Showing posts with label doa memperlancar rezeki. Show all posts
Showing posts with label doa memperlancar rezeki. Show all posts

July 14, 2019

Inilah Bacaan Doa Setelah Membaca Surat Yasin

Surat Yasin adalah salah satu surat yang memiliki keutamaan yang sangat luar biasa. Surat ini biasanya dibaca ketika ada acara tahlilan atau acara-acara agama yang lainnya. Bisa juga diamalkan setiap hari atau minimal satu minggu satu kali setiap malam jum'at. Rasulullah Salallahu 'alaihi wasallam bersabda :

"Siapa saja yang membaca surat yasin di waktu pagi (setelah subuh) maka akan didatangkan hajatnya."

Dan di hadist lain mengatakan : "Baca;ah surat Yasin !, karena didalamnya karena didalamny ada 20 barokah diantaranya adalah : Orang yang lapar membaca surat Yasin insya Allah akan kenyang."
Rasulullah Salallahu 'alaihi wasallam juga bersabda dalam hadist lain :

"Barang siapa yang membaca surat Yasin diwaktu malam dan siang, maka dari itu akan selamat berbuat dosa."
Sungguh beruntung sekali orang yang mau mengamalkan surat Yasin ini karena akan mendapatkan hikmah yang sangat luar biasa. Setelah selesai membaca maka dianjurkan untuk berdoa. Adapun doa setelah membaca surat Yasin adalah sebagia berikut :


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَللّٰهُمَّ اِنَّا نَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ دِيْنَنَا وَاَنْفُثَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَأَمْوَالَنَا وَكُلَّ شَيْءٍ  أَعْطَيْتَنَا

Bismillahirrahmanirrahim

Allahhuma inna nastahfidzuka wa nastaudi'uka wa anfusanaa wa ahlanaa wa auladanaa wa amwalanaa wa kulla sya'in a'thaitanaa

"Ya Allah, kami mohon penjagaan-Mu dan menitipkan agama-Mu kepada kami, dari kami, keluarga kami, anak-anak kami, harta benda kami, dan apa yang telah engkau berikan kepada kami."

الَلّٰهُمَّ جْعَلْنَا فِي كَنَفِكَ وَاَمَانِكَ وَجِوَارِكَ وَعِيَاذِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ وَجَبَّارِ عَنِيْدٍ وَذِيْ عَيْنٍ وَذِيْ بَغْيٍ وَمِنْ شَرِّكُلِّ ذِيْ شَرِّ اِنَّكَ عَلَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Allahummaj'alna fii kanafika wa amaanika wa jiwarika wa 'iyaadzika min kulli syaithaanim mariid wa jabbarin' annid wa dzii'ainin wa dzi baghyin wa min syarri kulli dzii syarrin innaka 'alaa kulli syai'in qadiir

"Ya Allah, semoga engkau menjadikan kami dalam penjagaan, tanggungan, kedejatan dan perlindungan-Mu dari godaan syetan yang menggoda, orang yang kejam, zalim dan durhaka, dan dari kejahatan penjahat, sesungguhnya engkau maha segala atas sesuatu."

الَلّٰهُمَّ جَمِّلْنَا بِالْعَافِيَةِ وَالسَّلَامَةِ وَحَقِّقْنَا بِتَّقْوَى وَالْاِسْتِقَامَةِ وَأَعِذْنَا مِنْ مُوْجِبَاتِ النَّدَمَةِ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاءِ

Allahumma jamilnaa bil'afiyati wassalamati wahaqiqnaa bittaqwa wal istiqaamati wa a'idznaa min mujibaati nadanati innaka samii'ud du'aa'i
"Ya Allah, Baguskanlah kami dengan kesehatan dan keselamatan, dan sejatikanlah kami dengan taqwa dan istiqamah, jagalah kami dari penyesalah, karena sesungguhnya Engkau maha pendengar doa."
الَلّٰهُمَّ اغْفِرْلَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِأَوْلَادِنَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِاِخْوَانِنَا فِي الدِّيْنِ وَلِأَصْحَابِنَا وَاَحْبَابِنَا وَلِمَنْ أَحَبَّنَا فِيْكَ وَلِمَنْ أَحْسَنَ اِلَيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ يَارَبَّ الْعَا لَمِيْنَ
Allahumaghfirlanaa wa liwalidiinaa wa liauladiinaa wa limasayikhinaa wa liikhwaninaa fiddini wa liashabinaa wa ahbaabinaa waliman ahabbanaa fiika waliman ahsana ilainaa walilmu'miniina walmu'minaati walmuslimiina walmuslimaati yaa rabbal'aalmaiin
"Ya Allah ampunilah kami, kedua orang tua kami, anak-anak kami, guru-guru kami, saudara-saudara kami seagama, sahabat-sahabat kami, kekasih-kekasih kami, orang yang mengasihi kami karena Engkau, dan kepada siapa saja yang berbuat baik kepada kami, orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan dan orang-orang yang beragama Islam laki-laki dan perempuan, wahai Tuhan semesta alam."

