Showing posts with label cara mendapatkan rezeki barokah. Show all posts
Showing posts with label cara mendapatkan rezeki barokah. Show all posts

August 5, 2019

Inilah Hukum Tidur Setelah Subuh Menurut Para Ulama



Tidur merupakan salah satu aktivitas atau kebutuhan yang sangat penting bagi kebutuhan manusia dengan tujuan untuk mengistirahtakan jiwa dan raga manusia. Namun dalam pandangan Islam ada beberapa waktu yang dilarang untuk tidur salah satunya adalah tidur setelah sholat subuh.


Tidur setelah subuh memang hal yang sudah biasa dilakukan kebanyakan orang, tidak hanya di dalam negeri saja di luar negeri pun banyak orang yang tidur setelah subuh.


Kemudian yang menjadi petanyaan mengapa tidur setelah subuh tidak diperbolehkan?


Tidur setelah subuh hukumnya makruh karena waktu tersebut adalah saat dibagikannya rizki maka tidak baik tidur waktu itu. Ibnu abbas pernah melihat seorang anaknya yang tidur setelah subuh, beliau berkata : "Bangunkah, apakah engkau tidur di saat rizki dibagikan di dalamnya." Dari sebagian tabi'in mengatakan bahwa sesungguhnya bumi berteriak karena tidurnya orang alim setelah sholat subuh, hal itu disebabkan waktu tsb adalah waktu untuk mencari rizki dan berjalan di dalamnya secara syara' dan adat kebiasaan menurut orang-orang yang berakal.

Sebagaimana Nabi Saw berdoa kepada Allah dan memohon agar umatnya diberikan rezeki di pagi hari. Sebagaimana dalam hadist nabi berikut ini.
  
"Yaa Allah berkahilah ummatku di waktu paginya." (HR Abu Dawud)


Tidur sendiri dibagi menjadi 5 macam.

ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺧﻤﺴﺔ ﺍﻧﻮﺍﻉ ﺍﻟﻌﻴﻠﻮﻟﺔ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﻳﻮﺭﺙ ﺍﻟﻐﻔﻠﺔﻭﺍﻟﻐﻴﻠﻮﻟﺔ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻀﺤﻰ ﻳﻮﺭﺙ ﺍﻟﻔﻘﺮ ﻭﺍﻟﻘﻴﻠﻮﻟﺔ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﻭﻗﺖ ﺍﻻﺳﺘﻮﺍﺀ ﻳﻮﺭﺙ ﺍﻟﻐﻨﻰ ﻭﺍﻟﻜﻴﻠﻮﻟﺔ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻌﺼﺮ ﻳﻮﺭﺙ ﺍﻟﺠﻨﻮﻥ ﻭﺍﻟﻔﻴﻠﻮﻟﺔ ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻤﻐﺮﻳﺐ ﻳﻮﺭﺙ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ
1. 'Ailulah yaitu tidur setelah fajar, bisa mewariskan lupa.
2. Ghoilulah yaitu tidur di waktu dhuha, bisa mewariskan faqir
3. Qoilulah yaitu tidur di waktu istiwa', bisa mewariskan kaya
4. Kailulah yaitu tidur setelah 'ashar, bisa mewariskan gila
5. Failulah yaitu tidur setelah maghrib, bisa mewariskan fitnah

Dalam hadisnya Umar : "Berhati-hatilah kalian dari tidur di waktu pagi, karena bisa menyebabkan banyaknya uap yang menutupi otak, memutuskan pernikahan dan mengkeringkan tabi'at."

Disamping bisa menghambar rezeki, tidur di waktu pagi atau setelah subuh juga bisa mengganggu kesehatan manusia. Mengapa demikian? Karena tidur di waktu pagi ternyata bisa membuat tubuh menjadi lemas dan juga menimbulkan tidak semangat, sehingga menyebabkan berbagai macam penyakit.

