Dasar Hukum Hadhanah dan Syarat-Syaratnya

kata hadanah adalah bentuk mashdar dari kata hadhuash-shabiy,atau mengasuh atau memelihara anak. Mengasuh (hadhn) dalam pengertian ini tidak di maksudkan dengan menggendongnya di bagian samping dan dada atau lengan.

Secara terminologis,hadhanah adalah menjaga anak yang belum bisa mengatur dan merawat dirinya sendiri,serta belum mampu menjaga dirinya dari hal-hal yang dapat membahayakan dirinya. Hukum hadhanah ini hanya di laksanakan ketika pasangan suami istri bercerai dan memiliki anak yang belum cukup umur untuk berpisah dari ibunya.

Hal ini di sebabkan karena sianak masih perlu penjagaan,pengasuhan,pendidikan,perawatan dan melakukan berbagai hal demi kemaslahatannya. Inilah yang di maksud dengan perwalian.
Pemeliharaan anak dalam bahasa arab di sebut dengan istilah “hadanah”.

Hadanah menurut bahasa berarti “meletakan sesuatu dekat tulang rusuk atau di pangkuan”,karena ibu waktu menyusukan anaknya meletakkan anak itu di pangkuan-nya ,seakan-akan ibu di saat itu melindungi dan memelihara  anaknya,sehingga “hadanah” di jadikan istilah yang maksudnya: “pendidikan dan pemeliharaan anak sejak dari lahir ampai sanggup berdiri sendiri mengurus dirinya yang di lakukan oleh kerabat anak itu”.

Para ulama fikih mendefinisikan : hadanah yaitu melakukan pemeliharaan anak-anak yang masih kecil,baik laki-laki maupun perempuan,atau yang sudah besar tetapi belum mumayyiz,menyediakan sesuatu yang menjadikan kebaikannya,menjaganya dari sesuatu yang menyakiti dan merusaknya, mendidik jasmani ,rohani dan akalnya,agar mampu berdiri sendiri menghadapi hidup dan memikul tanggung jawab.

Hadanah berbeda dengan pendidikan (tarbiyah). Dalam hadanah terkandung pengertian pemeliharaan jasmani dan rohani di samping terkandung pula pengertian pendidikan terhadap anak. Pendidik mungkin terdiri dari keluarga si ank dan ia merupakan pekerjaan professional, sedangkan hadanah di laksanakan dan di lakukan oleh keluarga si anak,kecuali jika anak tidak mempunyai keluarga serta ia bukan professional di lakukan oleh setiap ibu,serta anggota kerabat yang lain.

Hadanah merupakan hak dan hadhin,sedangkan pendidikan belum tentu merupakan hak dari pendidik.

Dasar hukum hadhanah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman,peliharalah dirimu  dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu"


Pada ayat ini orang tua di perintahkann allah SWT untuk memelihara keluarganya dari api neraka dengan berusaha agar seluruh anggota keluarganya itu melaksanakan perintah-perintah dan larangan-larangan allah,termasuk anggota keluarga dalam ayat ini adalah anak.

Mengasuh anak hukumnya wajib,sebab mengabaikannya berarti menghadapkan anak-anak yang masih kecil kepada bahaya kebinasaan.

Hadhanah merupakan hak bagi anak-anak yang masih kecil,karena ia membutuhkan pengawasan,penjagaan,pelaksanaan urusannya dan orang yang mendidiknya. Ibunyalah yang berkewajiban melakukan hadhanah. Rasulullah SAW bersabda, “engkaulah (ibu) yang berhak terhadap anaknya.”

Anak yang masih kecil memiliki hak hadhanah. Karena itu, ibunya diharuskan melakukannya jika mereka membutuhkannya dan tidak aa orang lain yang bisa melakukannya. Hal ini dimaksudkan agar hak anak atas pemeliharaan dan pendidikannya tersia-siakan. Jika hadhanahnya dapat ditangani orang lain.misalnya bibi perempuan dan ia rela melakukannya,sedangkan ibunya tidak mau,maka hak ibu untuk mengasuh anaknya menjadi gugur dengan sebab bibi oerempuan yang mengasuhnya pun mempunyai hak hadhanah (mengasuh).

Pendidikan yang lebih penting adalah pendidikan anak dalam pangkuan ibu bapaknya, karena dengan pengawasan dan perlakuan keduanya secara baik akan dapat menumbuhkan jasmani dan akalnya,membersihkan jiwanya serta mempersiapkan diri anak dalam menghadapi kehidupannya di masa datang.