وَارْزُقْنَا كَمَالَ الْمُتَابَعَةِ لَهُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا فِي عَافِيَةٍ وَسَلَامَةٍ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Warzuqnaa kamalal mutaaba'ati lahu zahiran wa baatinan fii aafiyatin wa salamatin birahmatika yaa arhama rahimiin

"Dan limpahkan kepada kami kesempurnaan mengikutiny lahir dan batin, dadlam keadaan sehat dan selamat dengan rahmat-Mu wahai sebaik-baik penyayang dari para penyayang."
وَصَلِّ اللّٰهُمَ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Wasallallahuma alaa abdika wa rasulika sayyidinaa muhammadin wa alaa alihi wasahbihi wasallam

"Ya Allah limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada hamba dan utusan-Mu, yaitu junjungan kami Nabi Muhammad  Salallahu 'alaihi wasallam."

Itulah bacaab doa setelah membaca surat Yasin dan semoga kita selalu tergolong orang yang selalu istiqamah untuk mengamalkan surat Yasin setiap hari atau minimal setiap malam jum'at. Dan panjatkan doa tersebut setelah membacanya. 

July 9, 2019

Surat Al Insyirah Latin dan Artinya

Surat Al-Insyirah adalah surat yang tergolong surat-surat Makiyah, karena surat ini turun di kota Makkah. Surat ini adalah surat ke 94 dalam Al-Quran dan terdiri dari 8 ayat yang diturunkan setelah surat Ad-Duha. Al-insyirah sendiri artinya "kelapangan" (melapangkan dada).

Inti dari surat Al-insyirah ini adalah bahwasanya salah satu nikmat-Nya yang telah dikaruniakan-Nya n kepada Nabi Muhammad sallahu 'alaihi wasallam maka ALlah akan melapangkan hatinya serta mengisi dengan hidayah (petunjuk). Bagaimana pun juga, surat ini ditunjukan kepada Nabi dan diperluas kepada semua orang yang mengikuti jejak dan langkah Nabi.

Berikut ini mengenai surat Al-insyirah beserta artinya :

Al-Qur'an Surat Al-insyirah 1-8

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ

الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ

وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ

Teks Latin
1. Alam nasyrah laka shadrak

2. Wawadha'naa 'anka wizraj

3. Alladzi anqadha zhahrak

4. Warafa'na laka dzikrak

5. Fa-inna ma'al 'usri yusraa

6. Inna ma'al usri yusraa

7. Fa-idza faraghta fanshab 

8. Wa-ilaa rabbika farghab

Artinya :

1. Bukanlah kami telah melapangkan untukmu dadamu?
2. Dan kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu.
3. Yang memberatkan punggungmu?
4. Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu.
5. Karena sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.
6. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.
7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
8. Dan hanya kepada Tuhanmu hendaknya kamu berharap.

Demikian mengenai surat al insyirah beserta artinya, dan smeoga kita tergolong orang yang istiqamah dalam membaca Al-quran.




May 25, 2019

Niat Puasa Syawal, Tata Cara dan Keutamaannya

Puasa syawal adalah salah satu diantara puasa sunnah yang sangat dianjurkan bagi kaum muslimin. Hukum puasa sunnah syawal sendiri adalah sunnah muakkad atau sunnah yang sangat dianjurkan. Mengenai hukum puasa syawal sendiri yaitu sesuai dengan hadist Nabi Muhammda SAW berikut ini.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya :
"Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemusian mengikutinya enam hari dibulan syawal. maka ia seperti puasa setahum." (HR Muslim)

Sungguh sangat beruntung bagi orang yang mau menjalankan puasa sunnah dibulan syawal ini, karena cukup dengan berpuasa enam hari dibulan syawal pahalanya seperti puasa satu tahun.

Waktu Puasa Syawal

Puasa syawal sendiri dilakukan enam hari dibulan syawal, yaitu mulai tanggal 2 syawal atau setelah sehari hari raya idul fitri. Adapun ketika hari raya sendiri diharmakan untuk berpuasa. Sedangakn untuk tata cara pelaksanaanya menurut Imam Syafi;i dan Hanafi, puasa syawal lebih diutamakan biloa dikerjakan secara berurutan yaitu sejak tanggal 2 syawal sampai dengan tanggal 7 syawal.

Niat Puasa Syawal

Semua telah diketahui dan telah disepakati oleh para ulama bahwasanya niat sendiri letaknya adalah ada didalam hati. Niat tidak harus dengan dilafadzkan, karena melafalkan niat bukanlah termasuk kedalam syarat. Akan tetapi akan lebih baikanya lagi jika keduanya sama-sama dilakukan. Karena dengan melafalakan niat bisa membantu hati dalam menghadirkan niat. 

Nah bagi kalian yang melafalkan niat atau sedang mencari mengenai lafal niat puasa sunnah syawal adalah sebagai berikut :

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ سِتَةٍ مِنْ شَوَالٍ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
 Nawaitu shauma ghodin 'ansittatain syawali sunnatal lillahi ta'ala

Artinya ;
"Saya berniat puasa sunnah enam hari bulan syawal karena Allah ta'ala"

Tata Cara Puasa Syawal 

Untuk tata cara puasa sunnah syawal sendiri adalah sebagi berikut :

1. Puasa sunnah syawal dilakukan selama enam hari setelah hari raya idul fitri

2. Lebih utamanya jika dilakukan sehari setelah hari raya idul fitri, namun juga tidak apa-apa jika pelaksanaanya diakhirkan selama masih bulan syawal.

3. Puasa syawal sebaiknya jika dikerjakan secara berurutan yakni sejak tanggal 2 syawal sampai dengan tanggal 7 syawal.

4. Diysahan untuk mengerjakan puasa Qadha terlebih dahulu agar mendapat pahal puasa sunnah syawal yaitu pahalanya sama dengan puasa selama atau tahun penuh.

5. Puasa syawal boleh dikerjakan pada hari jumat atau sabtu.

Keutamaan Puasa Sunnah Syawal

Untuk keutamaanya sebagai mana sudah dijelaskan diatas bahwa pahala bagi orang yang puasa syawal adala seperti puasa satu tahun. Hal ini sebagai mana dalam hadist Nabi berikut ini :

نْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ :مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
Artinya :
"Dari Tsyauban, bekas budak Rasulullah SAW, dari Rasulullah SAW bersabda : "Barnag siapa puasa enam hari dibulan syawal setelah hari raya idul fitri, maka ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Karena siapa saja yang melakukan kebaikan, maka akan dibalas sepuluh kebaikan semisal." (HR Ibnu Majah Al Hafidz, Abu tahir mengatakan bahwa hadist ini adalah shahih)

Rasulullah SAW juga bersabda dalam bebrapa hadist shahih berikut ini.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya :
"Barang siapa berpuasa dibulan Ramadhan, kemudian mengikutinya enam hari dibulan syawal, maka ia seperti puasa setahun." (HR Muslim)

Demikianlah megenai pembahsan puasa sunnah pada bulan syawal yaitu mulai dari niat, tata car adan keutamaan yang kan diperoleh bagi yang mau mengerjakan pauasa sunnah ini. Semoga bermnafaat


 

May 20, 2019

Pengertian Amar, Nahi, Takhyir, ‘Am dan Khas

Menurut mayoritas ulama Ushul Fiqih, amar adalah
اللفظ الدال الى طلب الفعل على جهة الإ ستعلاء
Suatu tuntutan (perintah) untuk melakukan sesuatu dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah tingkatannya.
Perintah untuk melakukan suatu perbuatan, seperti dikemukakan oleh Khudari Bik dalam bukunya Tarikh al-Tasyri, disampaikan dalam berbagai gaya atau redaksi antra lain:
1.    Perintah tugas dengan menggunakan kata amara ( (أمرdan yang seakar dengannya. Misalnya dalam ayat:
إِنَّ اللهَ يَأْ مُرُ بِالْعَدَلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebijakan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Qs.an-Nahl/16:90)

2.    Perintah dalam bentuk pemberitaan bahwa perbuatan itu diwajibkan atas seeorang dengan memakai kata Kutiba (كتب/diwajibkan). Misalnya, dalam surat al-Baqarah ayat 178.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh, orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pe-maafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) membayar (diyat) kepda yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.

3.    Perintah dengan memakai redaksi pemberitaan (jumlah khabariyah), namun yang dimaksud adalah perintah. Misalnya, surat al-Baqarah ayat 228.

Wanita- wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru.Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan dari pada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
4.    Perintah dengan memakai kata kerja perintah secara langsung. Misalnya, surat al-Baqarah ayat 238.

“Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”
5.    Perintah dengan menggunakan kata kerja mudhari’(فعل المضارع/ kata kerja untuk sekarang dan yang akan datang) yang disertai oleh lam al-amr  (huruf yang berarti perintah). Misalnya, surat al-Hajj ayat 29.

“Kemudian, (sesudah menyembelih) hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar mereka dan melakukan tawaf sekeliling baitullah.”
6.    Perintah dengan menggunakan kata faradha (فرض/ mewajibkan). Misalnya, surat al-Ahzab ayat 50
قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَنُهُمْ لِيْكَيْلَا يَكُوْنَ عَلَيْكَ حَرَجٌ
“Sesungguhnya kami telah mengetahui apa yang kami wajibkan kepada mereka tentang istri-istri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu.”
7.    Perintah dalam bentuk penilaian bahwa perbuatan itu adalah baik. Misalnya, surat al-Baqarah ayat 220.

“Dan mereka bertanya kepadamutentang anak yatim, katakanlah: “mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allh mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah mengendaki, niscaya dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Bijaksana.”
8.    Perintah dalam bentuk menjanjikan kebaikan yang banyak atas pelakunya. Misalnya, surat al-Baqarah ayat 245.

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allh menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”

b.    Hukum-hukum yang mungkin ditunjukkan oleh bentuk amar

Suatu bentuk perintah, seperti dikemukakan oleh Muhammad Adib Saleh, Guru Besar Ushul Fiqih Universitas Damaskus, bisa digunakan untuk berbagai pengertian, yaitu antara lain:
1.    Menunjukan hukum wajib seperti perintah untuk Shalat.
2.    Untuk menjelaskan bahwa sesuatu itu boleh dilakukan, seperti surat al-Mukminun ayat 51.

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengerti apa yang kamu kerjakan.”
3.    Sebagai anjuran, seperti surat al-Baqarah ayat 282.
يَاأَيُّهّاالَّذِيْنَءَامَنُوا إِذَا تدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمَّى فَاكْتُبُوهُ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaknya kamu menuliskannya.”
4.    Untuk melemahkan, misalnya, surat al-Baqarah ayat 23.

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan Al-Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolong mu selain Allah , jika kamu orang-orang yang benar.”
5.    Sebagai ejekan dan penghinaan, misalnya, firman Allah berkenaan dengan orang yang ditimpa siksa di akhirat nanti sebagai ejekan atas diri mereka dalam surat ad-Dukhan ayat 49.

“Rasakanlah, sesungguhnya kamu orang yang perkasa lagi mulia.”

c.    Kaidah-kaidah yang berhubungan dengan Amar

1.    الأصل فى الأمر للو جو, meskipun suatu perintah bisa menunjukan berbagi pengertian, namun pada dasarnya suatu perintah menunjukan hukum wajib dilaksanakan kecuali ada indikasi atau dalil yang memalingkannya dari hukum tersebut.
2.    دلالة الأمر على التكر ارأوالوحدة adalah suatu perintah haruskah dilakukan berulang kali atau cukup dilakukan sekali saja, menurut jumhur ulama Ushul Fiqih, pada dasarnya suau perintah tidak menunjukan harus berulang kali dilakukan kecuali ada dalil untuk itu.
3.    دلالة الأمر على الفور أو التر اخى adalah suatu perintah haruskah dilakukan segera mungkin atau bisa ditunda-tunda? Pada dasarnya suatu perintah tidak menghendaki untuk segera dilakukan selama tidak ada dalil lain yang menunjukan untuk itu, karena yang dimaksud oleh suatu perintah hanyalah terwujudnya perbuatan yang diperintahkan.

2.    Nahyu (Nahi)

a.    Pengertian Nahi
Menurut bahasa nahi berarti larangan. Sedangkan menurut istilah ialah larangan melakukan sesuatu perbuatan dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah tingkatannya.
Muhammad Al Khudlori memberi arti Nahi adalah:
النهي هو  طلب  الكف  عن فعل علي وجه الاستلاء
Nahyu adalah perintah meninggalkan suatu perbuatan dari atas kepada bawahannya.
Maka yang dimaksud dengan Nahyu dalam pembahasan ini adalah dalil Nash yang bersumber dari firman Allah SWT baik berupa dalil-dalil Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang berisi larangan untuk mengerjakan suatu perkara.
b.    Kedudukan hukum “An Nahyu “
Apabila ada dalil berbentuk Nahyu, ada dua pendapat Ulama tentang kedudukan hukumnya dengan kaidahnya masing-masing:

1)    Golongan jumhur ulama’ menyatakan bahwa;    الاصل في النهي لتحريم
“ Pada dasarnya setiap larangan itu hukumnya haram ”
Jadi menurut pendapat ini selama tidak ada keterangan bahwa larangan itu hanya makruh saja, maka berarti setiap larangan itu betul-betul haram.
Timbulnya pendapat ini tidak lepas dari banyaknya dalil yang mengindikasikan bahwa orang yang melanggar larangan Allah SWT diancam dengan siksa neraka, juga beberapa fenomena anatara lain kisah Nabi Adam AS yang melanggar larangan Allah SWT yaitu dengan memakan buah yang dilarang oleh Allah SWT,  kemudian  diusir oleh Allah SWT dari surga.
Dengan demikian, manakala tidak ada qarinah lain,setiap menemui dalil larangan maka hukum dasarnya adalah haram. Misalnya, berbuat zina, karena tidak ada keterangan dari manapun yang menerangkan bahwa zina itu halal maka perbuatan zina itu tetap diharamkan. Hal berbeda dengan ketentuan larangan makan atau minum sambil berdiri. Walaupun ada larangan makan atau minum sambil berdiri namun ternyata ada keterangan lain bahwa minum sambil berdiri itu pernah tidak dilarang.

Berdasarkan kaidah ini karena larangan itu pada dasarnya berhukum haram, maka hukum dasar dari makan dan minum sambil berdiri adalah haram. Tetapi ada hadits yang menerangkan bahwa ada sahabat makan dan minum sambil berdiri dibiarkan oleh Nabi SAW, maka dengan qarinah taqrir Nabi SAW ini hukum dasar itu menjadi gugur, sehingga makan dan minum sambil berdiri bukannya haram tetapi status hukumnya adalah makruh. 

2)    Golongan Mu’tazilah, menyatakan bahwa الاصل في النهي للكراهة:

“Pada dasarnya setiap larangan itu hanya menunjukkan makruh saja”.
Alasannya adalah bahwa manusia lahir kedunia ini adalah membawa hak kebebasan, sehingga pada dasarnya tidak ada larangan yang bersifat penekanan. Pendapat mereka ini kalau dituntut ada persesuaian dengan kaidah fiqhiyah yang menyatakan bahwa pada dasarnya sesuatu itu asalnya boleh atau mubah, kecuali ada keterangan yang mengharamkan.
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa golongan Mu’tazilah dan Ahlu Ra’yu senantiasa lebih cenderung pada logikanya dan kebebasan hak asasi manusia sebagai dasar fitri manusia sangat dipegangi oleh mereka. Oleh karena itu, pengukuran kaidah nahyiyah ini pun tidak luput dari ukuran ajaran mereka ini.

3)    Setiap ada nahyu, sekalipun larangan itu hanya dinyatakan sekali saja namun berlakunya adalah selamanya. Kaidahnya:
الاصل في النهي يقتضي التكرار في جميع الامزنة   
“ Pada dasarnya setiap larangan itu menghendaki dijauhi berulang-ulang ( tidak dikerjakan selama-lamanya )”.
Misalnya terdapat dalil:لا تقربوا الزني “jangan kau dekati perbuatan zina”, sekalipun larangan zina itu diucapkan ataupun didengar sekali saja maka harus dijauhi selama-lamanya.
Kemudian berbeda dengan dalil tentang ini:
 لا تقربوا الصلاة وانتم سكارا “jangan kamu mengerjakanshalat sedang kamu dalam keadaan mabuk”, ini berarti bahwa kalau hanya berdasar dalil ini, tidak boleh shalat waktu mabuk saja, karena ada qarinah dalam keadaanmabuk, jadi setelah tidak mabuk lagi maka larangan shalat itu sudah tidak berlaku lagi.

4)    Bentuk lafadz Nahyu

Bentuk lafadz Nahyu antara lain :
a)    Kata yang tegas larangan yakni berbentuk fiil mudlari’ mukhatab (kamu) yang dimasuki oleh la nahiyah. Misalnya : لا تجلس misalnya lagi : لا تكتبوا
b)    Kalam khabariyah yangmengandung makna larangan, misalnya antara lain:
1.    Ada kata حرم misalnya: حرمت عليكم الميتة والدم
2.    Ada kata نهي  misalnya:نهي رسول الله عن التبطل
3.    Ada lafadz yang menafikan suatu perbuatan misalnya:
لا يشربن احد كم قاءماtidaklah minumsambil seseorang dari kamu berdiri. Walaupun dengan kalimat nafi, tetapi dikandung maksud tidak disenangi, maka berarti dilarang.

3.    Takhyir (memberi pilihan)
Menurut Abd. Al-Karim Zaidan, bahwa yang dimaksud dengan takhyir adalah:
ما خير الشارع المكاف بين فعله وتركه
“Bahwa syari (Allah dan Rasul-Nya) memberi pilihan kepada hambanya antara melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan.”
Untuk memberikan hak pilih antara melakukan atau tidak melakukan dalm Al-Quran terdapat berbagai cara, antara lain, seperti disebutkan Khudari Bik adalah:
1.    Menyatakan bahwa suatu perbuatan halal dilakukan, misalnya surat al-Baqarah ayat 187.
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ ارَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ....
“Dihalalkan bagimu pada malam hari-hari puasa bercampur dengan istri-istri kamu.”
2.    Pembolehan dengan menafikan dosa dari suatu perbuatan. Misalnya, surat al-Baqarah ayat 173.
...فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَعَادٍ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌرَحِيْمٌ
“Tetapi barang siapa yang dalam kedaan terpaksa, sedang ia tidak menginginkannya, dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya (memakan hal-hal yang diharamkan itu), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
3.    Pembolehan dengan menafikan kesalahan dari melakukan suatu perbuatan. Misalnya, surat al-Baqarah ayat 235.
وَلاَجُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيْمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِالنِّسَاءِ أَوْأَكْنَنْتُمْ فِيْ أَنْفُسِكُمْ...
“Dan tidak ada kesalahan bagimu meminang wanita-wanita itu (dalam iddah wafat) dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu.”

B.    ‘Am dan Khas

a.    ‘Am

1.    Pengertian ‘Am

Secara bahasa ‘am berarti yang umum, merata, dan menyeluruh. Adapun menurut istilah ‘am sebagaimana dikemukakan oleh Abul Hamid Hakim ialah:
اَلْعَامُ هُوَاللَّفْظُ الْمُسْتَغْرِقُ لِجَمِيْعِ مَا يَصْلُحُ لَهُ بِحَسْبِ وَضْعٍ وَاحِدٍ دَفْعَةً
Artinya: “Am adalah lafaz yang menunjukkan pengertian umum yang mencakup satuan-satuan (afrad) yang ada dalam lafaz itu tanpa pembatasan jumlah tertentu.”
Contohnya kata الإِنْسَا نُ     artinya manusia (mencakup segala jenis manusia).

2.    Lafaz-lafaz yang Menunjukkan Arti ‘Am (Umum)
Berdasarkan hasil penelitian terhadap mufradat dan ungkapan (gaya bahasa), dalam bahasa Arab ditemukan bahwa lafaz-lafaz yang arti bahasanya menunjukkan arti yang bersifat umum yang mencakup semua satuan-satuannya adalah sebagai berikut :
Lafadzكُلٌّ  dan جَمِيْعٌ
Contohnya

1 ) كُلَّ خَطَاءٍيُحْدِ ثُ ضَرَرًا بِا لْغَيْرِ يَلْزَمُ فَا عِلَهُ بِا لتَّعْوِيْضِ

Artinya: “Setiap kesalahan yang menimbulkan bahaya bagi orang lain maka si pelaku itu dituntut kewajiban membayar ganti rugi.”
2 ) خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي اْلأَرْضِ جَمِيْعًا
Artinya: “Allah telah menjadikan untuk kamu semua yang ada di bumi.”
3.    Lafaz-lafaz yang menunjukkan Arti ‘Am (Umum)
a.    Lafadz mufrad tunggal yang dimakrifatkan oleh ال تعريف الجنس
b.    Jama’ (plural) yang dimakrifatkan oleh   ال تعريف الجنس
c.    Lafadz mufrad dan jama’ yang dimakrifatkan dengan idhafah,.
d.    Isim mausulما, من، الذي، التي، الذين، اللأئ، اؤلائ
e.    Isim syaratما، من
f.    Isim-isim istifhamiyahما، من، أي، متى
g.    Isim nakirah yang dinafikan.
4.    Kaidah – kaidah yang berkaitan dengan ‘Am
a.     العموم لا يتصور في الأحكام
Artinya: “Keumuman  itu tidak menggambarkan suatu hukum.”
Kaidah ini dapat dipahami bahwa kalimat ‘am itu masih bersifat global, masih bersifat umum dan belum menunjukkan ketentuan hokum yang pasti dan jelas.
b.     المفهوم له عموم
Artinya: “Makna tersirat itu mempunyai bentuk umum.”
Maksud kaidah ini ialah bahwa makna tersirat (mafhum), dari sebuah kalimat masih menyimpan arti yang bersifat umum (belum pasti dan jelas).
c.    المخاطب يدخل في عمومخطاب 
Artinya: “Orang yang memerintah sesuatu maka ia termasuk di dalam perintah tersebut.”
Kaidah ini dapat dipahami bahwa hukum tidak hanya berlaku kepada bawahan (orang yang diperintah), tetapi juga berlaku kepada orang yang memerintahkannya.
d.    العبرة بعموم الفظ لابخصوص السبب
Artinya: “Suatu ungkapan itu berdasarkan keumuman lafaz bukan kepada swbab yang khusus.”
e.    العمل با لعا م قبل البحث عن المخصص لا يجوز
Artinya; “Mengamalkan lafaz yang bersifat umum sebelum ada pengkhususan maka hal itu tidak diperbolehkan,”

1.    Pengertian Khas
Secara bahsa khas berarti tertentu. Adapun khas dalam istilah ushul fiqh ialah lafaz yang menunjukkan arti satu yang telah tertentu.

2.    Kebolehan Mentakhsis Lafaz yang Umum

Para ulama sepakat bahwa mentakhsis (mengkhususkan) lafaz yang umum itu boleh, karena pada dasarnya semua ayat-ayat al-Qur’an mengandung kebolehan mentakhsis baik berupa takhsis muttasil maupun munfasil. Sebagian ulama merumuskan bahwa hanya ada lima ayat yang tidak memerlukan pengkhususan, yaitu:
a.    Masalah kesempurnaan dan keagungan Allah. Seperti terdapat dalam QS, ar-Rahman/55:27.
b.    Keharaman menikahi ibu, baik karena nasab atau persusuan. Seperti dalam QS. an-Nisa/ 4;22.
c.    Setiap individu pasti mengalami kematian. Seperti dalam QS. Ali Imran: 185.
d.    Allah selalu menanggung rezeki makhluk hidup. Seperti dalam QS. Hud/11:6
e.    Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan di bumi. Seperti dalam QS. Al-Baqarah/2:284.

3.    Ketentuan Takhsis yang Muttashil

Bentuk-bentuk takhsis muttashil (bersambung), dia antaranya:

a.    Syarat, contohnya bolehnya suami ruju’ dengan istrinya jika ia menghendaki kebaikan.
b.    Sifat, contohnya seruan memerdekakan budak yang mukmin bagi orang yang membunuh orang mukmin yang tidak sengaja.
c.    Ghayah, (lafaz yang menunjukkan maksud terakhir). Contohnya membasuh tangan dalam berwudhu sampai siku-siku.
d.    Badal ba’du min kull (pengganti dari sebagian). Contohnya kewajiban haji bagi orang-orang yang mampu melakukan perjalanan.
e.    Haal (yang menunjukkan keadaan). Misalnya, larangan melakukan shalat dalam keadaan mabuk.
f.    Zharaf (keterangan waktu atau tempat). Contohnya: Tentang masa menunaikan zakat fitrah. Jika dilakukan sebelum shalat Ied maka diterima, namun jika dilakukan sesudahnya maka dianggap sedekah biasa.

4.    Ketentuan Takhsis yang Munfasil (Terpisah)

a.    Al-Qur’an dapat dikhususkan dengan al-Qur’an. Contohnya batas iddah wanita yang dicerai suaminya selama tiga kali suci/haid.
b.    Al-Qur’an dikhususkan dengan sunnah. Contohnya masalah waris, anak laki-laki mendapat dua bagian dari bagian perempuan.
c.    As-Sunnah dapat dikhususkan dengan al-Qur’an. Contohnya bahwa ttidak sah shalat seseorang kecuali dengan wudhu.
d.    As-Sunnah dapat ditakhsisdengan sunah. Misalnya, hadis yang mengharuskan zakat hasil tani 10 % jika dibantu air hujan.
e.    Al-Qur’an atau hadis dikhususkan oleh qiyas. Contohnya hukum dera bagi pelaku zina dengan dera 100 kali.
f.    Al-Qur’an dikhususkan oleh akal contohnya haji wajib bagi orang yang sudah mampu melakukan perjalanannya.
g.    Hadis dikhususkan oleh mafhum (makna tersirat). Contoh hadis Nabi yang berisi tentang kewajiban mengeluarkan zakat satu kambing dari 40 kambing.
h.    Pengkhususan dengan problema yang nyata karena darurat itu diperlukan.

Kesimpulan

Amr adalah perintah untuk melakukan suatu perbuatan, seperti dikemukakan oleh Khudari Bik dalam bukunya Tarikh al-Tasyri, disampaikan dalam berbagai gaya atau redaksi. Nahyu adalah dalil Nash yang bersumber dari firman Allah SWT baik berupa dalil-dalil Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang berisi larangan untuk mengerjakan suatu perkara. Menurut Abd. Al-Karim Zaidan, bahwa yang dimaksud dengan takhyir adalah Bahwa syari (Allah dan Rasul-Nya) memberi pilihan kepada hambanya antara melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan.
Secara bahasa ‘am berarti yang umum, merata, dan menyeluruh. Adapun menurut istilah ‘am sebagaimana dikemukakan oleh Abul Hamid Hakim Am adalah lafaz yang menunjukkan pengertian umum yang mencakup satuan-satuan (afrad) yang ada dalam lafaz itu tanpa pembatasan jumlah tertentu. Secara bahasa khas berarti tertentu. Adapun khas dalam istilah ushul fiqh ialah lafaz yang menunjukkan arti satu yang telah tertentu.

August 23, 2018

Rezeki Susah? Lakukan 8 Amalan Pembuka Rezeki Ini, Insya Allah Rezeki Lancar dan Berkah

Sebenarnya rezeki setiap orang itu sudah ditetapkan oleh Allah swt, akan tetapi jika orang tersebut tidak mau berusaha untuk mencarinya maka rezeki tidak akan datang dengan sendirinya, semua harus di iringi dengan ikhtiyar dan berdoa kepada Allah swt, sebagaimana firman Allah dalam Qs Ar ra'du ayat 11 :

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Artinya : "Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, selagi kaum tersebut tidak mau merubah keadaan dirinya sendiri "

Akan tetapi, jika rezeki terasa masih sulit untuk didapatkan mungkin cara atau ikhtiyar kepada Allah  kurang begitu bersungguh-sungguh. Dan jika dalam kondisi ini maka sebaiknya kita intropeksi diri, mungkin penyebab rezeki belum lancar kita lalai untuk beribadah atau mengingat Allah.
Untuk itu amalan rezeki yang akan saya bahas dalam kesempatan kali ini sebaiknya dilakukan secara istiqomah agar rezeki yang kita dapat begitu maksimal.

Adapaun amalan rezeki terzebut adalah :

1. Bertaqwalah kepada Allah

Allah SWT berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Artinya :
"Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscata Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tak terduga-duga. Dan barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya ." (Qs At-thalaq 2-3)

Menjalankan segala perintah Allah serta menjauhi segala larangan nya, dan ketika rezeki tersebut susah maka tingkatkanlah ibadah kita kepada Allah serta diiringi dengan usaha.

2. Memperbanyak Istighfar

Memohon ampunlah kepada Allah, sering kali apa yang kita lakukan kita tidak sadar bahwa hal tersebut merupakan dosa, dan dosa merupakan salah satu penghalang rezeki. Akan lebih baiknya lagi bertaubatlah kepada Allah, dan tidak akan pernah mengulanginya lagi dan senantiasa untuk selalu mengingat Allah dimanapun anda berada.

3. Bangun pagi dan berusah tidak tidur lagi

Sesungguhnya waktu pagi itu merupakan waktu yang banyak berkahnya dan sangat baik untuk kesehatan, tidur di pagi hari akan membuat kita merasa malas untuk menjalani segala aktivitas, dan itu bisa berdampak akan terhambatnya rezeki.

4. Berbakti kepada orang tua

Berbahagilah bagi kita yang masih mempunyai kedua orang tua, karena kita masih banyak kesempatan untuk berbakti kepada mereka. Amalan yang satu ini banyak sekali faedahnya, barang siapa yang ingin panjang umur dan dilabcarkan rezekinya maka hendaklah berbakti kepada orang tua.
Minimal selalu mendoakan kepada orang tua setelah usai melaksanakan shalat fardhu, katrena dengan mendoakan orang tua merupakan salah satu sebab rezeki bisa lancar.

5. Rajin silaturrahmi

Rasulullah SAW bersabda :
"Barang siapa yang ingin dilancarkan rezekinya, dan dilambatkan ajalnya makaa hendaklah mereka menghuibungi sanak saudara"
 Silaturahmi di sini maksutnya menyambung tali persaudaraan yang telah putus agar nyambung lagi.
6. Bersedekah

Amalan yang satu ini akan begitu banyak barokahnya. Dengan sedekah akan dapat mengundang rahmat Allah untuk membuka pintu rezeki, sesuai sabda Rasulullah SAW :

"Maka barang siapa yang banyak mengeluarkan sedekah atau pemberian kepada orang lain, niscaya Allah akan memperbanyak juga baginya, dan barang siapa yang menyedikitkan maka Allah juga akan menyedikitkan pula rezekinya" (HR Daruquthy dari sahabat Anas)

7. Istiqomah shalat duha dan tahajud

Ibadah sunah yang satu ini merupakan salah satu kunci kesuksesan hidup kita. Banyak sekali hadis yang menyebutkan fadilah shalat duha dan tahajud untuk memudahkan rezeki kita, dan dengan amalan yang satu ini bisa menjadi dipercayai dan dihormati orang dan doanya akan selalu dikabulkan oleh Allah SWT.

8. Shalat berjamaah 

Amalan yang terakhir ini adalah selalu mengistiqomahkan shalat berjamaah, semua pasti sudah tahu bahwa pahala shalat jamaah itu sendiri 27 kali dari pada shalat sendirian, disamping pahalanya cukup besar shalat jamaah ternyata juga bisa memperlancar rezeki kita.

Itulah bebrapa amalan untuk memperlancar rezeki, namun semunya itu kembali pada diri manusia itu sendiri apakah mau melakukan atau tidak. Semoga bermanfaat

February 18, 2018

Cara Benar Mencuci Benda yang Terkena Najis

Najis dalam syariat adalah segala sesuatu yang dianggap kotor, namun dalam istilah ibadah najis adalah suatu benda yang harus dibersihkan ketika akan melakukan suatu ibadah. Karena kalau pakaian atau badan kita terkena najis maka ibadah kita tidak akan diterima oleh Allah SWT. Najis sendiri ada macam-macamnya, dan tata cara mensucikanya pun berbeda-beda. Mulai dari hadist yang berat samapi hadist yang ringan.

Terkadang banyak diantara kita yang masih awam mengenai tata cara mencuci benda yang terkena najis yang baik dan benar.Najis juga bisa mengakibatkan sah atau tidaknya shalat kita, karena kalau kita shalat membawa najis maka shalat tersebut tidak sah hukumnya dan harus dibersihkan dahlu dan mengulanginya lagi.

Allah subhanahu wata'ala sendiri juga memerintahkan manusia untuk selalu membersihkan najis, sebagaimana yang diterangkan dalam Al-quran surat Al-Mudastir ayat 4 berikut ini :

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

Artinya : "Dan pakainamu sucikanlah." (Qs Al-Mudatsir : 4)

Ulama sepakat bahwasanya najis itu terbagi menjadi 3 macam yaitu :
  •  Najis Mughallazhah (berat)
  •  Najis Mutawassithah (pertengahan)
  •  Najis Mukhaffafah (ringan)
Untuk melakukan kaifiat mencuci benda yang terkena najis, maka baiklah diterangkan bahwa najis terbagi atas tiga bagian :


1. Najis Mughallazhah (berat)

Yaitu anjing. Kaifiat mencuci benda yang kena najis ini, hendaklah dibasuh tujuh kali, satu kali dari padanya hendaklah airnya dicampur dengan tanah. Sabda Rasulullah SAW.
 
طَهُوْرُاِنَاءِاَحَدِكُمْ اِذَاوَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ اَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ اُوْلَاهُنَّ بِالتُّرَابِ. (رواه مسلم)

“Cara mencuci bejana seseorang dari kamu, apabila dijilat anjing hendaklah dibasuh tujuh kali, salah satunya hendaklah dicampur dengan tanah”. (HR. Muslim)

2. Najis Mutawassithah (pertengahan)

Yaitu najis yang lain dari pada kedua macam yang tersebut diatas. Najis pertengahan ini terbagi atas dua bagian :

a. Najis hukmiah, yaitu yang kita yakini adanya tetapi tidak nyata zat, bau, rasa, dan warna, seperti kencing yang sudah lama kering, sehingga sifat-sifatnya telah hilang. Cara mencuci najis ini cukup dengan mengalirkan air diatas benda yang terkena itu.

b. Najis ‘ainiyah, yaitu najis yang masih ada zat, warna, rasa, dan baunya, terkecuali warna atau bau yang sangat sukar menghilangkannya, sifat ini dimaafkan. Cara mencuci najis ini hendaklah dengan menghilangkan zat, rasa, warna, dan baunya.


3. Najis Mukhaffafah (ringan)

Yaitu najis seperti kencing anak laki-laki ynag belum makan makanan selain air sus ibu. Kaifiat mencuci benda yang terkena najis ini memadai dengan memercikan air atas benda itu meskipun tidak mengalir. Adap pun kencing anak perempuan yang belum makan selain air susu ibu, kaifiat mencucinya hendaklah dibasuh sampai air mengalir diatas benda yang kena najis itu, dan hilang zat najis dan sifat-sifatnya, mencuci air kencing orang dewasa.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
 ُغْسَلُ مِنْ بِوْلِ الْجَارِيَّةِ وَيُرَشُ مِنْ بَوْلِ الْغُلَامِ

“Kencing kanak-kanak perempuan dibasuh dan kencing kanak-kanak laki-laki diperciki”. (HR Tirmidzi)

Hadist lain


اِنَّ اُمَّ قَيْسٍ جَاءَتْ بِاِبْنِ لَهَاصَغِيْرٍلَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ فَاَجْلَسَهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِىْ حِجْرهِ فَبَالَ عَلَيْهِ فَدَعَـابِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ- (رواه الشيخان)
 Artinya :
"Sesunggunya ummu Qais telah datang kepada Rasulullah SAW beserta bayi laki-lakinya yang belum makan selain ASI. Sesampainya di depan Rasulullah, neliau dudukan anak itu si pangkuan beliau, kemudian beliau dikencingninya, kemudian beliau meminta air, lantas beliau percikkan air itu pada anak tadi, tetapi beliau tidak membasuh kencing itu" (HR Bukhari Muslim)

Itulah beberapa cara mengenai tata cara benar mencuci benda yang terkena najis, mulai dari najis yang berat sampai najis yang ringan. Semoga bermanfaat