lafadz Nahyu

Bentuk lafadz Nahyu antara lain :
a)    Kata yang tegas larangan yakni berbentuk fiil mudlari’ mukhatab (kamu) yang dimasuki oleh la nahiyah. Misalnya : لا تجلس misalnya lagi : لا تكتبوا
b)    Kalam khabariyah yangmengandung makna larangan, misalnya antara lain:
1.    Ada kata حرم misalnya: حرمت عليكم الميتة والدم
2.    Ada kata نهي  misalnya:نهي رسول الله عن التبطل
3.    Ada lafadz yang menafikan suatu perbuatan misalnya:
لا يشربن احد كم قاءماtidaklah minumsambil seseorang dari kamu berdiri. Walaupun dengan kalimat nafi, tetapi dikandung maksud tidak disenangi, maka berarti dilarang.

3.    Takhyir (memberi pilihan)
Menurut Abd. Al-Karim Zaidan, bahwa yang dimaksud dengan takhyir adalah:
ما خير الشارع المكاف بين فعله وتركه
“Bahwa syari (Allah dan Rasul-Nya) memberi pilihan kepada hambanya antara melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan.”
Untuk memberikan hak pilih antara melakukan atau tidak melakukan dalm Al-Quran terdapat berbagai cara, antara lain, seperti disebutkan Khudari Bik adalah:
1.    Menyatakan bahwa suatu perbuatan halal dilakukan, misalnya surat al-Baqarah ayat 187.
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ ارَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ....
“Dihalalkan bagimu pada malam hari-hari puasa bercampur dengan istri-istri kamu.”
2.    Pembolehan dengan menafikan dosa dari suatu perbuatan. Misalnya, surat al-Baqarah ayat 173.
...فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَعَادٍ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌرَحِيْمٌ
“Tetapi barang siapa yang dalam kedaan terpaksa, sedang ia tidak menginginkannya, dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya (memakan hal-hal yang diharamkan itu), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
3.    Pembolehan dengan menafikan kesalahan dari melakukan suatu perbuatan. Misalnya, surat al-Baqarah ayat 235.
وَلاَجُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيْمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِالنِّسَاءِ أَوْأَكْنَنْتُمْ فِيْ أَنْفُسِكُمْ...
“Dan tidak ada kesalahan bagimu meminang wanita-wanita itu (dalam iddah wafat) dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu.”

B.    ‘Am dan Khas

a.    ‘Am

1.    Pengertian ‘Am

Secara bahasa ‘am berarti yang umum, merata, dan menyeluruh. Adapun menurut istilah ‘am sebagaimana dikemukakan oleh Abul Hamid Hakim ialah:
اَلْعَامُ هُوَاللَّفْظُ الْمُسْتَغْرِقُ لِجَمِيْعِ مَا يَصْلُحُ لَهُ بِحَسْبِ وَضْعٍ وَاحِدٍ دَفْعَةً
Artinya: “Am adalah lafaz yang menunjukkan pengertian umum yang mencakup satuan-satuan (afrad) yang ada dalam lafaz itu tanpa pembatasan jumlah tertentu.”
Contohnya kata الإِنْسَا نُ     artinya manusia (mencakup segala jenis manusia).

2.    Lafaz-lafaz yang Menunjukkan Arti ‘Am (Umum)
Berdasarkan hasil penelitian terhadap mufradat dan ungkapan (gaya bahasa), dalam bahasa Arab ditemukan bahwa lafaz-lafaz yang arti bahasanya menunjukkan arti yang bersifat umum yang mencakup semua satuan-satuannya adalah sebagai berikut :
Lafadzكُلٌّ  dan جَمِيْعٌ
Contohnya

1 ) كُلَّ خَطَاءٍيُحْدِ ثُ ضَرَرًا بِا لْغَيْرِ يَلْزَمُ فَا عِلَهُ بِا لتَّعْوِيْضِ

Artinya: “Setiap kesalahan yang menimbulkan bahaya bagi orang lain maka si pelaku itu dituntut kewajiban membayar ganti rugi.”
2 ) خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي اْلأَرْضِ جَمِيْعًا
Artinya: “Allah telah menjadikan untuk kamu semua yang ada di bumi.”
3.    Lafaz-lafaz yang menunjukkan Arti ‘Am (Umum)
a.    Lafadz mufrad tunggal yang dimakrifatkan oleh ال تعريف الجنس
b.    Jama’ (plural) yang dimakrifatkan oleh   ال تعريف الجنس
c.    Lafadz mufrad dan jama’ yang dimakrifatkan dengan idhafah,.
d.    Isim mausulما, من، الذي، التي، الذين، اللأئ، اؤلائ
e.    Isim syaratما، من
f.    Isim-isim istifhamiyahما، من، أي، متى
g.    Isim nakirah yang dinafikan.
4.    Kaidah – kaidah yang berkaitan dengan ‘Am
a.     العموم لا يتصور في الأحكام
Artinya: “Keumuman  itu tidak menggambarkan suatu hukum.”
Kaidah ini dapat dipahami bahwa kalimat ‘am itu masih bersifat global, masih bersifat umum dan belum menunjukkan ketentuan hokum yang pasti dan jelas.
b.     المفهوم له عموم
Artinya: “Makna tersirat itu mempunyai bentuk umum.”
Maksud kaidah ini ialah bahwa makna tersirat (mafhum), dari sebuah kalimat masih menyimpan arti yang bersifat umum (belum pasti dan jelas).
c.    المخاطب يدخل في عمومخطاب 
Artinya: “Orang yang memerintah sesuatu maka ia termasuk di dalam perintah tersebut.”
Kaidah ini dapat dipahami bahwa hukum tidak hanya berlaku kepada bawahan (orang yang diperintah), tetapi juga berlaku kepada orang yang memerintahkannya.
d.    العبرة بعموم الفظ لابخصوص السبب
Artinya: “Suatu ungkapan itu berdasarkan keumuman lafaz bukan kepada swbab yang khusus.”
e.    العمل با لعا م قبل البحث عن المخصص لا يجوز
Artinya; “Mengamalkan lafaz yang bersifat umum sebelum ada pengkhususan maka hal itu tidak diperbolehkan,”