Ibnu Qayyim rahimahuallah pernah berkata : "Banyak tidur dapat menyebabkan lalai dan malas-malasan. Banyak tidur ada yang termasuk dilarang dan ada pula yang dapat menimbulkan bahaya bagi badan. Tidur pagi juga menyebabkan berbagai penyakit badan, diantaranya adalah lemah syahwat." (Zaadul ma'ad, 4/22)

Dan jika ditinjau dari segi medis, tidur diwaktu pagi setelah subuh ternyata juga kurang menyehatkan badan. Pasalnya hal ini tergolong sebagai pola hidup yang tidak sehat dan dapat mengganggu metabolisme tubuh manusia.

Namun jika orang malam harinya begadang dan tidak sempat tidur, maka disarankan kalau mau tidur sebaiknya setelah matahari terbit yaitu sekitar jam 6 pagi sampai jam 7 pagi.

Kitab syarah mandzumatul adab (2/355) karya syeikh muhammad bin ahmad as safarini:

ﻣﻄﻠﺐ : ﻓﻲ ﻛﺮﺍﻫﺔ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﻭﺍﻟﻌﺼﺮ : ﻭﻧﻮﻣﻚ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﻭﺍﻟﻌﺼﺮ ﺃﻭ ﻋﻠﻰ ﻗﻔﺎﻙ ﻭﺭﻓﻊ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻓﻮﻕ ﺃﺧﺘﻬﺎ ﺍﻣﺪﺩ ‏( ﻭ ‏) ﻳﻜﺮﻩ ‏( ﻧﻮﻣﻚ ‏) ﺃﻳﻬﺎ ﺍﻟﻤﻜﻠﻒ ‏( ﺑﻌﺪ ‏) ﺻﻼﺓ ‏( ﺍﻟﻔﺠﺮ ‏) ﻷﻧﻬﺎ ﺳﺎﻋﺔ ﺗﻘﺴﻢ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻷﺭﺯﺍﻕ ﻓﻼ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﻓﻴﻬﺎ ، ﻓﺈﻥ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﺭﺃﻯ ﺍﺑﻨﺎ ﻟﻪ ﻧﺎﺋﻤﺎ ﻧﻮﻣﺔ ﺍﻟﺼﺒﺤﺔ ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻪ : ﻗﻢ ﺃﺗﻨﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻘﺴﻢ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻷﺭﺯﺍﻕ .
ﻭﻋﻦ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﺃﻥ ﺍﻷﺭﺽ ﺗﻌﺞ ﻣﻦ ﻧﻮﻡ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻔﺠﺮ ، ﻭﺫﻟﻚ ﻷﻧﻪ ﻭﻗﺖ ﻃﻠﺐ ﺍﻟﺮﺯﻕ ﻭﺍﻟﺴﻌﻲ ﻓﻴﻪ ﺷﺮﻋﺎ ﻭﻋﺮﻓﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻌﻘﻼﺀ . ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ } ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎﺭﻙ ﻷﻣﺘﻲ ﻓﻲ ﺑﻜﻮﺭﻫﺎ { .
ﻭﻓﻲ ﻏﺮﻳﺐ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﻴﺪ ﻗﺎﻝ : ﻭﻓﻲ ﺣﺪﻳﺚ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ } ﺇﻳﺎﻙ ﻭﻧﻮﻣﺔ ﺍﻟﻐﺪﺍﺓ ﻓﺈﻧﻬﺎ ﻣﺒﺨﺮﺓ ﻣﺠﻔﺮﺓ ﻣﺠﻌﺮﺓ { ﻗﺎﻝ : ﻭﻣﻌﻨﻰ ﻣﺒﺨﺮﺓ ﺗﺰﻳﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭ ﻭﺗﻐﻠﻈﻪ . ﻭﻣﺠﻔﺮﺓ ﻗﺎﻃﻌﺔ ﻟﻠﻨﻜﺎﺡ . ﻭﻣﺠﻌﺮﺓ ﻣﻴﺒﺴﺔ ﻟﻠﻄﺒﻴﻌﺔ
" .

Demikian mengenai hukum tidur setelag subuh. Dan kita sebagi umat Islam hendaknya jangan tidut di waktu pagi atau setelah subuh, dikarenakan bisa mencegah datangnya rezeki dan menggangu kesehatan tubuh manusia.

Waallahu a'lam

June 20, 2019

Hakikat Ilmu Dalam Al Quran

Dalam proposal komprehensif ilmu pengetahuan, di samping Al-Quran menekankan penelaahan terhadap fenomena-fenomena alam dan insani dengan menggunakan indera dan empiris, juga mengutuhkan penelaahan ini dengan perenungan dan penalaran rasional yang, pada akhirnya, semua itu jatuh dalam rangkulan agama.

Dengan memperhatikan kedalaman dimensi ketuhanan dari fenomena alam dalam kaitannya dengan kekuatan pencipta, Al-Quran menempatkan ilmu yang diperoleh dari indera, empiris, akal, iman dan takwa sebagai fasilitas manusia dalam rangka penyempurnaan dan pengembangan diri.

Definisi yang dipilih oleh Murtadha Muthahari untuk esensi ilmu dalam pandangan Al-Quran adalah mengenal ayat yang, atas dasar itu, seluruh alam merupakan ayat dan tanda kebesaran Allah Swt. Allamah Ja’fari mengenalkannya dengan nama “pengetahuan pengingat”. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dalam Al-Quran telah membuka jalan menyingkap ayat dan kesan-kesan Ilahi dengan mengajak manusia untuk menelaah sejarah, alam, dan dirinya sendiri.

Dengan begitu, maka di samping meningkatnya level ilmu dalam mengenal berbagai hubungan dan relasi antarfenomena di alam ini, Al-Quran akan menguak lapisan-lapisan terdalam pengetahuannya melalui pengenalan akan hubungan berbagai fenomena dan tanda-tanda dengan makna fundamental keberadaan dan mengarahkan manusia ke jalan kebahagiaan dan keselamatan. Allamah Thabathabai mendefinisikan esensi ilmu dalam sastra bahasa Al-Quran demikian, “Pada prinsipnya, ilmu dalam bahasa Al-Quran adalah keyakinan pada Allah Swt. dan ayat-ayat-Nya”.

Pada tempat lain, ia beliau menulis, “Al-Quran menyerukan ilmu-ilmu ini dengan syarat menjadi penuntun kepada kebenaran dan hakikat, mengandung pandangan dunia hakiki yang menempatkan ketuhanan berada di atasnya. Jika tidak demikian, maka ilmu yang digagas untuk menggairahkan manusia dan mencegahnya dari kebenaran dan hakikat, dalam kamus Al-Quran, adalah sinonim dengan kebodohan. Demikian pula Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum Al-Din dan Al-Kasyani dalam Mahajjat Al-Baydha’ mengenalkan ilmu dengan definisi demikian, “Ilmu juga digunakan pada Allah Swt., ayat-ayat-Nya, dan perbuatan-Nya terhadap hamba-Nya dan makhluk-Nya.”

Para peneliti berusaha keras mendeskripsikan teori ilmu dalam Al-Quran, akan tetapi perlu dicatat bahwa dalam Al-Quran, kata ilmu tidak dipergunakan dalam bentuk jamak, karena ilmu tidak lebih dari satu, yaitu pengenalan akan Allah Swt., efek-Nya dan tanda-tanda-Nya yang tak terhingga dan tampak bertebaran di alam eksternal dan alam internal manusia, dan alat pengantarnya adalah mengenal ayat yang mengelola segenap fasilitas pengetahuan manusia dalam rangka memenuhi dan mencapai tujuan penciptaan dan mengawal maju manusia secara teoretis dan praktis. “Al-Quran mengenalkan ilmu dan yakin sebagai tujuan penciptaan, sedangkan ibadah sendiri diungkapkan sebagai tujuan menengah, karena dalam surah Al-Dzariat, Allah Swt. berfirman, “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah”, dan dalam surah Al-Hijr berfirman, “Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin datang kepadamu.” Karena itu, walaupun ibadah merupakan tujuan, akan tetapi tujuan terutama adalah yakin, yakni pengetahuan yang terjaga dari kesalahan dan perubahan.

Tafsir Yang Berhubungan Dengan Hakikat Ilmu

1. Tafsir ayat ke 11 surah al Mujadalah

Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Penjelasan Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya, apabila dikatakan kepadamu, berikanlah kelapangan di dalam majlis Rasulullah saw atau di dalam majlis peperangan, berikanlah olehmu kelapangan niscaya Allah akan melapangkan rahmat dan rezekiNya bagimu di tempat-tempatmu di dalam surga”. Para sahabat berlomba berdekatan dengan tempat duduk Rasulullah SAW Telah dikeluarkan oleh Ibnu Abu Hatim dari muqatil, dia berkata: Adalah Rasulullah saw pada hari jumat ada shuffah, sedang tempat itu pun sempit.

Beliau menghormati orang-orang yang ikut perang Badar, baik mereka itu Muhajirin maupun Anshar. Maka datanglah beberapa orang diantara mereka itu, diantaranya Tsabit Ibnu Qais. Mereka telah didahului orang dalam hal tempat duduk. Lalu mereka pun berdiri dihadapan Rasulullah saw kemudian mereka mengucapkan “ Assalamu alaikum wahai Nabi wa rahmatullahi wa barakatuh ” Beliau menjawab salam mereka. Kemudian mereka menyalami orang-orang dan orang-orang pun menjawab salam mereka.

Mereka berdiri menunggu untuk diberi kelapangan bagi mereka, tetapi mereka tidak diberi kelapangan. Hal itu terasa berat oleh Rasulullah saw. Lalu Beliau mengatakan kepada orang-orang yang ada di sekitar beliau, “ berdirilah engkau wahai Fulan, berdirilah engkau wahai Fulan. Beliau menyuruh beberapa orang untuk berdiri sesuai dengan jumlah mereka yang datang. Hal itu pun tampak berat oleh mereka, dan ketidakenakan Beliau tampak oleh mereka. Orang-orang munafik mengecam yang demikian itu dan mengatakan, “ Demi Allah, dia tidaklah adil kepada mereka. Orang-orang itu telah mengambil tempat duduk mereka dan ingin berdekatan dengannya. Tetapi dia menyuruh mereka berdiri dan menyuruh duduk orang-orang yang datang terlambat.” Maka turunlah ayat itu. Berkata Al-Hasan, adalah para sahabat berdesak-desak dalam majlis peperangan apabila mereka berbaris untuk berbaris untuk berperang, sehingga sebagian mereka tidak memberikan kelapangan kepada sebagian yang lain karena keinginannya untuk mati syahid. Dan dari ayat ini kita mengetahui:

• Para sahabat berlomba-lomba untuk berdekatan dengan tempat duduk Rasulullah saw untuk mendengarkan pembicaraan beliau, karena pembicaraan beliau mengandung banyak kebaikan dan keutamaan yang besar. Oleh karena itu maka beliau mengatakan, “ hendaklah duduk berdekatan denganku orang-orang yang dewasa dan berakal diantara kamu.”

• Perintah untuk memberi kelonggaran dalam majlis dan tidak merapatkannya apabila hal itu mungkin, sebab yang demikian ini akan menimbulkan rasa cinta di dalam hati dan kebersamaan dalam mendengar hukum-hukum agama.

• Orang yang melapangkan kepada hamba-hamba allah pintu-pintu kebaikan dan kesenangan, akan dilapangkan baginya kebaikan-kebaikan di dunia dan di akhirat.

Ringkasnya, ayat ini mencakup pemberian kelapangan dalam menyampaikan segala macam kepada kaum muslimin dan dalam menyenangkannya. Apabila kamu diminta untuk berdiri dari majlis Rasulullah saw maka berdirilah kamu, sebab Rasulullah saw itu terkadang ingin sendirian guna merencanakan urusan-urusan agama atau menunaikan beberapa tugas khusus yang tidak dapat ditunaikan atau disempurnakan penunaiannya kecuali dalam keadaan sendiri. Apabila kamu diminta untuk berdiri dari majlis Rasulullah saw maka berdirilah kamu, mereka telah menjadikan hukum ini umum sehingga mereka mengatakan apabila pemilik majlis mengatakan kepada siapa yang ada di majlisnya, “ berdirilah kamu ” maka sebaiknya kata-kata itu diikuti.

Allah meninggikan orang-orang mukmin dengan mengikuti perintah-perintahNya dan perintah Rasul, khususnya orang yang berilmu diantara mereka derajat-derajat yang banyak dalam hal pahala dan tingkat-tingkat keridhaan. Ringkasnya, sesungguhnya wahai orang mukmin apabila salah seorang diantara kamu memberikan kelapangan bagi saudaranya ketika saudaranya itu datang atau jika ia disuruh keluar lalu ia keluar, maka hendaklah ia tidak menyangka sama sekali bahwa hal itu mengurangi haknya.

Bahwa yang demikian merupakan peningkatan dan penambahan bagi kedekatannya di sisi Tuhannya. Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan yang demikian itu tetapi Dia akan membalasnya di dunia dan di akhirat. Sebab barang siapa yang tawadu’ kepada perintah Allah maka Allah akan mengangkat derajat dan menyiarkan namanya. Allah mengetahui segala perbuatanmu. Tidak ada yang samar bagi-Nya, siapa yang taat dan siapa yang durhaka diantara kamu. Dia akan membalas kamu semua dengan amal perbuatanmu. Orang yang berbuat baik dibalas dengan kebaikan dan orang yang berbuat buruk akan dibalas-Nya dengan apa yang pantas baginya atau diampuninya

2. Tafsir ayat ke 114 surat Thaha

Artinya : “Maka Maha Tinggi Allah raja yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu[946], dan Katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Q.S Thaha:114)

Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril a.s. kalimat demi kalimat, sebelum Jibril a.s. selesai membacakannya, agar dapat Nabi Muhammad s.a.w. menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan itu. Maha suci Allah – yang kuasa untuk memerintah dan melarang. Yang berhak untuk diharapkan janji-Nya dan ditakuti ancaman-Nya, yaitu yang tetap dan tidak berubah – dari penurunan Alquran kepada mereka tidak mengenai tujuan yang untuk itu ia diturunkan, yaitu mereka meninggalkan perbuatan maksiat dan melakukan segala ketaatan.

Tidak diragukan lagi, ayat ini mengandung perintah untuk mengkaji Alquran dan penjelasan bahwa segala anjuran dan laranganNya adalah siasat Ilahiyah yang mengandung kemaslahatan dunia dan akhirat, hanya orang yang dibiarkan oleh Allah lah yang akan menyimpang daripadaNya; dan bahwa janji serta ancaman yang dikandungnya benar seluruhnya, tidak dicampuri dengan kebatilan; bahwa orang yang haq adalah orang yang mengikutinya dan orang yang batil adalah orang yang berpaling dari memikirkan larangan-laranganNya. Janganlah kamu tergesa-gesa membacanya di dalam hatimu sebelum jibril selesai menyampaikannya kepadamu. Diriwayatkan apabila jibril menyampaikan Alquran Nabi saw mengikutinya dengan mengucapkan setiap huruf dan kalimat, karena beliau khawatir tidak dapat menghafalnya.

Maka beliau dilarang berbuat demikian karena barangkali mengucapkan kalimat akan membuatnya lengah untuk mendengarkan kalimat berikutnya. Mengenai hal ini Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:

Artinya: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.

Maksudnya: Nabi Muhammad s.a.w. dilarang oleh Allah menirukan bacaan Jibril a.s. kalimat demi kalimat, sebelum Jibril a.s. selesai membacakannya, agar dapat Nabi Muhammad s.a.w. menghafal dan memahami betul-betul ayat yang diturunkan itu. ringkasan: dengarkanlah baik-baik dan diamlah ketikka wahyu turun dengan membawa alquran kepadamu; hingga apabila malaikat selesai membacakannya, maka bacalah sesudahnya. Mohonlah tambahan ilmu kepada Allah tanpa kamu tergesa-gesa membaca wahyu karena apa yang diwahyukan kepadamu itu akan kekal.


May 25, 2019

Niat Puasa Syawal, Tata Cara dan Keutamaannya

Puasa syawal adalah salah satu diantara puasa sunnah yang sangat dianjurkan bagi kaum muslimin. Hukum puasa sunnah syawal sendiri adalah sunnah muakkad atau sunnah yang sangat dianjurkan. Mengenai hukum puasa syawal sendiri yaitu sesuai dengan hadist Nabi Muhammda SAW berikut ini.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya :
"Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemusian mengikutinya enam hari dibulan syawal. maka ia seperti puasa setahum." (HR Muslim)

Sungguh sangat beruntung bagi orang yang mau menjalankan puasa sunnah dibulan syawal ini, karena cukup dengan berpuasa enam hari dibulan syawal pahalanya seperti puasa satu tahun.

Waktu Puasa Syawal

Puasa syawal sendiri dilakukan enam hari dibulan syawal, yaitu mulai tanggal 2 syawal atau setelah sehari hari raya idul fitri. Adapun ketika hari raya sendiri diharmakan untuk berpuasa. Sedangakn untuk tata cara pelaksanaanya menurut Imam Syafi;i dan Hanafi, puasa syawal lebih diutamakan biloa dikerjakan secara berurutan yaitu sejak tanggal 2 syawal sampai dengan tanggal 7 syawal.

Niat Puasa Syawal

Semua telah diketahui dan telah disepakati oleh para ulama bahwasanya niat sendiri letaknya adalah ada didalam hati. Niat tidak harus dengan dilafadzkan, karena melafalkan niat bukanlah termasuk kedalam syarat. Akan tetapi akan lebih baikanya lagi jika keduanya sama-sama dilakukan. Karena dengan melafalakan niat bisa membantu hati dalam menghadirkan niat. 

Nah bagi kalian yang melafalkan niat atau sedang mencari mengenai lafal niat puasa sunnah syawal adalah sebagai berikut :

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ سِتَةٍ مِنْ شَوَالٍ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
 Nawaitu shauma ghodin 'ansittatain syawali sunnatal lillahi ta'ala

Artinya ;
"Saya berniat puasa sunnah enam hari bulan syawal karena Allah ta'ala"

Tata Cara Puasa Syawal 

Untuk tata cara puasa sunnah syawal sendiri adalah sebagi berikut :

1. Puasa sunnah syawal dilakukan selama enam hari setelah hari raya idul fitri

2. Lebih utamanya jika dilakukan sehari setelah hari raya idul fitri, namun juga tidak apa-apa jika pelaksanaanya diakhirkan selama masih bulan syawal.

3. Puasa syawal sebaiknya jika dikerjakan secara berurutan yakni sejak tanggal 2 syawal sampai dengan tanggal 7 syawal.

4. Diysahan untuk mengerjakan puasa Qadha terlebih dahulu agar mendapat pahal puasa sunnah syawal yaitu pahalanya sama dengan puasa selama atau tahun penuh.

5. Puasa syawal boleh dikerjakan pada hari jumat atau sabtu.

Keutamaan Puasa Sunnah Syawal

Untuk keutamaanya sebagai mana sudah dijelaskan diatas bahwa pahala bagi orang yang puasa syawal adala seperti puasa satu tahun. Hal ini sebagai mana dalam hadist Nabi berikut ini :

نْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ :مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
Artinya :
"Dari Tsyauban, bekas budak Rasulullah SAW, dari Rasulullah SAW bersabda : "Barnag siapa puasa enam hari dibulan syawal setelah hari raya idul fitri, maka ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Karena siapa saja yang melakukan kebaikan, maka akan dibalas sepuluh kebaikan semisal." (HR Ibnu Majah Al Hafidz, Abu tahir mengatakan bahwa hadist ini adalah shahih)

Rasulullah SAW juga bersabda dalam bebrapa hadist shahih berikut ini.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya :
"Barang siapa berpuasa dibulan Ramadhan, kemudian mengikutinya enam hari dibulan syawal, maka ia seperti puasa setahun." (HR Muslim)

Demikianlah megenai pembahsan puasa sunnah pada bulan syawal yaitu mulai dari niat, tata car adan keutamaan yang kan diperoleh bagi yang mau mengerjakan pauasa sunnah ini. Semoga bermnafaat


 

November 15, 2017

Cara Mendapatkan Rezeki Yang Barokah

Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tidak ingin mendapatkan rezeki, baik itu rezeki berupa harta, rezeki sehat, rezeki nikmat hidup dan masih banyak rezeki-rezeki yang lain yang terkadang banyak orang yang tidak sadar bahwa itu adalah sebuah rezeki, dan semua itu bisa di dapatkan oelh orang dengan berbagai ikhtiyar yang nereka lakukan, dan pada kesempatan kali ini saya akan sedikit membahas tentang bagaimana cara mendapat rezeki yang barokah.

Kebanyakan orang salah mengartikan apa sebenarnya makna sebuah rezeki sesungguhnya, orang banyak mencari rezeki dari berbagai macam cara, bahkan ada diantara kita yang mencari rezeki dari jalan yang kurang benar/haram. Terkadang orang hanya memandang sebuah rezeki dari satu sudut pandang saja, sebenarnya memandang rezeki itu tidak hanya pada sudut pandang satu saja. 

Kebanyakan orang bahkan kita memandang   rejeki  dengan materi saja.  Rezeki juga bukan hanya soal materi saja , misal kita masih bisa menikmati hidup sehari-hari  tanpa mengalami  itu juga rezeki. Banyak di lingkungan sekitar kita orang yang mempunyai banyak materi tapi mereka tidak bisa menikmatinya dikarenakan sakit. Salah satu jalan di tambahkanya rezeki yaitu dengan cara kita banyak-banyak bersyukur terhadap rezeki yang kita miliki sekarang ini, dan barang siapa yang banyak bersyukur terhadap rezeki yang dimilikinya Allah SWT akan menambahkan rezekinya pada waktu lusa.
Dan pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri, berkah nggak ya rezeki yang kita miliki selama ini? Rezeki yang sering kita terima, bahakan mensyukuri rezeki aja kadang kita lupa. Padahal keberkahan dari sebuah rezeki adalah segalanya, percuma saja kita mempunyai banyak rezeki tapi tidak berkah, lebih baik mempunyai rezeki sedikit tapi berkah, syukur-syukur punya banyak rezeki tapi berkah itulah yang tentunya kita cari. Karena rezeki yang bakal masuk ke dalam tubuh kita dan menyatu dengan sel-sel tubuh kita. Sehingga rezeki tersebut akan mempengaruhi segala sesuatu yang ada pada tubuh kita nanti. 

Maka carilah rezeki yang di dalamnya ada keberkahanya, karena rezeki tersebut akan membawa hidup kita tentram tanpa ada masalah. Karena nantinya juga rezeki akan membawa hidup kita kepada sang maha pencipta. Dan pada akhirnya nanti kita akan mengetahui bahawa keberkahan adalah makna rezeki luas yang sebenarnya, namun rezeki yang luas adalah rezeki yang terdapat keberkahan di dalamnya.
Ulama juga ada yang berpendapat bahwa besar kecilnya rezeki itu tergantung tawakal kita kepada Allah SWT, artinya bahwa setiap rezeki itu datangnya pasti dari Allah SWT.  Jadi meskipun rezeki itu diberikan oleh Allah tetapi kita sebagai hambanya wajib mencarinya, tetapi usaha juga yang menentukan halal atau haramnya dari sebuah rezeki yang kita miliki, setiap muslim juga wajib mencari rezeki dengan usaha yang bisa mengantarkan  pada hasil yang halal, meskipun hakikat rezeki halal atau haram itu dari Allah SWT, tetapi yang menentukan status halal atau haramnya dari sebuah rezeki adalah manusia itu sendiri.
Manusia besok  juga akan diminta pertanggung jawabanya di yaumil qiyamah, dari mana rezeki itu dicari, apakah bertentangan dengan jalan yang telah di tetapkan Allah SWT atau tidak? Demikian pula bagaimana pemanfaatan rizki yang diberikan kepada manusia, apakah dengan sesuatu yang disyariatkan oleh Allah SWT atau tidak? Sebab semua aktivitas manusia di dunia akan di mintai pertanggung jawabanya oleh Allah SWT.
Demikian penjelasan apa hakikat makna dari sebuah rezeki yang allah titipkan kepada manusia di dunia, semoga ada kemanfaatan bagi umat islam khususnya pembaca. Inilah sebenarnya yang perlu kita ketahui sebelum kita mencari sebuah rezeki. 
Wallahua’alm Bisowab.