Apa bila terjadi perceraian, selama ibunya belum menikah lagi,maka ibu di utamakn untuk mengasuhnya,sebab dia lebih mengetahui dan lebih mampu mendidiknya. Juga karena ibu mempunyai rasa kesabaran untuk melakukan tugas ini yang tidak di miliki oleh bapaknya. Ibu juga lebih mempunyai waktu untuk mengasuh anaknya daripada bapak. Karena iitu peran ibu sangat penting dalam mengatur kemaslahata anak.

Dalam sebuah hadits nabi SAW dijelaskan :


عَن عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ عُمَرَ ر.ع. اَنَّ اِمْرَأَ ةً قَا لَتْ : يَا رَ سُوْلَ اللَّهِ ص.م.اِنَّ ابْنى هَذَا كَا نَ بَطنِى لَهُ وِعَا ءٌ وَحِجْرِىْ لَهُ حِوَا ءٌ وَثَدْ يِى لَهُ سِقَا ءٌ وَزَعَمَ اَ بُوْ هُ اَنَّهُ يَنْزِ عُهُ مِنِّى فَقَا لَ :اَنْتَ اَحَقُّ بِهِ مَا لَمْ تَنْكِحِى (اخر جَه احمد وابو داود والبيهقى والحاكم)


Artinya : "Dari Abdullah bin umar r.a bahwa seorang perempuan bertanya, “ya rasulullah,sesungguhnya anakku ini adalah perutku yang mengandungnya,dan susuku yang menjadi minumannya,dan pangkuanku yang memeluknya,sedang bapaknya telah menceraikan aku dan ia mau mengambilnya dariku. “lalu rasulullah SAW. Bersabda kepadanya,”engkau yang lebih banyak berhak dengan anak itu,selama engkau belum menikah.” (hadits ini di keluarkan oleh ahmad.abu daud,baihaqi,hakim dan dia menasikhnya).

Syarat-Syarat Hadhanah

Seorang ibu yang mengasuh anaknya yang masih kecil harus memiliki persyaratan,yaitu adanya kecukupan dan kecakapan yang memerlukan syarat-syarat tertentu. Jika syarat-syarat ini tuidak terpenuhi ,maka gugurlah kebolehan menyelenggarakan hadhanahnya.
Syarat-syarat tersebut antara lain :

1. Berakal sehat,bagi orang yang kurang sehat akalnya atau gila,tidak boleah menangani hadhanah. Karena mereka tidak dapat mengurusi dirinya sendiri,,maka ia tidak boleh diserahi mengurus orang lain.

2. Dewasa. Hal ini karena anak kecil sekalipun mumayyiz,tetap membutuhkan orang lain yang mengurusinya dan mengasuhnya. Karena itu,dia tidak boleh menangani urusan orang lain.

3. Mampu mendidik. Karena itu, tidak boleh menjadi pengasuh bagi orang buta atau rabun,sakit menular,atau sakit yang melamahkan jasmaninya untuk mengurus anak kecil,sudah berusia lanjut yang bahkan ia sendiri perlu diurus,bukan orang yang mengabaikan urusan rumahnya sehingga merugikan anak kecil yang diurusnya,atau bukan orang yang tinggal bersama orang yang sakit menular atau bersama orang yang suka marah kepada anak-anak tersebut.

4. Amanah dan berbudi . sebab orang yang curang tidak dapat dipercaya untuk menunaikan kewajibannya dengan baik. Bahkan dikhawatirkan bila nantinya sianak dapat meniru atau berkelakuan seperti kelakuan uang yang curang ini.

5. Islam.

Anak kecil muslim tidak boleh diasuh oleh pengasuh yang bukan muslim,sebab hadhanah merupakan masalah perwalian.

Sedangkan allah tidak membolehkan seorang mukmin di bawah perwalian orang kafir.
Allah berfirman :

وَلَن يَجْعَلَ اللّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً -١٤١

Artinya : “Dan allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.”

6. Ibunya belum menikah lagi.

Jika si ibu telah menikah lagi dengan laki-laki lain,maka hak hadhanahnya hilang.

7. Merdeka.

Sebab seorang budak biasnay sangat sibuk dengan urusan-urusan dengan tuannya,sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk mengasuh anak kecil.


Post a Comment for "Dasar Hukum Hadhanah dan Syarat-Syaratnya"