1.    Pengertian Khas
Secara bahsa khas berarti tertentu. Adapun khas dalam istilah ushul fiqh ialah lafaz yang menunjukkan arti satu yang telah tertentu.

2.    Kebolehan Mentakhsis Lafaz yang Umum

Para ulama sepakat bahwa mentakhsis (mengkhususkan) lafaz yang umum itu boleh, karena pada dasarnya semua ayat-ayat al-Qur’an mengandung kebolehan mentakhsis baik berupa takhsis muttasil maupun munfasil. Sebagian ulama merumuskan bahwa hanya ada lima ayat yang tidak memerlukan pengkhususan, yaitu:
a.    Masalah kesempurnaan dan keagungan Allah. Seperti terdapat dalam QS, ar-Rahman/55:27.
b.    Keharaman menikahi ibu, baik karena nasab atau persusuan. Seperti dalam QS. an-Nisa/ 4;22.
c.    Setiap individu pasti mengalami kematian. Seperti dalam QS. Ali Imran: 185.
d.    Allah selalu menanggung rezeki makhluk hidup. Seperti dalam QS. Hud/11:6
e.    Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan di bumi. Seperti dalam QS. Al-Baqarah/2:284.

3.    Ketentuan Takhsis yang Muttashil

Bentuk-bentuk takhsis muttashil (bersambung), dia antaranya:

a.    Syarat, contohnya bolehnya suami ruju’ dengan istrinya jika ia menghendaki kebaikan.
b.    Sifat, contohnya seruan memerdekakan budak yang mukmin bagi orang yang membunuh orang mukmin yang tidak sengaja.
c.    Ghayah, (lafaz yang menunjukkan maksud terakhir). Contohnya membasuh tangan dalam berwudhu sampai siku-siku.
d.    Badal ba’du min kull (pengganti dari sebagian). Contohnya kewajiban haji bagi orang-orang yang mampu melakukan perjalanan.
e.    Haal (yang menunjukkan keadaan). Misalnya, larangan melakukan shalat dalam keadaan mabuk.
f.    Zharaf (keterangan waktu atau tempat). Contohnya: Tentang masa menunaikan zakat fitrah. Jika dilakukan sebelum shalat Ied maka diterima, namun jika dilakukan sesudahnya maka dianggap sedekah biasa.

4.    Ketentuan Takhsis yang Munfasil (Terpisah)

a.    Al-Qur’an dapat dikhususkan dengan al-Qur’an. Contohnya batas iddah wanita yang dicerai suaminya selama tiga kali suci/haid.
b.    Al-Qur’an dikhususkan dengan sunnah. Contohnya masalah waris, anak laki-laki mendapat dua bagian dari bagian perempuan.
c.    As-Sunnah dapat dikhususkan dengan al-Qur’an. Contohnya bahwa ttidak sah shalat seseorang kecuali dengan wudhu.
d.    As-Sunnah dapat ditakhsisdengan sunah. Misalnya, hadis yang mengharuskan zakat hasil tani 10 % jika dibantu air hujan.
e.    Al-Qur’an atau hadis dikhususkan oleh qiyas. Contohnya hukum dera bagi pelaku zina dengan dera 100 kali.
f.    Al-Qur’an dikhususkan oleh akal contohnya haji wajib bagi orang yang sudah mampu melakukan perjalanannya.
g.    Hadis dikhususkan oleh mafhum (makna tersirat). Contoh hadis Nabi yang berisi tentang kewajiban mengeluarkan zakat satu kambing dari 40 kambing.
h.    Pengkhususan dengan problema yang nyata karena darurat itu diperlukan.

Kesimpulan

Amr adalah perintah untuk melakukan suatu perbuatan, seperti dikemukakan oleh Khudari Bik dalam bukunya Tarikh al-Tasyri, disampaikan dalam berbagai gaya atau redaksi. Nahyu adalah dalil Nash yang bersumber dari firman Allah SWT baik berupa dalil-dalil Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang berisi larangan untuk mengerjakan suatu perkara. Menurut Abd. Al-Karim Zaidan, bahwa yang dimaksud dengan takhyir adalah Bahwa syari (Allah dan Rasul-Nya) memberi pilihan kepada hambanya antara melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan.
Secara bahasa ‘am berarti yang umum, merata, dan menyeluruh. Adapun menurut istilah ‘am sebagaimana dikemukakan oleh Abul Hamid Hakim Am adalah lafaz yang menunjukkan pengertian umum yang mencakup satuan-satuan (afrad) yang ada dalam lafaz itu tanpa pembatasan jumlah tertentu. Secara bahasa khas berarti tertentu. Adapun khas dalam istilah ushul fiqh ialah lafaz yang menunjukkan arti satu yang telah tertentu.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon